Beranda HIGHLIGHT Kasus Christea, Kesaksian Lurah Magersari Tidak Sinkron dan Hasil Uji Labfor Sudah...

Kasus Christea, Kesaksian Lurah Magersari Tidak Sinkron dan Hasil Uji Labfor Sudah Keluar

287
0
Terdakwa Christea Frisdiantara saat disidang dalam kasus dugaan surat keterangan domisili palsu di PN Sidoarjo.

SIAGAINDONESIA.COM Kesaksian Lurah Magersari Mochammad Arifin dan pegawai kelurahan bernama Deni yang dihadirkan sebagai saksi dalam kasus dugaan surat keterangan domisili palsu yang menjerat Ketua Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi PGRI (PPLP PT PGRI) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Christea Frisdiantara, dinilai berbelit-belit.

Sidang berlangsung panas saat Ketua majelis hakim, Djoni Iswantoro menegur saksi Arifin yang kesaksiannya kerap berubah-ubah.

Dengan nada tinggi Djoni memperingatkan saksi Arifin untuk mempertanggungjawabkan kata-katanya.

Pasalnya, bila kesaksian Arifin tidak bisa dipertanggungjawabkan, Hakim Djoni memperingatkan saksi bisa dijerat dengan pidana.

Saat itu Lurah Magersari mengaku tidak pernah bertemu Puguh. Tapi ketika ditanya jaksa, mengaku pernah bertemu saat mengurus surat lain.

“Tadi saya tanya jawabnya tidak, sekarang ditanya jaksa bilang iya,” kata hakim kepada Lurah Magersari dengan nada tinggi di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Kamis (24/1/2019).

Padahal dalam kesaksian sebelumnya pada Selasa (22/1/2019), Puguh mengatakan mengajukan permohonan dua surat ke Kelurahan Magersari. Surat pertama soal pindah nikah dan surat kedua keterangan domisili untuk Christea Frisdiantara.

Diakui Puguh, saat itu dirinya memang menemui staf kelurahan (saksi Dedi) dan kemudian dibuatkan surat untuk ditandatangani oleh Lurah Magersari.

Saat dikonfrontir, Puguh bercerita panjang lebar tentang proses mengurus surat di kelurahan. Bahkan dia bisa menggambarkan suasana dan siapa saja orang yang ditemuinya di kantor kelurahan itu.

Puguh juga diperingatkan oleh hakim bahwa semua keterangannya bisa berakibat hukum jika tidak benar. Dan seperti jawaban sebelumnya, Puguh berani mempertanggungjawabkan kesaksiannya.

“Yang saya ceritakan semua sesuai apa yang saya alami pak hakim. Saya siap,” jawabnya.

Keterangan Lurah Magersari dan stafnya yang tidak sesuai dengan kesaksian Puguh membuat tim kuasa hukum Christea geram. Pasalnya, saat ditanya tentang beberapa kejadian, saksi mengaku tidak tahu, bahkan ketika ditunjukkan foto-foto juga tetap mengelak.

Ya, saat itu kuasa hukum Christea Frisdiantara, Bonaventura Sunu Setyonugroho, mau tak mau harus membeberkan hasil pemeriksaan Labfor Polri Cabang Surabaya atas keaslian surat keterangan domisili yang diklaim palsu tersebut. Menurut Sunu, pihaknya telah memastikan hasil labfor sudah keluar dan dikirim ke Polresta Sidoarjo sejak September 2018 lalu. Namun hasil tersebut tidak dimasukkan dalam BAP.

“Kami tidak berhak menyampaikan itu, tapi dari informasi yang kami dapat, surat itu identik. Artinya tidak palsu alias benar dibuat dan dikeluarkan oleh Kelurahan,” tegas Sunu.

Dan untuk kesekian kalinya, Hakim Djoni dibuat geram dan sempat bertanya ke jaksa mengingat hanya ada surat sebagai barang bukti, dan tidak ada pembanding dan tidak dilampirkan hasil pemeriksaan laboratorium forensik-nya. Hakim meminta jaksa agar mendapatkan surat hasil laboratorium forensik tersebut.

“Sejak dari penyidik, memang hasil forensik itu tidak ada dalam BAP-nya pak hakim,” jawab jaksa.

Fakta baru lainnya, tim pengacara Christea mengungkap adanya NIP Lurah Magersari yang disebut tidak seusai.

Disebutkan, ada beberapa bukti surat-surat lain yang dikeluarkan Kelurahan Magersari dengan NIK seperti yang ada pada surat domisili yang dilaporkan palsu oleh Lurah Magersari.

Pertanyaan ini tentu membuat kedua saksi (Lurah Magersari dan staf) kelimpungan. Namun, mereka tetap bersikukuh bahwa tidak pernah mengeluarkan surat domisili atas nama Christea tersebut.

Kasus dugaan surat domisili palsu Christea ini sebenarnya berawal dari kisruh kepengurusan Unikama yang terjadi antara Soedjai dan Christea. Keduanya mengklaim sama-sama memiliki SK Kemenkumham. Yang terjadi kemudian, saling memblokir rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI.

Soedjai dan Christea saling memblokir rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI di Bank BNI Cabang Malang, Bank CMB Niaga Cabang Malang, Bank BTN Cabang Malang, Bank Mega Syariah Cabang Malang, Bank Jatim Malang, dan Bank BCA Cabang Malang.

Saat itu muncullah Julianto Dharmawan, mantan pengacara Christea Frisdiantara yang menjanjikan dapat memberikan bantuan hukum dan mengajukan permohonan ijin dalam rangka perubahan specimen tanda tangan pada rekening tabungan, giro dan deposito milik PPLP-PT PGRI melalui penetapan Pengadilan Negeri Malang namun pada akhirnya ditolak.

Julianto menjanjikan kepada Christea dapat menguruskan penetapan dari pengadilan untuk mengurus seluruh aset PPLP-PTPGRI. Untuk mengurus itu, Julianto mendapat surat kuasa dari PPLP-PTPGRI yang ditandatangani oleh Christea dan Bendara PPLP-PTPGRI.

“Awalnya Julianto mendapat dana sebesar Rp 250 juta dari Christea untuk mengurus penetapan. Namun penetapan itu tidak berhasil didapatkan oleh Julianto dari PN Malang. Menurut Sunu, bukti pengurusan penetapan harusnya ada, tetapi saya ragu ada surat dari PN Malang yang menolak penetapan ini. Diurus atau tidak, nanti di sidang kita akan tanya,” kata Sunu.

Karena tidak bisa dilakukan di Malang, Julianto lantas mengajukan permohonan penetapan KE di PN Sidoarjo. Syaratnya, Christea membeli rumah di Sidoarjo dan memiliki surat keterangan domisili terlebih dahulu. Untuk itulah, Julianto kemudian menawarkan rumah milik Puguh agar dibeli Christea.

Diketahui, surat domisili yang sudah diteken Lurah Magersari, oleh Puguh surat domisili itu tidak diberikan kepada Christea, tetapi langsung diberikan kepada Julianto. Lalu Julianto mengajukan permohonan kepada PN Sidoarjo. Draft permohonan penetapan diketahui tidak pernah dikonsultasikan kepada Christea dan hanya diinformasikan bahwa permohonan sudah masuk dan untuk itu Christea diminta untuk menyiapkan bukti dan saksi.

Julianto sendiri saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama. Namun nasibnya sedikit beruntung karena tidak ditahan seperti Chistea.

Dari sinilah Christea kemudian dilaporkan Lurah Magersari Mochammad Arifin atas dugaan pemalsuan surat domisili. Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh Unit V Harda Satreskrim Polresta Sidoarjo seperti tertuang dalam laporan polisi nomor: LPB/304/VII/2018/Jatim/Resta SDA.nya