Beranda Headline Pemilu: Politik Pencitraan dalam Balutan Demokrasi

Pemilu: Politik Pencitraan dalam Balutan Demokrasi

789
0
Soetanto Soephiadhy.

Oleh: Soetanto Soephiadhy

SIAGAINDONESIA.COM Pemilu 2019 sudah di depan mata. Baliho bergambar para calon legislatif (caleg) sudah mulai bertebaran di sudut-sudut perempatan. Ada baliho salah seorang caleg bertuliskan “Siap Memberantas Korupsi”. Ada yang “Menjadi Pemimpin yang Amanah”, dan macam-macamlah. Pokoknya itulah etalase, yang berharap para pengunjung akan memilih, dan berharap untuk dibeli. Di etalase itulah para caleg disodorkan. Rakyat nantinya akan membeli isi etalase di tempat pemungutan suara (TPS).

Dalam politik (pemilu), pencitraan selalu identik dengan show off, pamer, menonjolkan diri maupun partai dengan mengedepankan ideologi, visi, berbagai macam perubahan hingga simbol-simbol tertentu yang akan memudahkan massa pemilih dalam mengingat partai maupun calon legislatifnya. Politik pencitraan intinya ingin membuat orang lain (pemilih) terpesona, kagum, memunculkan rasa ingin tahu, memunculkan kedekatan yang memang sengaja dibangun demi popularitas. Selama ini apabila berbicara tentang pencitraan mau tidak mau selalu kita identikan dengan media, iklan televisi, radio. Salah satu ciri monopoli informasi adalah sifat otoritarianisme.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghormati hak atas informasi. Hak atas informasi itu dijamin dalam Pasal 28F Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), yakni jaminan hak informasi sesuai dangan asas demokrasi. Karena itu, jika ada penguasa yang merasa paling menguasai informasi, berarti penguasa itu otoriter.

Panembahan Reso

Lakon Panembahan Reso (1988) adalah salah satu karya Rendra, berbentuk drama, yang mencoba mengangkat perebutan kekuasaan (suksesi) sebagai persoalan utamanya. Kekuasaan dalam Panembahan Reso dapat dikatakan kekuasaan yang khas karena, di samping mengangkat kekuasaan ala Jawa dan mengambil latar kerajaan, juga menyajikan tegangan dualistik pemikiran: tegangan antara kebenaran duniawi dan kebenaran nurani.

Negara kleptokrasi! Dalam hubungannya dengan masa pemerintahan pada saat itu, menggambarkan tentang kondisi suatu negara yang kacau karena kondisi rakyatnya yang semakin miskin, kelaparan. Tidak hanya itu struktur pemerintahannya pun kacau, karena banyaknya pejabat yang korup, tidak mementingkan kepentingan rakyatnya.

Dalam Panembahan Reso, kerajaan sedang dalam krisis kejujuran, krisis amanah, krisis orang-orang jujur, pemimpin yang adil dan berpihak pada rakyat sulit ditemukan. Orang-orang yang berkuasa lebih mementingkan urusan pribadi dan golongannya dibanding mengurus rakyatnya.

Naskah tentang kenegaraan, yang menggambarkan pemerintahan yang korup, menghalalkan semua cara. Seorang raja tua yang serakah dalam hal kekuasaan, dan tidak mau turun dari takhtanya. Penindasan terhadap rakyatnya. Kekuasaan yang dapat menghilangkan rasa bijaksana dalam diri seseorang,  dan dapat menggelapkan mata dengan sekejab, karena dengan sihir kekuasaan seseorang bisa berbuat apa saja sesuai kehendaknya.

Penguasa seharusnya bertanggung jawab terhadap tujuan negara, khususnya memajukan kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin harus mampu menjaga kredibilitas dan integritasnya, sehingga ia menjadi panutan bagi rakyatnya. Pemimpin harus mempunyai sifat bijaksana, tanggung jawab, tegas, disiplin, agar pemerintahan dapat berjalan dengan baik dan teratur. Pemerintahan yang mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektivitas, supremasi hukum, dan dapat diterima seluruh masyarakat.

Tak cukup bagi tokoh Panembahan Reso hanya menjadi orang kepercayaan Sang Raja Tua, ia ingin berkuasa, menggulingkan raja, memiliki tahta dan merebut istri raja. Tahta keemasan yang dilihatnya dalam mimpinya terapung di telaga darah!

Dengan menyewa seorang pembunuh bayaran yang cantik dan memikat, Siti Asasin, Panembahan Reso berhasil menyingkirkan istrinya sendiri yang sangat mencitainya. Menyusul putra-putra raja dari istri pertamanya, dan bahkan ia berhasil membunuh Sang Raja Tua dengan racun. Sehingga istri ketiga raja, Ratu Dara, yang ambisius dan penuh gairah cinta, serta kekuasaan, jatuh juga ke pelukan.

Diakhir cerita, Ratu Kenari muncul dalam busana minim, rambut acak- acakan, mata nanar, tangan menghunus keris. Ketika Panembahan Reso hendak menyadarkannya, tiba-tiba keris di tangan Ratu Kenari dihujamkan ke tubuh Panembahan Reso, kemudian menyusul lambung Arya Sakti. Sebelum akhirnya ia membunuh diri dengan keris yang sama. “Tahta berlumur darah”.

Nah, inti lakon Panembahan Reso, berkisar pada tokoh yang menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi pribadinya. Dalam hal Machiavellian (walau pun tidak semuanya), sama seperti baliho bergambar para caleg, yang sudah mulai bertebaran di mana-mana, dengan bermacam bentuk dan narasinya.

Pemimpin Kelas Salon

Ilmu manipulatif itu bisa membuat seorang tokoh otoriter dan rasis menjadi seolah begitu demokratis dan peduli pada kemanusiaan. Tokoh yang tak tahu apa-apa tentang dunia anak seolah begitu protektif terhadap anak-anak dan tokoh yang berwatak sektarian, fanatik, dan memuja kekerasan, bisa ”dicitrakan” sebagai orang toleran, inklusif, dan akomodatif terhadap pluralitas kebudayaan. (Mohamad Sobary, 2008).

Lebih lanjut dikatakan, kepalsuan demi kepalsuan perilaku para tokoh mendominasi kita setiap detik, setiap menit, setiap jam dalam hari-hari yang terpolusi iklan yang mengumbar kata-kata normatif, klise, dan bohong, disertai foto orang-orang narsistik yang dipajang di mana-mana, tetapi tak memberi inspirasi apa-apa.

Kenapa rakyat mau memilih boneka, patung atau berhala untuk menjadi pemimpinnya? Karena partai politik memperkenalkan calonnya dengan mendustakan kenyataannya. Calon pemimpin ditampilkan dengan pencitraan, pembohongan, di make-up sedemikian rupa, dibesar-besarkan, dibaik-baikkan, diindah-indahkan, dihebat-hebatkan. (MH. A’inun Najib, 2018).

Selanjutnya dikatakan, memang bukan politik, melainkan perdagangan. Bukan demokrasi, melainkan perjudian. Memang bukan kepemimpinan, tapi talbis. Kalau dipaksakan untuk disebut demokrasi, ya itu namanya Demokrasi Talbis. Menurut A’inun Najib, talbis adalah Iblis menemui Adam di sorga dengan kostum dan make up Malaikat, sehingga Adam menyangka ia adalah Malaikat. Maka Adam tertipu. Rakyat adalah korban talbis di berbagai lapisan. Mereka dibohongi sehingga menyangka bahwa yang dipilihnya adalah pemimpin, padahal boneka. Boneka yang diberhalakan melalui pencitraan.

Akhirnya, penyair besar Mohammad Iqbal, pujangga muslim dari Pakistan, menyatakan: Pikirkanlah tanah airmu/Oh manusia yang bodoh/Di langit telah bergantungan pola-pola kehancuran/Lihatlah apa yang sedang terjadi/Yang akan terjadi/Dan yang terjadi pada abad-abad lampau/Gagal memahami ini binasa engkau/Oh rakyat Hindustan/Dan riwayatmu pun tidak akan bertahan/Dalam prahara sejarah dunia//

*) Soetanto Soepiadhy Pakar Hukum Konstitusi Untag Surabaya dan Pendiri “Rumah Dedikasi” Soetanto Soepiadhy