Beranda Headline Revolusi Kreativitas Pemuda Indonesia

Revolusi Kreativitas Pemuda Indonesia

515
0
Soetanto Soepiadhy.

Oleh: Soetanto Soepiadhy 

SIAGAINDONESIA.COM Pemuda di tahun 1928 yang telah membuat perubahan besar itu adalah minoritas, tapi mereka adalah orang-orang kreatif. Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober. Hasil keputusan kongres tersebut ialah menegaskan cita-cita tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia. “Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Seperti inilah kutipan naskah asli hasil Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia yang dikenal dengan istilah Sumpah Pemuda. Kongres yang berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta ini menjadi bukti otentik peran pemuda dalam mengawali semangat persatuan dan perjuangan meraih Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sejarah, kongres ini diinisiasi oleh perkumpulan-perkumpulan pemuda yang berasal dari seluruh Indonesia dengan nama Jong Java, Jong Soematera, Pemuda Indonesia Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batakabond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan Perhimpunan Peladjar Indonesia.

Teladan Pemuda Parikesit

Dalam dunia wayang, Parikesir dikenal sebagai raja terakhir di negara Astina. Ia anak Abimanyu yang dinobatkan menjadi raja, ketika masih bayi, yaitu beberapa saat setalah perang besar Bharatayudha di padang Kurusetra — antara Kurawa dan Pandawa – berahir. Bahkan sebenarnya, ia sudah digariskan menjadi raja oleh dewa pada wakyu ayahnya memperoleh wahyu Cakraningrat.

Saat lakon Parikesit Gobyok diceritakan, raja muda Parikesit meminta mengadakan penangkapan berbagai binatang buas secara hidup-hidup untuk dimasukkan Kebonraja, semacam kebun binatang. Dengan cepat permintaan itu dilaksanakan oleh saudara-saudaranya, dibantu prajurit pilihan di hutan belantara.

Dalam proses penangkapan itu, Sang Raja menjadi tahu persis, bagaimana kepiawaian saudara-saudaranya membekuk binatang buas yang liar dan ganas. Ia mengetahui bagaimana Sasikirana (anak Gatutkaca) dengan trengginas melumpuhkan singa besar. Begitu pula Janurwinda (anak Antareja) yang dengan kekuatan mengagumkan mampu meringkus seekor banteng raksasa. Sementara Songosongo (anak Setyaki) begitu cepat menangkap seekor ular besar.

Saat menyaksikan proses penangkapan binatang buas itu, Parikesit merasa malu dan redah diri, serta kemudian berintrospeksi. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya dalam ulah keprajuritan, ia merasa tidak ada apa-apanya. Ia mengaku pada dirinya sendiri, bahwa ia yang telah sinungga dadi raja (dinobatkan menjadi raja) dan sinunggi dadi aji (dijunjung begitu terhormat) oleh saudara-saudaranya dan rakyat Astina, ternyata tidak berimbang dengan kemampuannya. Ia merasa tidak layak dan tidak pantas memperoleh jabatan raja dan penghormatan yang begitu tinggi.

Tanpa pamit, Parikesit kemudian pergi meninggalkan Astina, masuk ke hutan belantara, dengan maksud menggembleng diri. Dalam pengembaraannya itu, ia bertemu dengan beberapa pandita, raksasa, dan berbagai kendala. Di sana ia mengalami proses jatuh bangun, siksaan, dan cobaan hidup. Namun justru di situlah yang ia cari, agar terjadi pematangan diri, baik secara fisik maupun mental untuk bekal memimpin negara.

Merasa telah memperoleh bekal, Parikesit kemudian kembali ke Astina dengan perasaan mantap dan penuh percaya diri, serta siap mengemban tugas dan kewajiban sebagai seorang raja. Kembalinya raja muda itu, disambut dengan suka cita oleh saudara-saudaranya dan rakyat Astina.

Bonus Demografi

Teladan Parkesit di atas ada kemiripan dengan apa yang harus dilakukan pemuda Indonesia dewasa ini, yakni kreativitas. Saat pemuda yang sering menamakan diri sebagai agent of change akan diuji seberapa kuat kreativitas mereka dalam memaknai Sumpah Pemuda di bidang apa pun. Mereka tertantang untuk mampu mengemas nasionalisme dan sumber daya manusia dalam bingkai kreativitas.

Hal ini bisa dimulai dari langkah kecil yang ada di sekitarnya. Yakni dengan mulai memaksimalkan potensi dan bakat mereka masing-masing dalam bidang apa pun. Misalnya melalui bidang sosial, seni budaya, musik, olahraga, IPTEK, dan berbagai bidang lain yang bisa menjadi media penyaluran kreativitas berbalut nasionalisme serta selaras dengan makna Sumpah Pemuda.

Diketahui bersama, bahwa teknologi telah membuktikan pentingnya memaksimalkan kreativitas pemuda sebagai indikator kualitas suatu bangsa. Dalam konteks perekonomian negara, diproyeksikan industri kreatif akan menjadi tonggak perekonomian yang akan memimpin dan menjadi ladang subur para pemuda di belahan dunia untuk beberapa tahun mendatang. Dengan demikian, sangatlah patut untuk merubah dan memperbaharui wajah kreativitas pemuda sebagai agent of change untuk berkontribusi terhadap bangsa secara maksimal.

Saat ini, Indonesia memiliki modal bonus demografi, di mana jumlah orang dalam usia produktif lebih dominan. Kondisi ini tidak akan menghasilkan apa pun bila tidak cukup banyak orang-orang kreatif di dalamnya.

Bonus demografi (demographic bonus) adalah kondisi yang menguntungkan bila dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan. Bonus demografi ini sesungguhnya suatu kesempatan yang sangat langka. Hal ini terjadi bila suatu masyarakat atau bangsa berhasil mengubah struktur umur penduduknya dari berbentuk piramida menjadi bentuk kubah dan kemudian berubah lagi menjadi bentuk granat.

Dalam perjalanan perubahan itu, akan bisa dihitung berapa banyak penduduk yang berusia produktif (15-59 tahun) dibanding yang berada di usia tidak produktif (0-14 tahun, ditambah 60 tahun ke atas). Bila suatu bangsa struktur umur penduduknya piramida atau granat maka 100 penduduk usia produktif akan disertai dengan 70-80 atau lebih penduduk usia tidak produktif.

Hanya bedanya, kalau pada bentuk piramida yang banyak adalah anak-anak (0-14 tahun ), dalam bentuk granat yang banyak adalah lansia (60 tahun ke atas). Suatu masyarakat dikatakan mengalami bonus demografi bila berada dalam struktur yang berbentuk kubah tadi, yakni 100 penduduk usia produktif hanya diimbangi oleh sekitar 40-50 penduduk usia tidak produktif.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa bonus demografi tetap saja merupakan kesempatan besar untuk mengembalikan semangat kepemudaan di Indonesia. Indonesia saat ini sudah “pikun” lantaran dalam perjalanannya sudah banyak melupakan sejarahnya sendiri. Karena itu, hari Sumpah Pemuda ini bisa menjadi momentum untuk mengembalikan semangat muda Indonesia, seperti pada 1928 silam. Dan momentum ini kita jadikan “Revolusi Kreativitas Pemuda Indonesia”.

Surabaya, 28 Oktober 2018

*) Soetanto Soepiadhy Pakar Hukum Konstitusi Untag Surabaya dan Pendiri “Rumah Dedikasi” Soetanto Soepiadhy