Beranda Headline Merindukan Rendra

Merindukan Rendra

479
0
Soetanto Soepiadhy.

Oleh: Soetanto Soepiadhy

SIAGAINDONESIA.COM Kita semua kangen. Kita semua rindu. Karena di balik sosok yang hebat, memesona dan cemerlang, ia pribadi yang selalu tersenyum dan jenaka. Kita semua kehilangan. Kita semua tergagap. Kita semua sepertinya kehilangan panutan dalam proses pendewasaan kita, berkebudayaan di negeri besar, kaya dan indah ini untuk rentang waktu ke depan.

Kita semua tercekat, lantas baru menyadari betapa pentingnya sosok Rendra setelah kematiannya 9 tahun lalu, utamanya bagi usaha memajukan peradaban negeri yang masih belum berbudaya sempurna ini. Negeri yang belum matang demokrasinya dan negeri yang dipenuhi banyak kegaduhan dan kekerasan. Negeri yang belum selesai dengan dirinya.

Sehingga menjadi kewajiban kita bersama untuk sesegera mungkin merumuskan, bagaimana wajah negeri tercinta ini ke depannya. Apakah negeri ini di tahun 2045—ketika seratus tahun usia kemerdekaannya nanti—Menuju Berkah atau Menuju Musibah? Wallahua’lam …

Tapi seperti kata Rendra: “Cucu–cucuku, zaman macam apa, peradaban macam apa yang akan kami wariskan kepada kalian. Kami adalah angkatan pongah, besar pasak dari tiang. Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan, karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu, dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini. Maka rencana masa depan hanyalah spekulasi keinginan dan angan-angan. Bangsa kita kini seperti dadu terperangkap di dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa tanpa kita bisa melawannya”.

Itulah beberapa keping kalimat dari sajaknya Rendra yang sangat terkenal: Maskumambang. Tampak sekali di situ kekecewaan Rendra terhadap penguasa yang digambarkan sebagai angkatan pongah, besar pasak dari tiang.

Dan kenyataannya, memang bangsa kita kini seperti dadu terperangkap di dalam kaleng hutang yang dikocok-kocok oleh bangsa adi kuasa tanpa kita bisa melawannya. Dengan catatan hutang spektakuler dan mengerikan seperti itu, kita menduga, kalau tidak ada pembenahan dari pemerintah secara cepat, cerdas, dan tidak ada perubahan, maka di 2045 itu negara kita akan menuju musibah.

Prediksi Rendra seperti dalam sajaknya itu, sesungguhnyalah lahir dari pengamatan yang tajam dan olah batinnya yang tinggi. Sebagai budayawan yang telah melewati tiga zaman: Kemerdekaan, Orde Baru dan Reformasi, selayaknya memperoleh perhatian pemerintah secara serius. Bahwa apa yang disampaikannya lewat sajak Maskumambang itu, juga sajak-sajaknya yang lain, yang penuh kritik tajam, seperti: Sebatang Lisong, Orang-Orang Miskin, Orang Kepanasan, dan Pamflet Cinta, adalah untuk kebaikan negeri ini.

Dalam salah satu sajaknya, Rendra berkata: Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi/maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam//Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan//Tidak mengandung perdebatan/Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan//

Di sinilah kecemerlangan Rendra, yang mungkin tidak dimiliki seniman-seniman seangkatannya. Beberapa pertanyaan signifikan muncul: Apa yang membuat Rendra sedemikian cemerlangnya, sehingga sebagai bangsa kita merasa sangat kehilangan dengan kematiannya itu? Seberapa penting posisi mendiang Rendra dalam khazanah seni dan kebudayaan Indonesia modern? Dan banyak lagi pertanyaan dan kesaksian lain-nya yang bisa kita tampilkan di sini.

Yang pasti, semua pertanyaan itu muncul karena kebesaran dan kelapangan hatinya. Itulah yang membuat Rendra memiliki ketajaman berbeda dalam membaca kehidupan, juga dalam membaca Indonesia secara bernas.

Sekarang ini, terbaca jelas, adanya ancaman nyata terhadap kehidupan rakyat kita yang bukan lagi “jaring laba-laba”: yang menghalangi kebebasan menyampaikan pendapat. Tapi sebuah sistim ekonomi yang melegitimasi dominasi asing. Sebuah kediktatoran baru yang ditegakkan, yakni kekuasaan segelintir pemodal atas nasib mayoritas manusia.

Rendra sadar betul, bahwa penguasa baru, yang neo-liberal, tidak kalah jahat dibanding kekuasaan orde baru, sebelumnya. Untuk itu, dia kembali bergerak mengobarkan “nasionalisme dan kemandirian ekonomi”, sebagai jalan mengakhiri penindasan neoliberal.

Sekali lagi, di sinilah kehebatan Rendra, yang mungkin tidak dimiliki seniman-seniman seangkatannya. Para seniman salon yang memuja-muja “kebebasan bereskpresi” yang semu. Sejak awal ia menyadari, bahwa karyanya tidak bisa terlepas dari politik, dan tentu saja sebuah keberpihakan yang butuh keberanian. Dan ia sempat mengatakan: “Hanya orang pemberani yang bernasib baik”.

Rendra sangat piawai mengenali keadaan negerinya. Mampu membaca Indonesia dengan pas. Mungkin dia adalah satu-satunya seniman yang bisa mempergunakan kepiawaiannya ini dengan sangat baik. Karena ini pula, dia tidak pernah berhenti untuk berjuang terhadap kungkungan keadaan. Tidak heran, kalau A Teeuw dalam kata pengantar buku potret pembangunan, sampai menyebut Rendra sebagai pemberontak, seseorang yang selalu sibuk melonggarkan kungkungan dan keadaan.

Kita rindu dengan sosok seperti itu. Itulah sebabnya mengapa kita merindukan sosok Rendra, karena ia memiliki kelebihan: sebagai sosok yang unik, khas, total, otentik dan yang pasti tidak akan pernah tergantikan. Karya dan jasanya adalah monumen yang tak hanya dihormati di dalam negeri tapi juga di luar negeri.

Tulisan ini sengaja saya hadirkan untuk menyambut hari kelahiran Mas Willy, yang pada 7 November 2018 ini, adalah hari lahirnya yang ke 83. Ia lahir pada 1935 dan meninggal pada 2009.

Pastinya, sudah lama ada sebuah kebanggaan di hati saya paling dalam, yaitu sebuah kesaksian, sebuah justifikasi, bahwa Rendra orang hebat! Dan sepantasnyalah bagi kita para sahabatnya, Rendra layak kita angkat menjadi Pahlawan Nasional. Tak ada urusan dengan pemerintah, mau ikut mengakui atau tidak! No reken!

*) Penulis adalah Sahabat Rendra, Budayawan dan Pendiri “Rumah Dedikasi” Soetanto Soepiadhy