Beranda budaya Mengulik Pemimpin Nusantara Pilpres 2019

Mengulik Pemimpin Nusantara Pilpres 2019

745
0

SIAGAINDONESIA.COM Perjalanan bangsa Indonesia selama ratusan tahun sejak jaman kuna sampai reformasi tak lepas dari peran serta para leluhur.

Meski modernisasi jaman terus berlanjut, akan tetapi secara umum masyarakat Nusantara masih tetap mempercayai konsep astrologi jawa.

Baik melalui petung pawukon maupun ramalan para pujangga agung seperti Jayabaya dan Ronggowarsito.

Menilik sejarah kepemimpin Nusantara di kutip dari serat serat kuna sangat jelas diterangkan, seorang pemimpin nusantara tidak bisa lepas dari trah para leluhur gung binantara.

Bahkan di era kemerdekaan pasca 45, hanya Soekarno yang mampu membawa perubahan dan kebebasan Nusantara menjadi negara bermartabat yang merdeka kedalam satu wadah Bhinneka Tunggal Ika, konsep kesatuan era Majapahit yang di usung Bung Karno untuk menyatukan Nusantara di masa depan

Suksesi Nusantara selama ratusan tahun selalu di warnai dengan pergolakan politik. Peralihan kepemimpin pasca Soekarno jatuh hingga reformasi tak lebih hanya untuk mengisi kekosongan kekuasaan.

Hanya saja kekuasaan di sini bukanlah kepemimpinan yang membawa bangsa Indonesia menuju kemakmuran seperti jangka para pujangga agung, melainkan hanya kemakmuran semu.

Tak terkecuali pertarungan Pilpres 2019 tahun ini, bagi Mpu Totok Brojodiningrat hanya pertarungan kepemimpinan semu, bukan mencari pemimpin yang sesungguhnya seperti di jangka para pujangga agung.

Pilpres 2019 ibarat suluk dalam pewayangan, ‘ bumi gonjang ganjing langit kelap kelap, katon lir kincanging alis, risang maweh agandrung, sabarang kadulu geger moyag mayig……’.

Suluk diatas merupakan penanda dari gambaran kondisi kedepan bangsa saat ini yg akan menggelar perhelatan akbar pesta demokrasi pileg dan pilpres yang jatuh pada hari Rabu Pahing, wuku Wayang dengan Hastawara “Brama”.

” Yang maknanya tidak sabaran, segala sesuatu di dasari emosional dan sandiwara ” “Mawulu”, artinya was was saling curiga.’ Terang Mpu Totok dalam babaranya.

Di tambahkan oleh Mpu Totok Brojodiningrat, dalam petung leluhur Nusantara khususnya jawa, watak atau sifat hari pelaksanaan suatu perhelatan akbar sudah bisa menjadi pertanda untuk menengarai peristiwa peristiwa yg akan mengikutinya, baik suatu peristiwa buruk ataupun sebaliknya. Sebagaimana contoh laut bergolak, bumi menggeliat, dalam kosmologi jawa keduanya adalah konsep Pasir Wukir, segara dan gunung yang menjadi rahim kita.

Dalam petung astrologi jawa, hasil dari perhelatan pesta demokrasi yg jatuh pada hari Rabu Pahing wuku Wayang, hampir tidak bisa merubah keadaan bangsa ini pada tataran yg lebih baik. Karena didalam jangka Joyoboyo memang belum waktunya.

Suatu saat nanti akan tiba jangka ” Gunung mendhak jurang mbrenjul” yang artinya, kelak jika sudah muncul keturunan raja gung binatara yang selama ini tidak diperhitungkan setelah tahun 2024 akan terwujud negara “Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kertaraharja”.

Karena sosok pemimpin tersebut akan menerapkan ajaran leluhur yg sudah teruji keampuhannya sejak berabad abad silam.

Konsep Catur Upaya Sandi yaitu “Somo dono bedo dendo”. Tanpa pilih kasih didalam menerapkan hukum kepada para kawula, tandas Mpu Brojodiningrar

Pada diri pemimpin tersebut memiliki perpaduan sifat Prabu Hayam Wuruk, Tri Buwana Tunggadewi dan Mapatih Gajahmada.

Calon pemimpin kedepan setelah tahun 2024 akan muncul dari bumi Wengker, timur selatannya gunung purba atau yang lebih dikenal dengan nama gunung Lawu. Mengapa didalam Para, Pura, Puri, Purana, para Empu kerap menyebut akan muncul pemimpin agung dari bumi wengker di dalam jangka.

Karena selama ini banyak yang tidak mengetahui dan menyadari, bahwa raja gung binatara di Wilwatikta adalah seorang putra terbaik dari bumi Wengker. Prabu Hayam Wuruk raja Mapahit adalah putra raja wengker.

Pada tahun 1250 saka atau tahun 1328 M, Kalagemet atau Prabu jayanegara meninggal akibat tikaman Ra Tanca ditempat peraduannya.

Sepeninggal Jayanegara maha Patih Gajah Mada kemudian mengangkat dua putri Raden Wijaya untuk menjadi ratu Majapahit yakni Rani Daha dan Rani Kahuripan. Rani Kahuripan lantas menjadi istri Bre Wengker Batara Kertawardana.

Pada tahun 1256 saka, Rani Kahuripan dan Bre Wengker di karunia putra bernama Hayam Wuruk yang artinya ayam jantan dari timur. Kelak di kemudian hari Hayam Wuruk akan menjadi raja gung binatara yg sangat masyhur.

Didalam serat Pararaton maupun kitab Negara kertagama tidak di sebutkan angka tahun kapan Hayam Wuruk naik tahta. Hanya saja pada saat peristiwa Bubat dalam serat Pararaton dijelaskan dengan sengkalan “Sanga Turonggo Pakso Wani” (1279) saka.

Sedangkan pengganti Hayam Wuruk setelah wafat, kitab Negara Kertagama atau Kitab Desa Warnana pada pupuh 6/3 dan pupuh 7/4 digantikan oleh Wikramawardana.
Adapun petikan bunyi pupuh dalam Kitab Negara Kertagama diantaranya ‘ tan sah sri krta warddane swara pita de sri narendra dhipa…dst’.

Mangacau pada kitab kitab babonnya sejarah seperti Kitab Pararaton, Serat Kanda, Negara Kertagama serta prasasti gunung Butak, kata Mpu Totok Brojodingrat, tampak gamblang sekali bahwa keberadaan dan kebesaran Wilwatikta atau Majapahit adalah satu tarikan nafas dengan keberadaan kerajaan Wengker.

Karena fakta sejarah tidak bisa lagi ditolak, raja Wengkerlah ayahanda Prabu hayam wuruk. Tribuwana Tungga Dewi lebih mempercayakan kepada Raja Wengker untuk mempersunting Rani Kahuripan, bahkan memberikan mas kawin keris pusaka sebagai kancing gelung ( ikatan keluarga sesama kerajaan besar ).

Konsep nyakra manggilingan atau keterulangan sejarah akan terus berlaku dijagad raya ini. Sosok putra Wengker akan memegang pusara kepemimpinan dengan kekuatan batin yang lengkap laku tapa brata atau gentur tirakatnya. Juga didampingi pusaka pusaka ampuh piyandel para pemimpin nusantara jaman dahulu.

Dua kekuatan batin itulah ciri sosok ksatriya bumi Wengker, sama persis dengan konsep Kanjeng Sunan Kalijaga ketika selalu menjadi dalang di balik kesuksesan raja raja di tanah jawa sejak dari Raden Patah, Sultan Hadiwijaya Sultan Pajang sampai Panembahan Senopati pendiri Mataram islam.

Raja raja tersebut tidak lepas dari laku batin dan menyanding pusaka ampuh keris maupun tombak.

Pada pilpres 2019 tahun ini yang menjadi utama adalah menjaga keutuhan. Persatuan anak bangsa mutlak tidak bisa ditawar tawar lagi.

Para leluhur nusantara memberi wewarah atau solusi untuk menghindari potensi perpecahan dengan sebuah sesaji yg dinamakan “Jadah Suci”.

‘ Yang memiliki nilai filosofi kerekatan jiwa sesama anak bangsa, sebagaimana rekat dan lengketnya jadah atau juadah ketan putih. ” Jelas pakar pawukon yang juga pemilik padepokan keris Brojodiningrat .

Di imbuhkan, pepatah leluhur mengatakan ” Crah agawe bubrah rukun agawe santosa”, yang artinya permusuhan hanya akan menuai kerusakan dibumi.

‘ sedangkan kerukunan akan membuat bangsa ini kuat sentosa, sehingga mampu menapaki kemakmuran seperti jangka para pujangga agung ” pungkas Mpu Totok Brojodiningrat.