Beranda aneka Tiga Srikandi Pejuang Perda Rokok Ancam DPRD Surabaya

Tiga Srikandi Pejuang Perda Rokok Ancam DPRD Surabaya

430
0
Ketua WITT Jatim Dra Arie Soeripan.

SIAGAINDONESIA.COM Perjuangan organisasi kesehatan Jawa Timur, semakin intensif bergerak dan mendesak Pemerintah Kota Surabaya segera mensahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) guna melindungi wanita dan anak anak dari bahaya rokok dan ekses yang ditimbulkannya.

Selasa (29/1), bertempat di Hotel Grand Dafam Jalan Kayoon 4-10 Surabaya tiga organisasi menggelar Konferensi Pers terkait perkembangan KTR oleh pihak Legislatif Surabaya. Tiga ormas tersebut Konferensi antara lain, WITT ( Wanita Indonesia Tanpa Tembakau), di wakili oleh Dra. Arie Soeripan, M.M, Ketua LPA Jawa Timur DR. Sri Adiningsih, dr., MS., MCN, dan Dr. Liza Pristianty, MSi., MM, Apt Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Cabang Kota Surabaya serta insan jurnalis.

Ketiga Srikandi pegiat kesehatan anak, wanita tanpa tembakau semakin kuat mengawal dan  mendorong disahkannya dengan segera Perda Kawasan tanpa rokok oleh legislatif Kota Surabaya.

Menurut pantauan Tim lapangan KTR IAI Surabaya tahun 2018, masih menemukan orang merokok dan membuang puntung rokok di beberapa sarana dan area kefarmasian. Hal itu menurut Lisa, menunjukan bahwa Perda No 28 masih kurang mengakomodasi kondisi masyarakat.

“Karena itu, Perda KTR No 28 ini sudah tidak sesuai lagi. Sebab masih ada KTM (Kawasan Terbatas Merokok) ternyata masih memberikan celah kepada perokok untuk merokok di tempat umum”, jelas Lisa.

Lantaran tidak adanya kesadaran perokok dan mengingat dampak masif yang ditimbulkan akibat rokok baik kepada perokok aktif maupun pasif IAI Surabaya mendesak Legislatif untuk melengkapi dan segera mensahkan Perda kawasan tanpa rokok yang memadai. Harapannya Perda tersebut mampu melindungi masyarakat terutama ibu dan anak dari bahaya penyakit prevalensi dan nasofaring akibat rokok.

Sementara itu Ketua WITT Jatim Dra Arie Soeripan mengaku organisasinya yang berdiri 4 tahun lalu telah mengadakan berbagai kegiatan sosial dengan swadana termasuk konsisten menyuarakan Perda tentang rokok baik di tingkat Kota/Kabupaten hingga Propinsi Jawa Timur.

Desakan yang dilakukan Srikandi Surabaya itu lantaran masih banyaknya iklan rokok baik melalui papan reklame, media dan berbagai sarana iklan lainnya. Tidak adanya aturan pembatasan umur pembeli rokok,  tidak diaturnya display rokok di kawasan sekolah serta kenyamanan tempat umum dan bebas rokok di areal perkantoran, fasilitas kesehatan serta ruang terbuka sehat menjadi motivasi desakan perubahan sekaligus pensahan dengan cepat Perda Bebas rokok.

“Jika pihak legislatif tidak segera mensahkan Perda KTR yang baru, kami akan melakukan “aduan” kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini,” tegas Arie yang menjadi salah satu pembicara siang itu.

Ketua LPA Jawa Timur bahkan berharap Perda yang baru bukan hanya memberikan sekat perlindungan dari bahaya rokok hanya sekedar sekat ruangan. DR Sri Adiningsih berharap pihak legislatif betul – betul melindungi pasive smoking warga Surabaya dari bahaya rokok. Ketua LPA Jatim itu juga berharap adanya kawasan olah raga yang benar benar bebas dari rokok. Baik itu berupa asap rokok, puntung rokok bahkan penjual, iklan rokok.

“Adanya 8 KTR sebagai implementasi Perda tahun 2008, hari setelah 10 tahun berlalu, Perda itu sudah tidak mampu lagi melindungi kesehatan ibu dan anak dari aditive rokok”, kata Sri Ketua LPA Jatim.

Masih menurut Sri Adiningsih, Keberadaan Perda KTR merupakan indikator Kota sehat dan indikator penting terwujudnya Kota Layak Anak (KLA). Sebuah kota yang mensinergikan sumber daya dari pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha guna memenuhi dan melindungi hak hak anak.mnt