Beranda HIGHLIGHT Dari Pemecatan Christea Hingga Pemalsuan Surat, Kesaksian Soedjai Dinilai Janggal

Dari Pemecatan Christea Hingga Pemalsuan Surat, Kesaksian Soedjai Dinilai Janggal

283
0
Soedjai (kursi roda) saat menjadi saksi di persidangan kasus dugaan pemalsuan dokumen terdakwa Christea Frisdiantara di PN Sidoarjo, Selasa (15/1/2019).

SIAGAINDONESIA.COM Sidang terdakwa kasus dugaan pemalsuan dokumen, Christea Frisdiantara yang juga ketua Pembinaan Lembaga Pendidikan-Perguruan Tinggi Persatuan Guru Republik Indonesia (PPLP-PTPGRI) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), kembali digelar di Pengadilan Negeri Sidoarjo, Selasa (15/1/2019).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sidoarjo menghadirkan dua saksi yaitu Soedjai yang mengklaim sebagai Ketua PPLP-PT PGRI Unikama yang sah, dan Titik Lutfi Nuraini pegawai bank.

Dalam persidangan, keterangan saksi Soedjai dianggap janggal dan aneh. Seperti dalam kesaksiannya, Soedjai mengaku dihubungi pihak bank BNI cabang Malang bahwa ada permohonan pembukaan rekening bank yang diminta oleh terdakwa Christea. Permohonan itu berdasarkan penetapan perubahan spesimen tanda tangan dari Pengadilan Negeri Sidoarjo.

“Pihak pegawai bank datang ke saya membawa penetapan dari PN Sidoarjo dan surat keterangan domisili yang diduga palsu itu,” kata Soedjai memulai kesaksiannya.

Soedjai lantas membawa surat domisili itu ke Kelurahan Magersari, Kecamatan Sidoarjo.

“Saya ke sana sama Pak Abdul Bakar (Bendahara) untuk kroscek surat domisili. Setelah sampai sana, hanya saya saja yang masuk menemui Lurah Magersari (Moch Arifin) menanyakan itu. Jawabnya surat itu bukan dibuat oleh Kelurahan Magersari. Saya datang tidak mengenalkan sebagai Soedjai,” jelasnya.

Sepulang dari Kelurahan Magersari, Soedjai baru tahu kalau Lurah Magersari Moch Arifin melaporkan surat domisili tersebut ke Polresta Sidoarjo.

Sementara itu Penasehat Hukum (PH) terdakwa menyebut keterangan Soedjai di persidangan tidak sesuai dengan keterangan di BAP penyidik.

“Ini banyak yang berubah-ubah,” kata Sunu, PH terdakwa.

Dalam keterangan saksi, pada saat itu Soedjai mengetahui surat keterangan domisili itu dari aparat penegak hukum yang mendatanginya. Namun keterangan saksi bahwa awal dia mengetahui surat domisili itu dari pegawai bank.

“Ini keterangan saksi yang benar saat di penyidik, apa keterangan di sini,” tanya Sunu.

Dengan tegas saksi menjawab keterangan yang benar saat diperiksa oleh hakim yang saat ini di ketuai oleh Djoni Iswantoro, mengantikan Eko Supriyono karena pindah tugas.

Bila disinkronkan dengan keterangan Lurah Magersari Moch Arifin saat menjadi saksi pada Rabu (26/12) lalu, juga tidak sesuai dengan yang tercantum dalam BAP, dimana pada bulan Juni lalu ada seseorang dari Malang yang menelpon saksi untuk diajak bertemu di Polsekta Sidoarjo. Di BAP disebutkan tanggal 3 Juni jam 6 sore, bertemu dengan seseorang dari Malang di Polsek.

“Di sini keterangannya (Lurah Magersari) juga berbeda dengan BAP. Antara keterangan Soedjai dan Moch Arifin tidak sinkron,” ungkapnya.

Sunu menambahkan, kasus Christea ini sebenarnya merupakan rentatan dari kisruh perebutan PPLP-PTPGRI Unikama antara Soedjai sebagai ketua yayasan dan Christea juga selaku ketua yayasan.

Bedanya, jabatan ketua PPLP-PTPGRI Unikama Christea Frisdiantara dikuatkan oleh keputusan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) No. AHU-0000001.AH.01.08.TAHUN 2018 pada 5 Januari 2018 lalu. Kemenkumham menguatkan keputusan Rapat Umum Anggota (RUA) PPLP-PTPGRI yang dihadiri oleh 4 (empat) anggota pengurus, memutuskan Christea Frisdiantara jadi Ketua.

Sementara keputusan Soedjai berdasarkan Kemenkumham No. AHU-0000965.AH.01.08.TAHUN 2018 pada 18 Desember 2018.

Soal polemik kepengurusan PPLP-PTPGRI Unikama sempat disinggung di persidangan. Saat Soedjai ditanya susunan pengurus, dia menyebutkan nama-nama pengurus. Mulai dari dirinya (Soedjai), Christea, Agus Priyono, Abu Bakar, Soenarto, Adriani, Darmanto, dan Fifa.

Namun saat ditanya apakah terdakwa Christea masih menjadi pengurus PPLP-PTPGRI Unikama, Soedjai menjawab bahwa terdakwa tidak lagi menjadi pengurus dan sudah dipecat.

Majelis hakim pun menanyakan bagaimana terdakwa Christea dipecat dari keanggotaan, kekuasaan tertinggi ada di mana rapat umum anggota jika Christea telah dikeluarkan atau dipecat.

“Perkumpulan PGRI di Surabaya (yang pecat),” jawab Soedjai.

“Apa perkumpulan itu sebagai anggota, kok bisa ya pecat orang, ada rapat umum anggota tidak (saat dipecat),” tanya majelis hakim.

Soedjai menjawab PGRI Surabaya bukan anggota dan tidak ada rapat umum.

“Ini kan lucu. Saksi (Soedjai) bilang terdakwa bukan pengurus tapi duduk di kepengurusan. Saksi juga berbelit-belit bahwa sesuai SK Kemenkumham yang baru, nama terdakwa tidak ada di kepengurusan. Padahal di SK Kemenkumham, tidak ada perubahan kepengurusan,” jawab Sunu sembari menunjukkan SK Kemenkumham PPLP-PTPGRI Unikama yang disahkan 18 Desember 2018.

Suni juga mempertanyakan saksi, jika nama Christea tidak ada dalam susunan pengurus PPLP-PTPGRI Unikama, mengapa Soedjai menggugat terdakwa.

“Aneh juga ada kepengurusan SK baru pak Christea. Ini yang kami pertanyakan. Sebab sebelumnya pak Christea adalah ketua yang sah sesuai SK Kemenkumham No. AHU-0000001.AH.01.08.TAHUN 2018 pada 5 Januari 2018, dan belum ada perubahan tapi tiba-tiba muncul SK Kemenkumham yang baru,” tegasnya.

Suni menambahkan, bahwa sebagai pengurus PPLP-PT PGRI, wajar saja jika Christea datang ke BNI untuk membuka blokir rekening.

Sekedar diketahui, saling memblokir rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI pun terjadi antara Soedjai dan Chrestea. Keduanya memblokir rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI di Bank BNI Cabang Malang, Bank CMB Niaga Cabang Malang, Bank BTN Cabang Malang, Bank Mega Syariah Cabang Malang, Bank Jatim Malang, dan Bank BCA Cabang Malang.

Saat itu muncullah Julianto Dharmawan, mantan pengacara Christea Frisdiantara yang menjanjikan dapat memberikan bantuan hukum dan mengajukan permohonan ijin dalam rangka perubahan specimen tanda tangan pada rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI melalui penetapan Pengadilan Negeri Malang namun pada akhirnya ditolak.

Julianto kemudian mengajukan permohonan penetapan pengadilan perubahan specimen di Pengadilan Negeri Sidoarjo.

Di sini kemudian masalah muncul. Christea tiba-tiba ditetapkan sebagai tersangka oleh Unit V Harda Satreskrim Polresta Sidoarjo setelah menerima laporan Lurah Magersari, Sidoarjo, Moch Arifin.

Dalam laporan polisi nomor: LPB/304/VII/2018/Jatim/Resta SDA, dosen itu dilaporkan membuat surat palsu atau memalsukan surat keterangan domisili di Sidoarjo Kota.

Surat keterangan domisili itu digunakan untuk proses pengajuan kredit di bank. Namun, Arifin mengaku tidak pernah membuat surat tersebut.

Sehingga dia membuat surat keterangan yang menyatakan, tidak pernah mengeluarkan surat domisili atas nama Christea untuk keperluan pengajuan kredit di Bank Mandiri Syariah Sidoarjo.

Belakangan surat keterangan itu digunakan untuk merubah specimen bank yang menyimpan uang milik PPLP-PT PGRI Unikama dengan meminta penetapan dari PN Sidoarjo.nya