Beranda budaya ‘Soreng’, Drama Tari Kisah Sejarah Arya Penangsang

‘Soreng’, Drama Tari Kisah Sejarah Arya Penangsang

763
0

SIAGAINDONESIA.COM – Kesenian rakyat ‘Soreng’ tumbuh dan berkembang di wilayah Kabupaten Magelang sebelah timur, khususnya di kaki Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, merupakan drama tari yang terkait dengan Kisah Sejarah Arya Penangsang. Drama tari Soreng mengambil ceritera persiapan perang Arya Penangsang. Soreng adalah para perajurit Kadipaten Jipang Panolan. Kata ‘Soreng’ berasal dari kata ‘sura ing yudha’, yang bermakna menang dalam perang. Ciri-ciri dari tari Soreng, gerak tarinya yang sederhana dan dinamis, mudah dan spontan. Sehingga tari Soreng mudah dipelajari. Ritme atau irama tabuhan pengiring tarian yang monoton tetapi dinamis. Gerak tarinya kompak bersemangat, sebagai gerak olah keperajuritan yang disederhanakan. Gerakan tarian ini menyiratkan sedang berlatih bela diri dan didominasi gerakan tangan dan hentakan kaki seperti gerak perajurit ketika berperang.
Musik pengiring tari Soreng sangat sederhana namun iramanya rancak dan dinamis. Hanya ada tiga alat musik utama yaitu empat buah bende, sebuah truntung dan jidhor. Dalam perkembangannya sekarang ada yang memodifikasi dengan alat musik drum. Tata rias tari Soreng merupakan unsur pendukung yang kuat dalam sajian tarian ini. Karena fungsi tata rias dalam tarian ini untuk menunjukkan karakter kepribadian tokoh yang sedang diperankan. Riasan yang digunakan pada tarian ini adalah rias gagah yang bertujuan memperkuat karakter tokoh prajurit yang gagah perkasa.
Busana dan ‘irah-irahan’ yang dikenakan berupa kain jarik bermotif parang dengan warna putih, ikat kepala, celana panjen, stagen, sabuk cindhe, kalung kace. Tokoh Arya Penangsang sebagai peran utama tari Soreng busananya paling mencolok, warnanya merah atau coklat.
Kepala Seksi Kesenian dan Perfilman Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Manteb Sudarsono S.Pd., M.Pd. menjelaskan, di daerah ini tercatat ada 74 kelompok kesenian rakyat Soreng yang tersebar di wilayah kecamatan Ngablak, Grabag, Pakis, Dukun, Sawangan. Di wilayah tersebut kesenian Soreng sudah ada dan berkembang sejak puluhan tahun yang lalu, sampai kini tetap dilestarikan dan dikembangkan dari generasi ke generasi.
Salah satu kelompok kesenian rakyat ‘Soreng’ adalah Kesenian Soreng ‘Mudha Budaya’ di dusun Deles desa Jogonayan Kecamatan Ngablak. Kelompok kesenian ini berdiri pada tanggal 24 Mei 1991, dengan pengesahan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang. Ketika berdiri Soreng ‘Mudha Budaya’ diketuai Ngatemin. Kiprah kelompok kesenian ini telah berhasil meraih banyak prestasi, diantaranya sebagai penampil terbaik III dalam Kirab Budaya Kesenian Unggulan Daerah Propinsi Jawa Tengah di Klaten pada tahun 2012. Mengikuti Pesta Kesenian Bali XXXV dalam ’35-th Bali Arts Festival di Taman Budaya Art Centre Denpasar, Bali tahun 2013. Dan pada tahun 2018 yang lalu berhasil meraih Juara IV dalam ‘Menoreh Festival’ Tingkat Nasional di Wates Kabupaten Kulon Progo, DIY.
Alur kisah drama tari Soreng yang dipentaskan, diawali dengan kesiapsiagaan perajurit Soreng untuk maju ke medan laga melawan perajurit Kesultanan Pajang. Di tengah berbuka setelah Arya Penangsang berpuasa empat puluh hari, datang seorang pekathik (pemelihara kuda) yang meraung kesakitan karena daun telinganya dipotong dan di telinganya diselipkan sebuah surat tantangan perang dari Pajang. Setelah membaca surat yang berisi tantangan perang, Arya Penangsang marah dan naik pitam. Kemudian dia memerintahkan perajuritnya untuk mempersiapkan kuda hitam kesayangannya, Gagak Rimang, dan bergegaslah menuju ke tepi Bengawan Sore. Di seberang sana Sutawijaya dan perajurit Pajang sudah menunggu kedatangannya.
Arya Penangsang dengan menunggang kuda jantan Gagak Rimang dipancing dengan kuda betina tunggangan Sutawijaya yang berada di seberang Bengawan Sore. Cara ini atas saran penasehat Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi. Arya Penangsang yang menunggang kuda jantan ‘Gagak Rimang’ dengan bersemangat menyeberangi Bengawan Sore yang sebenarnya menjadi pantangan karena hari itu adalah hari naasnya. Begitu berada di seberang Bengawan Sore, kesaktian Arya Penangsang menjadi berkurang dan akhirnya dia dapat dibunuh oleh Sutawijaya, setelah perutnya tertembus tombak pusaka Kyai Plered. – ASk