Beranda featured 212, Pertanda Indonesia yang Membebaskan Al Aqsa

212, Pertanda Indonesia yang Membebaskan Al Aqsa

935
0
Reuni 212.

SIAGAINDONESIA.COM Seorang ulama dari Palestina menghadiri Reuni 212. Namanya Taisir Hamdan. Ia menyampaikan pesan untuk peserta Reuni 212. Melalui penerjemah. Katanya, ia siap membebaskan Al Quds, Masjidil Aqsa dan Palestina dari Israel.

Hamdan mengaku telah dipenjara selama lebih kurang 20 tahun oleh Israel. Saat mendekam dalam sel, ia berhasil meraih gelar S-1-nya.

“Ketika 20 tahun kami dijebloskan dalam penjara, kami dibebaskan ketika ada perjanjian penukaran tahanan. Ketika itu beliau bersama 500 tahanan Palestina di Israel dan seorang tentara Israel yang diculik, beliau di antaranya mendapat gelar S-1 dalam penjara,” katanya.

Masih melalui penerjemah, Hamdan menunggu kontribusi peserta reuni 212. Peserta ditunggu berkontribusi untuk pembebasan Al Aqsa. Menurutnya, yang nantinya menjadi pembebas Al Aqsa adalah bangsa Indonesia.

“Palestina dan Al Aqsa menunggu kalian untuk membebaskan Al Aqsa. Sesungguhnya Palestina dan Al Aqsa menunggu keterlibatan kalian untuk membebaskan Al Aqsa,” tutur Hamdan.

Kata-kata Hamdan bahwa Indonesia yang dapat membebaskan Al Quds bukan bualan. Soal siapa pembebas Palestina, hal ini pernah disampaikan Rasulullah yang menyatakan, bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka.

Wakil Ketua Rabithah Ulama Palestina, Syaikh Dr. Abu Bakr Al Awawidah mengatakan, bangsa muslim dari Timur adalah Indonesia.

Dulu para ulama mengira daerah Timur itu adalah Khurasan, dan Daulah Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah Umawiyah.

Tapi dunia Islam ternyata membentang dari Maghrib; dari Maroko sampai Merauke. “Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam,” katanya Syaikh Al Awawidah.

Menurut dia, tugas umat muslim di tanah air hanya mencukupi syarat syarat untuk membebaskan Al Quds. Dan, ia melihat tanda-tanda itu sudah muncul di Indonesia.

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaalah.”

Bersatunya umat Muslim Tanah Air dalam Reuni 212, bisa menjadi tanda-tanda kejayaan Islam. Gerakan ini kian membesar. Jutaan umat hadir. Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi menyuarakan kebenaran Islam.

Tuduhan umat Islam radikal, intoleran, anti Pancasila, teroris, dilawan dalam senyuman dan tangisan di Reuni 212. Umat datang dan berbicara dengan perilaku di 212. Mereka bukan perusak negeri, dan rumput pun tidak ada yang dirusak.

212 bahkan menginspirasi negeri tetangga Malaysia dengan membuat gerakan serupa bernama daulat 812. Tujuan 212 dan 812, sama-sama menggelorakan semangat persatuan, semangat ukhuwah Islamiyah, sama-sama menjunjungi tinggi agama, bangsa dan tanah air. Inilah tanda-tanda kejayaan Islam, seperti kata Syaikh Al Awawidah. Dan, Indonesia pelopor kebangkitan itu.

Memimpin penzhahiran agama Allah

Sebelumnya ada berbagai telaah yang menyatakan bahwa persoalan Palestina takkan selesai sampai bangsa Arab bersatu. Bagi Syaikh Al Awawidah, tidaklah ditafsirkan demikian.

“Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

Syaikh Al Awawidah kemudian membeberkan, pada kurun awal, Allah memang memilih Bangsa Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allah pun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.

Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ulama dan cendikiawannya.

Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia. Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi. Puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.

Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka orang-orang Mamluk.

Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.

Ketika Daulah Aliyah Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin kejayaan Islam ini.

Ya, sebuah fakta sejarah menerangkan, bahwa pembebas Al Quds dalam sejarah kaum Muslimin tidak pernah dilakukan oleh orang-orang di dalam Palestina.

Umar bin Khattab, Khalifah pembebas Palestina, adalah bagian dari Bani Adi, orang Quraisy yang memimpin pasukan Muslimin bangsa Arab membebaskan gerbang Palestina, dan beliau bukan orang Palestina.

Nuruddin Zanki, inisiator pembebas Al Quds pasca dijajah pasukan Salib, bukanlah orang Arab, melainkan keturunan Bangsa Turki, lalu mengadakan agenda jihad yang fenomenal sehingga memutus rantai kekuasaan Penjajah Salib di beberapa wilayah penting di Syam.

Shalahuddin Al-Ayyubi, pembebas Al-Quds yang memenangkan Pertempuran Hattin 1187 Masehi bukanlah orang Palestina, bukan pula orang Arab. Beliau lahir di Benteng Tikrit di Iraq, keturunan Suku Kurdi alias Persia. Meneruskan perjuangan Nuruddin Zanki, beliau berhasil membuka kembali gerbang Al-Quds setelah 88 tahun di bawah jajahan Pasukan Salib sejak 1099 M.

“(Hingga saat ini) sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek. Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini,” terang Syaikh Al Awawidah.

Apa yang dimaksud Rasulullah, bahwa pembawa kejayaan akhir zaman, pemimpin umat dan pembebas Al Quds akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka, bisa jadi itu adalah Indonesia.

Negeri Para Nabi

Dukungan Presiden Republik Indonesia pertama, Ir Soekarno, terhadap kemerdekaan Palestina tak terbantahkan dan selalu konsisten. Bukan sekadar lewat kata-kata, tapi juga dibuktikan melalui tindakan nyata. Meskipun Bung Karno belum pernah menjejakkan kaki di tanah Palestina, namun jejak dukungan Sang Proklamator Indonesia untuk kemerdekaan Palestina telah terpatri dalam catatan sejarah.

Dukungan pemerintah Indonesia, yang digaungkan Bung Karno, terhadap kemerdekaan Palestina tak lepas dari sokongan yang diberikan pemerintah dan rakyat Palestina terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bahkan setahun sebelum Indonesia merdeka, pada 6 September 1944 mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Setelah merdeka, saat Indonesia membutuhkan pengakuan sebagai negara berdaulat, lagi-lagi rakyat Palestina bergerak, mendorong Mesir mengakui Indonesia. Pengakuan kedaualatan dari Mesir dan Palestina pada 1947 itu merupakan buah diplomasi H Agus Salim melalui jaringan Ikhwanul Muslimin, yang berbasis di Palestina.

Setelah merdeka, Indonesia di bawah Presiden Sukarno juga mendukung rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan Israel. Indonesia tak pernah mau mengakui negara Israel yang diproklamasikan oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena merampas tanah rakyat Palestina. Itulah sebabnya sejak zaman Bung Karno Indonesia tak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Dukungan Bung Karno terhadap Palestina ditunjukkan saat mulai menggagas Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1953. Indonesia dan Pakistan menolak keras diikutsertakannya Israel dalam konferensi tersebut.

Israel yang didirikan atas bantuan Inggris dinilai bentuk nyata kolonialisme baru yang mengancam perdamaian dunia. Dalam pidato pembukaan KAA, Soekarno secara lantang memberikan dukungan kepada negara-negara yang masih mengalami penjajahan.

“Kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya,” kata Soekarno.

Bagi Indonesia khususnya umat Islam di dunia, masalah Palestina bukan sekedar politik global. Palestina adalah sepotong besar aqidah kita. Mengumandangkan perjuangan membebaskannya, berarti menyuarakan kesejatian aqidah, dan keutuhan Islam. Di sana negeri para Nabi, yang hadir hidup, berjuang, dan wafat di tanah yang aura keberkahannya begitu kuat. Jika Berjaya Palestina, berjayalah Kaum Muslimin. Jika terhinakan Palestina, maka terhinakanlah kaum muslimin.

Soekarno paham benar soal Palestina, selain dikenal negerinya para nabi, di situ ada perjuangan panjang para kekasih Allah. Sebuah negeri yang dirahmati Allah. Tanah Palestina adalah tanah kiblat pertama umat Islam, tanah wahyu dan kenabian. Di dalamnya ada masjid Al-Aqsha sebagai tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Rasulullah untuk dikunjungi.

Palestina juga adalah tanah Ibu kota Khilafah. Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah,  lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibu kotanya keluar dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir).

Rasulullah mendeskripsikan pentingnya tanah Syam yang di sana ada Palestina, Libanon, Suriah, Yordania dan sebagian Sinai dalam hadits-hadits shahih. Hingga para pejuang tidak kehabisan ide dan tenaga, bahkan menjadi pasukan hebat yang membuat penjajah zionis kewalahan?

Tanah Syam yang hari ini terdiri dari Palestina, Suriah, Libanon dan Yordania begitu penting bagi Nabi, juga menempati posisi khusus di hadapan Allah. Itulah mengapa keberkahannya sangat nyata. Di situlah pengaruh geopolitik sangat kuat. Apa yang dituntut para founding father kita, Indonesia akan berdiri di samping Palestina sangatlah nyata. Dan, bila Allah memberi petunjuk bagi bangsa Indonesia menjadi memimpin pembebasan Palestina dan Al Quds, maka tanda-tanda itu semakin nyata.

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” kata Soekarno. Wallahua’lam.nya