Beranda Kolom Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0

Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0

2819
0
Soetanto Soephiadhy.

Oleh: Soetanto Soephiadhy

SIAGAINDONESIA.COM Bagaimana cara kita menemukan pahlawan masa kini? Ke mana kita mencari pahlawan yang menjawab tantangan masa kini, dan mengangkat Indonesia sebagai bangsa yang beradab? Harus ditemukan dalam jiwa anak-anak Indonesia. Dan diyakini, di sinilah tumpuan harapan bangsa. Mereka, anak-anak, adalah heroes in the making. Mereka sedang dalam perjalanannya untuk menjadi jawaban bagi tantangan bagi generasinya. Anak-anak Indonesia masa kini inilah sebagai generasi milenial.

Generasi milenial punya tantangan menyambut Revolusi Industri 4.0 dan bonus demografi tahun 2030. Era Revolusi Industri keempat sebenarnya sedang Indonesia tapaki yang ditandai dengan digitalisasi. Dari sistem belanja daring sampai pembayaran uang elektronik (e-money).

Bonus demografi (demographic bonus) adalah kondisi yang menguntungkan bila dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan. Bonus demografi ini sesungguhnya suatu kesempatan yang sangat langka. Hal ini terjadi bila suatu masyarakat atau bangsa berhasil mengubah struktur umur penduduknya dari berbentuk piramida menjadi bentuk kubah dan kemudian berubah lagi menjadi bentuk granat. Dalam perjalanan perubahan itu, akan bisa dihitung berapa banyak penduduk yang berusia produktif (15-59 tahun) dibanding yang berada di usia tidak produktif (0-14 tahun, ditambah 60 tahun ke atas). Bila suatu bangsa struktur umur penduduknya piramida atau granat maka 100 penduduk usia produktif akan disertai dengan 70-80 atau lebih penduduk usia tidak produktif. Hanya bedanya, kalau pada bentuk piramida yang banyak adalah anak-anak (0-14 tahun ), dalam bentuk granat yang banyak adalah lansia (60 tahun ke atas). Suatu masyarakat dikatakan mengalami bonus demografi bila berada dalam struktur yang berbentuk kubah tadi, yakni 100 penduduk usia produktif hanya diimbangi oleh sekitar 40-50 penduduk usia tidak produktif.

Dari kajian beberapa peneliti, generasi milenial cenderung unik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Keunikannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya pop/musik yang sangat kental. Karenanya, milenial seakan tidak bisa lepas dari internet, hiburan (entertainment), serta traveling. Milenial — yang sangat kreatif dan percaya diri — lebih suka bekerja keras dalam bidang usaha yang digeluti, untuk kemudian dinikmati dengan perjalanan panjang dan pengalaman. (Munawir Aziz, 2018).

Komposisi penduduk Indonesia, 90 juta milenial (20-34 tahun), dengan total fertility rate (angka kelahiran) 2,28 (per 1.000 orang per tahun), dan angka kematian anak 24 (per 1.000 kelahiran), meski angka harapan lama sekolah masih 12,72 tahun. Artinya, generasi milenial seharusnya memiliki peran penting untuk masa depan negeri ini. Wajah masa depan Indonesia tergantung dari visi, interaksi, dan nilai-nilai yang diserap generasi milenial negeri ini.

Untuk itulah, Making Indonesia 4.0 mencerminkan kesungguhan negara sedang beradaptasi dengan ragam perubahan besar pada era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini. Kewajiban negara pula untuk menyiapkan generasi ini menjadi angkatan kerja yang kompetitif dan produktif sepanjang era Revolusi Industri 4.0 itu.

 Revolusi Industri 4.0

Adalah Klaus Schwab, ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0. Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution” (2017), Schawab menjelaskan revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental.  Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru di antaranya (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D. (Slamet Rosyadi, 2018).

Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke-18. Menurut Schwab, dunia mengalami empat revolusi industri. Revolusi Industri 1.0 ditandai dengan penemuan mesin uap untuk mendukung mesin produksi, kereta api dan kapal layar. Berbagai peralatan kerja yang semula bergantung pada tenaga manusia dan hewan kemudian digantikan dengan tenaga mesin uap. Dampaknya, produksi dapat dilipatgandakan dan didistribusikan ke berbagai wilayah secara lebih masif. Namun demikian, revolusi industri ini juga menimbulkan dampak negatif dalam bentuk pengangguran masal.

Ditemukannya enerji listrik dan konsep pembagian tenaga kerja untuk menghasilkan produksi dalam jumlah besar pada awal abad 19 telah menandai lahirnya Revolusi Industri 2.0. Enerji listrik mendorong para imuwan untuk menemukan berbagai teknologi lainnya seperti lampu, mesin telegraf, dan teknologi ban berjalan. Puncaknya, diperoleh efesiensi produksi hingga 300 persen.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada awal abad 20 telah melahirkan teknologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis. Itulah Revolusi Industri 3.0. Mesin industri tidak lagi dikendalikan oleh tenaga manusia tetapi menggunakan Programmable Logic Controller (PLC) atau sistem otomatisasi berbasis komputer. Dampaknya, biaya produksi menjadi semakin murah. Teknologi informasi juga semakin maju di antaranya teknologi kamera yang terintegrasi dengan mobile phone dan semakin berkembangnya industri kreatif di dunia musik dengan ditemukannya musik digital.

Revolusi industri mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia. Revolusi industri terkini atau generasi keempat mendorong sistem otomatisasi di dalam semua proses aktivitas. Teknologi internet yang semakin masif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi perdagangan dan transportasi secara online. Munculnya bisnis transportasi online seperti Gojek, Uber dan Grab menunjukkan integrasi aktivitas manusia dengan teknologi informasi dan ekonomi menjadi semakin meningkat. Berkembangnya teknologi autonomous vehicle (mobil tanpa supir), drone, aplikasi media sosial, bioteknologi dan nanoteknologi semakin menegaskan bahwa dunia dan kehidupan manusia telah berubah secara fundamental.

Generasi Milenial dan Revolusi Industri 4.0

Dunia yang telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 nampaknya bukan lagi isapan jempol belaka. Berbagai teknologi yang menjadi tanda dimulainya Revolusi Industri 4.0, sudah mulai diterapkan di berbagai lini. Salah satunya artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang semakin berkembang saat ini. Bukan hanya untuk industri, AI juga dikembangkan untuk mempermudah kehidupan manusia di aspek lainnya. (Anissa Dea Widiarini, 2018).

Selain AI, terdapat empat teknologi lain yang menjadi penopang industri 4.0, yakni internet of things, human-machine interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi percetakan tiga dimensi (3D). Kelima teknologi tersebut menjadi tanda bahwa di era ini industri akan memasuki dunia virtual serta penggunaan mesin-mesin automasi yang terintegrasi dengan jaringan internet. Efek dari penerapan kelima teknologi ini adalah meningkatnya efisiensi produksi dan terjadi peningkatan produktivitas serta daya saing.

Sebagai salah satu sumber daya manusia Indonesia, generasi milenial pun tak luput dari perubahan yang dibawa Revolusi Industri 4.0. Generasi ini harus bersiap dengan kondisi tersebut karena masa depan industri dan manufaktur Indonesia berada di tangan mereka. Tak hanya pintar dan menguasai teori, mereka harus memiliki kemampuan belajar (learning ability) tinggi untuk mengikuti perubahan yang berlangsung cepat. Untuk bisa memiliki tingkat kemampuan belajar yang tinggi mereka harus melatihnya sejak dini saat mulai masuk kuliah. Dalam hal ini, lembaga pendidikanlah yang memegang peran penting untuk membuat generasi milenial memiliki kemampuan belajar yang tinggi.

*) Soetanto Soepiadhy adalah Pakar Hukum Konstitusi Untag Surabaya dan Pendiri “Rumah Dedikasi” Soetanto Soepiadhy