Beranda oase Ketika Pentatonis dan Diatonis Menjadi Alunan Nada Indah

Ketika Pentatonis dan Diatonis Menjadi Alunan Nada Indah

971
0

SIAGAINDONESIA.COM Musik kontemporer tak selalu membosankan. Alunan nada yang berorientasi pada musik karawitan terdengar merdu mengalun sesekali berbalut irama modern layaknya kemegahan sebuah pertunjukan orkestra. Seperti itulah yang tergambar dalam ajang “Parade Musik 2017”.

Penghujung tahun ini, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) menyelenggarakan “Parade Musik 2017” sebagai pionir lahirnya pekan tahunan musik tradisional bercita rasa kontemporer di Gedung Kesenian Cak Durasim, selama dua hari berturut – turut, mulai 15-16 Desember 2017.

Sebanyak delapan grup turut menunjukkan kebolehan mereka, yaitu Art School Percussion, Sa’wiroso, Jiwa Nada, Panjak Hore, Panca Warna, Padepokan Seni Dewi Sekar Taji, Niken Gandini, dan D’Cper Plat M.

Kegiatan tersebut merupakan upaya menumbuhkan semangat kreatifitas bagi para seniman serta semangat berapresiasi bagi masyarakat, khususnya seni musik kontemporer berbasis etnik.

Kepala UPT Taman Budaya Jatim, Sukatno saat membacakan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, Jarianto mengatakan, bahwa event tersebut baru pertama kali digelar di TBJT, meskipun dulu sempat terlaksana.

“Tidak mudah untuk memilih komposer dan menyuguhkan karya musik seperti ini, dulu pernah diagendakan dan baru kali ini kita adakan lagi. Dengan karya musik dalam bentuk parade kontemporer, diharapkan lahir komposer berbasis etnik di Jatim,” terang Sukatno, Jumat (15/12/2017).

Seni musik garapan berbasis etnik perlu didorong ke permukaan sebagai upaya pengembangan dan memodernisasi musik – musik tradisi kita yang sangat kaya akan jenis dan ragamnya. Oleh karena itu, tema “Menguntai Nada Membangun Harmoni dalam Keberagaman”, menampilkan karya para komposer muda dan senior.

“Diharapkan dapat memperkaya khazanah musik di Indonesia sekaligus sebagai momen agenda akhir tahun yang dipersembahkan oleh UPT TBJT,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jatim, Jarianto, menyampaikan optimisme akan perkembangan event ini pada tahun mendatang. Pihaknya akan terus mendorong supaya tidak kalah dengan bidang lain sehingga kurator dapat lebih banyak memilih komposer berkualitas di tahun mendatang. Terutama di akademis bidang karawitan, ternyata mampu berkarya lebih dari apa yang diharapkan di kampus.

“Selama ini orang beranggapan jika pentatonik dan diatonik itu susah ketemu, tetapi ternyata seniman – seniman muda kita yang sekarang mampu mempertemukan keduanya menjadi karya yang luar biasa,” ucap Jarianto. DS