Beranda HIGHLIGHT Sidang Dugaan Pemalsuan Surat Domisili Christea, Hakim Terkejut Keterangan Saksi Soal Lurah...

Sidang Dugaan Pemalsuan Surat Domisili Christea, Hakim Terkejut Keterangan Saksi Soal Lurah Magersari

304
0
Puguh saat memberikan kesaksian kasus dugaan pemalsuan surat domisili terdakwa Christea Frisdiantara di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Selasa (22/1/2019).

SIAGAINDONESIA.COM Sidang lanjutan kasus surat keterangan domisili palsu dengan terdakwa Ketua Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi PGRI (PPLP PT PGRI) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Christea Frisdiantara, mengungkap fakta baru.

Agenda sidang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Sidoarjo menghadirkan kesaksian Puguh, selaku pemilik rumah yang menjual rumahnya ke terdakwa Christea.

Dalam kesaksiannya, Puguh rupanya mengajukan dua surat di Kelurahan Magersari. “Permohonan yang saya ajukan itu ada dua. Pertama untuk pindah nikah saya dan surat keterangan domisili untuk permohonan KPR atas nama Christea,” kata Puguh di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Selasa (22/1/2019).

Saksi mengatakan, bahwa berkas permohonan itu tidak diajukan melalui prosedur seperti biasanya seperti meminta surat pengantar dari RT dan RW setempat. Saksi mengaku langsung datang ke Kelurahan Magersari karena sudah kenal dengan staf Kelurahan Magersari bernama Dedi.

Alasan saksi mengurus surat domisili untuk terdakwa Christea karena rumahnya mau dibeli. “Kan saya butuh menjual rumah, sehingga saya mau menguruskan surat domisili untuk KPR itu karena saudara Christea mau membeli,” ungkapnya.

Puguh juga mengatakan bahwa pengajuan surat domisili dengan terdawa Christea ditandatangani langsung oleh Lurah Magersari, Mochammad Arifin yang saat ini statusnya sebagai pelapor.

“Saya menghadap ke situ (Kelurahan Magersari) membawa berkas-berkas. Lalu dibuatkan surat itu oleh Dedi (staf kelurahan). Setelah dibuatkan baru dikasihkan ke saya untuk meminta tandatangan ke  Pak Lurah. Lalu saya menghadap dan itu ditandatangani (Mochammad Arifin),” terang Puguh.

Pernyataan Puguh ini langsung membuat Ketua Majelis Hakim, Djoni Iswantoro, terkejut. Betapa tidak, sepanjang persidangan kasus dugaan pemalsuan surat palsu yang dialamatkan pada terdakwa Christea, publik tahunya pelapor Lurah Magersari melaporkan kasus tersebut karena tandatangannya dipalsukan.

“Bener itu yang tandatangan Pak Lurah?” tanya Hakim Djoni.

“Itu Pak Lurah (Moch Arifin) yang tandatangan di ruangannya. Saya juga disuruh buat pernyataan tidak keberatan bahwa alamat rumah saya digunakan untuk alamat kredit,” kata saksi Puguh mengulangi kata-katanya.

Masih belum yakin dengan kesaksian Puguh, ketua majelis hakim kembali memperingatkan saksi agar tidak berbuat macam-macam yang akan merugikan dirinya. Sebab, bila saksi salah memberi keterangannya resikonya bisa berujung pidana.

“Kalau (saksi) berbohong, ancamannya pidananya 7 tahun. Siap saudara,” tanya Djoni lagi.

“Saya siap,” jawab saksi dengan yakin.

Setelah urusan surat domisili selesai, saksi mengaku tidak tahu menahu persoalan tersebut. Saksi juga tidak tahu jika dikemudian hari surat domisili yang dibuatnya itu berujung pada pidana. Dimana surat domisili tersebut dikelaim palsu dan digunakan untuk perubahan spesimen tandatangan pembukaan blokir rekening di sejumlah bank milik Yayasan PPLP PT PGRI Unikama.

“Saya baru tau itu waktu dipanggil penyidik Polresta Sidoarjo atas laporan Pak Lurah. Saya ditanya penyidik katanya surat domisili itu palsu. Waktu itu saya tegaskan bahwa itu asli tandatangannya Pak Lurah. Saya juga heran kok malah Pak Lurah yang laporkan,” jelasnya.

Sidang kasus dugaan pemalsuan surat domisili dilanjutkan pada Kamis (22/1/2019). Hakim Djoni mengagendakan untuk mengkonfrontir keterangan saksi Puguh dengan Lurah Magersari Mochammad Arifin.

“Sidang besok (Kamis, 22 Januari 2019) saksi siap dikonfrontir dengan Pak Lurah. Kesaksian Anda dengan Pak Lurah berbeda. Saudara saksi siap,” tanyanya lalu dijawab saksi siap dikonfrontir.

Kasus dugaan surat domisili palsu Christea ini sebenarnya berawal dari kisruh kepengurusan Unikama yang terjadi antara Soedjai dan Christea. Keduanya mengklaim sama-sama memiliki SK Kemenkumham. Yang terjadi kemudian, saling memblokir rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI.

Soedjai dan Christea saling memblokir rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI di Bank BNI Cabang Malang, Bank CMB Niaga Cabang Malang, Bank BTN Cabang Malang, Bank Mega Syariah Cabang Malang, Bank Jatim Malang, dan Bank BCA Cabang Malang.

Saat itu muncullah Julianto Dharmawan, mantan pengacara Christea Frisdiantara yang menjanjikan dapat memberikan bantuan hukum dan mengajukan permohonan ijin dalam rangka perubahan specimen tanda tangan pada rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI melalui penetapan Pengadilan Negeri Malang namun pada akhirnya ditolak.

Julianto menjanjikan kepada Christea dapat menguruskan penetapan dari pengadilan untuk mengurus seluruh aset PPLP-PTPGRI. Untuk mengurus itu, Julianto mendapat surat kuasa dari PPLP-PTPGRI yang ditandatangani oleh Christea dan Bendara PPLP-PTPGRI.

“Awalnya Julianto mendapat dana sebesar Rp 250 juta dari Christea untuk mengurus penetapan. Namun penetapan itu tidak berhasil didapatkan oleh Julianto dari PN Malang. Menurut Sunu, bukti pengurusan penetapan harusnya ada, tetapi saya ragu ada surat dari PN Malang yang menolak penetapan ini. Diurus atau tidak, nanti di sidang kita akan tanya,” kata Sunu.

Karena tidak bisa dilakukan di Malang, Julianto lantas mengajukan permohonan penetapan KE di PN Sidoarjo. Syaratnya, Christea membeli rumah di Sidoarjo dan memiliki surat keterangan domisili terlebih dahulu. Untuk itulah, Julianto kemudian menawarkan rumah milik Puguh agar dibeli Christea.

Diketahui, surat domisili yang sudah diteken Lurah Magersari, oleh Puguh surat domisili itu tidak diberikan kepada Christea, tetapi langsung diberikan kepada Julianto. Lalu Julianto mengajukan permohonan kepada PN Sidoarjo. Draft permohonan penetapan diketahui tidak pernah dikonsultasikan kepada Christea dan hanya diinformasikan bahwa permohonan sudah masuk dan untuk itu Christea diminta untuk menyiapkan bukti dan saksi.

Julianto sendiri saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama. Namun nasibnya sedikit beruntung karena tidak ditahan seperti Chistea.

Dari sinilah Christea kemudian dilaporkan Lurah Magersari Mochammad Arifin atas dugaan pemalsuan surat domisili. Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh Unit V Harda Satreskrim Polresta Sidoarjo seperti tertuang dalam laporan polisi nomor: LPB/304/VII/2018/Jatim/Resta SDA.nya