Beranda Headline Pathet  

Pathet  

470
0

Oleh: Soetanto Soepiadhy 

Widodo Basuki dalam Pameran Lukisan Tunggal Ke 3 mengambil judul “Wayang Wewayanganing Urip“ memberi maksud untuk membuka kembali ingatan catatan sejarah kebudayan dengan menampilkan lukisan wayang dalam format yang baru. Terkait dengan pameran ini, maka sangatlah relevan di mana Widodo Basuki mengambil catatan sejarah kebudayaan yang ditampilkan dalam format kekinian, cara baru dan media baru.

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB)  telah menetapkan, wayang kulit adalah warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Wayang kulit sebagai warisan leluhur kita yang telah diakui dunia sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Seorang bijak mengatakan, bahwa wayang is more than just wayang, more than just plays. Ia adalah metafora kehidupan, wewayanganing urip. Ia mentransenden, merupakan cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta. Sebagai contoh, pemikiran yang mempelajari sifat Tuhan yang dianggap begitu jauh, berjarak, dan mustahil dipahami manusia.

Pathet Nem

Pathet dalam wayang mempunyai peran sangat penting. Pergelaran wayang dibagi menjadi tiga pathet, yaitu Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura. Tentang pathet ini dapat dikemukakan dua pandangan, yaitu pathet dalam pagelaran wayang kulit purwa gaya Surakarta dan gaya Yogjakarta yang pada prinsipnya sama, tetapi ada perbedaan yang justru dapat memperkaya seni pewayangan dan pedalangan.

Makna Pathet Nem tidak hanya tersirat dalam pemaknaan kata nem yang bersinonim nem/mudha, namun termasuk juga dalam penyusunan musikalitas gending. Rasa gending sangat dinamis sebagaimana karakter remaja. Persoalan pathet nem itulah tergambar pada Pameran Lukisan Widodo Basuki sejak pameran pertamanya hingga Pameran Lukisan Tunggal Ke 3 “Wayang Wewayanganing Urip”.

Pathet Sanga

Secara musikalisasi, gending-gending dalam Pathet Sanga bernuansa sepi dan tenang stabil. Dalam pakeliran digunakan untuk mengiringi seorang kesatria utama menghadap Brahmana atau pendeta, merupakan gambaran bahwa pathet ini adalah awal kesadaran manusia mencapai pencerahan hidup pada apa yang disebut sepuh atau tua sebagaimana diuraikan oleh Sri Mangkunegara IV dalam Wedhatama: “Sepuh iku sepi hawa awas loroning atunggal.”

Pathet Sanga merupakan simbol manusia yang telah mencapai kesempurnaan tertinggi, bahwa sebenarnya hidup itu adalah sebagai wujud upaya manusia mendekatkan diri pada Tuhan. Kesadaran tersebut menghasilkan hati yang ikhlas melaksanakan darma dengan landasan taqwa. Apapun dan siapapun akan kembali pada Tuhan Yang Maha Esa.

Rendra pernah mengatakan manjing ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi, “masuk ke dalam kontekstualitas, meraih kehendak Allah.” Masuk ke dalam kontekstualitas itu, menurut Rendra, bekalnya adalah rewes dan sih katresnan. Rewes adalah kepedulian. Sih katresnan adalah cinta kasih (karisma). Maka seorang yang kreatif harus selalu berusaha, agar ia selalu mempunyai kepedulian terhadap lingkungan yang mengelilingi dirinya, dari saat ke saat. Mulai dari lingkungan yang terdekat: baju-bajunya, meja tulisnya, lemarinya, negaranya, segenap flora dan faunanya, tetangganya, bangsanya, bumi, langit, samudra, alam semesta raya.

Dalam kesempatan yang sama, Rendra juga bertutur, bahwa disiplin manjing ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi menjadi disiplin hidupnya, berkarya dalam menulis puisi. Sehingga, pada hakikatnya, puisi-puisinya adalah yoga bahasa atau dalam bahasa Rendra: Menciptakan ruang ibadah bagi dirinya.

Nah, wayang itu ya wayang. Maksudnya, seperti ucapan Gertrude Stein: “A rose is a rose, is a rose.” Dalam “Wayang Wewayanganing Urip”, Widodo Basuki dituntut untuk tidak kurang dan tidak lebih. Untuk itulah,  baik “deformasi” maupun “stilasi” sebenarnya tujuannya sama yaitu untuk menciptakan suatu karya yang lebih menarik dari pada objek aslinya.

Memang, suatu karya seni lahir, berawal dari pengamatan seniman terhadap lingkungan sekitar serta adanya proses cipta, rasa, dan karsa yang bertolak dari sebuah rangsangan dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar. Baik rangsangan visual maupun gejala batin yang dirasakan merupakan gejolak ekspresi kreativitas untuk divisualisasikan ke dalam wujud karya seni.

Proses penciptaan sebuah karya seni berlangsung setelah adanya kegelisahan pada diri yang timbul dari pengalaman pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Kemudian lahir pemahaman baik secara rasional (pikiran) maupun secara emosional (rasa).

Proses kreatif setiap seniman memiliki ciri dan karakter yang berbeda satu sama lain. Meskipun ide yang menjadi dasar penciptaan sama, namun karya yang diciptakan belum tentu sama, karena tiap seniman memiliki pengalaman batin dan pengalaman estetis tersendiri. Dalam proses penciptaan karya seni lukis diharapkan mampu menjadi media untuk memvisualisasikan dan mengkomunikasikan segenap kegelisahan-kegelisahan yang dirasakan. Baik itu mengenai diri maupun lingkungan sekitar (sosial, politik dan budaya) kedalam bentuk cerita-cerita subyektif yang terinspirasi oleh karakter wayang.

Pathet Manyura

Perlu dikemukakan di sini tentang Suluk Pathet Manyura, sebagai suatu konklusi “Wayang Wewayanganing Urip” Widodo Basuki.

Mèh rahina sêmu bang Hyang Aruna,
kadi nétrané ogha rapuh ,
sabdané kukila ring kanigara,
sakêtêr kêkidungan ningkung,
lir wuwusing winipanca,
papêtaking ayam wana ring pagagan,
mêrak anguwuh,
brêmara ngrabasa kusuma ring parahasyan arum.

Menjelang fajar bersirat kemerahan Sang Surya,
seperti mata yang sedang sakit,
ocehan burung engkuk di pohon kanigara,
bagai rintihan -orang- yg sedang jatuh cinta,
seperti suara seruling winipanca (suling India),
kokok ayam hutan di ladang,
-suara- merak mengundang,
kumbang merusak (menyetubuhi) bunga di kamar tidur harum (indah).

Dalam segi bahasa, kata “Manyura” sebagai sinonim dari burung merak yang mangandung makna, bahwa masa tua itu adalah masa-masa wana prastha, artinya waktu manusia belajar meninggalkan kenikmatan duniawi, kemudian marak marang Gusti.

Last but not least¸ berharap kreativitas Widodo Basuki sampai pada Manyura!

Sambutan Pameran Lukisan Widodo Basuki-Surabaya, 29 Desember 2018-Galeri Prabangkara UPT Taman Budaya Jatim-Jalan Gentengkali 85 Surabaya

*) Soetanto Soepiadhy adalah Pakar Hukum Konstitusi Untag Surabaya dan Pendiri “Rumah Dedikasi” Soetanto Soepiadhy