Beranda Headline Bawang Putih, Harga Melejit Masyarakat Menjerit

Bawang Putih, Harga Melejit Masyarakat Menjerit

439
0
Harga bawang putih melonjak, masyarakat menjerit

SIAGAINDONESIA.COM – Sebulan terakhir harga bawang putih di sejumlah pasar tradisional terus merangkak naik, tak terkecuali di Surabaya, Jawa Timur. Kenaikan harga komoditas dapur itu pun dikeluhkan kaum ibu yang setiap hari berkutat degan kebutuhan dapur. Mereka menyebut harga yang terus meroket itu sangat memberatkan keuangan mereka.

Iya, harga bawang putih terus naik, kalau naik terus masyarakat kecil termasuk seperti saya ini jadi tambah susah,” kata Anik, Minggu (10/2/2019).

Pantauan di sejumlah pasar memang menunjukkan harga bawang putih yang tidak stabil, terus melonjak yang sebelumnya dikisaran Rp19 ribu per kilogram. Misalnya, di Pasar Induk Wonokromo Surabaya, pada hari Minggu 10/2/2019 kemarin, untuk jenis bawang putih protolan dijual dengan harga Rp27 ribu hingga Rp28 ribu. Bawang putih besar jenis Sico seharga Rp29 ribu. Jenis bawang putih lokal bonggolan dengan ukuran agak kecil di jual dengan harga Rp29 ribu hingga Rp30 ribu. Harga tersebut juga sama di Pasar Pabean, Surabaya.

“Harga jual memang segitu, untungnya tipis sekali dari harga kulakan,” kata M Nasir, salah seorang pedagang di Pasar Wonokromo, sambil menyebut isterinya Mariyeh juga berjualan di Pasar Pabean, harga juga sama seperti yang dia sebutkan.

Kenaikan harga tertinggi terjadi untuk bawang putih jenis Kating, dan untuk Premium harga awal per kilogramnya Rp32 sampai Rp33 ribu, kini menjadi Rp43 ribu per kilogram. Untuk bawang putih yang sudah dikupas dijual dengan harga Rp45 ribu hingga Rp47 ribu per kilogram.

Harga Naik, Masyarakat Menjerit

Sekedar tahu, lonjakan harga yang terjadi pada komoditas bawang putih ini tidak lepas dari pembatasan kuota impor yang diterapkan oleh pemerintah. Termasuk aturan serta sanksi terhadap importir yang dinilai tidak bisa menjalankan kewajiban tanam bawang putih, yakni lima persen dari kuota impor yang diterima, sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan).

Harga naik, masyarakat menjerit

“Jika mengacu pada Permentan Nomor 38 Tahun 2017, bagi importir khususnya bawang putih, tidak akan mendapat Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) selama satu tahun hingga tiga tahun. Itu, menurut saya sangat tidak lazim dan memberatkan. Jika itu terus dipaksakan oleh pemerintah tidak hanya menyudutkan pelaku usaha atau importir. Tetapi masyarakat sebagai konsumen yang sangat terpukul,” terang Sutik, yang terus mengamati gejolak dan terus merangkaknya harga bawang putih.

Dia menjabarkan, penerapan aturan kewajiban tanam bawang putih bagi importir sangat tidak efektif, meski dengan dalih untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan menuju swasembada.

Selain importir harus mengeluarkan tambahan biaya yang sangat tinggi, misalnya untuk pembelian benih dengan harga dikisaran Rp65 ribu per kilogram, dan bibit itu belum tentu bagus. Juga masih terbebani dengan biaya-biaya lain sarana produksi guna memperoleh hasil panen yang memuaskan.

“Biaya-biaya itu akan terus membengkak, selain untuk bibit, pupuk dan obat-obatan, pengairan. Juga masih ada biaya tenaga kerja, biaya pajak, dan biaya alat. Belum lagi, ini yang harus dipahami, yakni letak geografis arael untuk menanam. tentu tidak sama misalnya seperti yang di Tiongkok,” urai alumni perguruan tinggi negeri di Surabaya itu.

Belum lagi banyaknya lahan yang telah beralih fungsi, di wilayah dataran tinggi. Disebutkan, puluhan ribu hektare lahan di dataran tinggi telah berubah fungsi dan tidak mudah untuk mencari lahan baru.

Sementara, sesuai karakteristiknya jenis tanaman bawang putih hanya bisa tumbuh dan menghasilkan umbi yang baik harus ditanam di ketinggian antara 700 meter hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (Dpl).

“Kita lihat saja, apakah ada lahan tersedia di ketinggian itu,” pungkasnya.

Bukan mustahil, jika izin bagi importir yang hingga kini tak kunjung dikeluarkan oleh pemerintah, ini akan semakin menyulitkan utamanya untuk masyarakat. Lonjakan harga akan semakin tak terkendali, bahkan bisa tembus diatas Rp50 ribu per kilogram.

Untuk diketahui, pada bulan Januari 2019 sesuai catatan BPS Jawa Timur, terjadi inflasi sebesar 0,34 persen. Seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi. Inflasi tertinggi di terjadi di Kota Malang yang mencapai 0,53 persen, inflasi terendah terjadi di Probolinggo, sebesar 0,12 persen.Tji