Beranda News Hakim PN Surabaya Gunakan Pasal Penganiayaan Memvonis Lima Terdakwa Kasus Pengeroyokan

Hakim PN Surabaya Gunakan Pasal Penganiayaan Memvonis Lima Terdakwa Kasus Pengeroyokan

313
0
Sidang Lima Terdakwa Kasus Pengeroyokan Agenda Putusan, (foto: Ad)

SIAGAINDONESIA.COM Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan vonis hukuman terhadap lima terdakwa pengeroyokan yang menimpa Jimmy dan Handy di Jimmy’s Club Hotel JW Marriott sangat ringan. Merasa sangsi usai mendengarkan vonis lima terdakwa selama 3 bulan tanpa harus ditahan, keluarga korban mengamuk.

“Coba kalau yang mukul anak saya tadi itu tukang becak sampai anak saya babak belur begitu, pasti sudah ditahan, gak sampai berkeliaran sampai satu tahun begini. Tapi karena ini si Giri (Giri Bayu Kusuma, red) anak orang kaya, anak orang punya dia, Spesial,” Kata Mimi Li, orang tua korban saat meluapkan emosinya di PN Surabaya, Rabu (27/3).

Mimi menyoal akan pasal yang dijadikan hakim dalam memutuskan perkara pengeroyokan ini yakni pasal 351 tentang penganiayaan. Dia juga menyoal pasal tuntutan yang dituntutkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo dari Kejari Surabaya.

“Ini kan 170 pasalnya, anak saya dikeroyok sampai hampir mati. Dua orang anak saya dikeroyok sama lima orang, untung tidak sampai mati, sekarang dia sering mimisan,” kata Mimi.

Dia merasa keberatan dengan apa yang telah diputuskan oleh hakim dan menyebut bahwa hukum telah tumpul keatas dan tajam kebawah.

“Jelas Saya keberatan, dan akan melaporkan pada Bawas Mahkamah Agung dan Juga Jamwas Kejagung,” kata dia.

Dalam persidangan di PN Surabaya, Jalan Raya Arjuno, Rabu (27/3/2019), Ketua majelis hakim, Sifa’irosiddin, menyatakan semua unsur tindak pidana penganiayaan yang dilakukan lima orang terdakwa telah terbukti.

“Mengadili, menyatakan para terdakwa terbukti bersalah berikut semua unsur-unsurnya. Menghukum terdakwa dengan hukuman 3 bulan penjara dengan masa percobaan selama 6 bulan,” ucap hakim ketua Syifa’urosidin membacakan amar putusannya.

Adapun lima terdakwa penganiayaan itu ialah Megawati Aldona Doni, Jenifer Berby Aldona Doni, Muhammad Faisal Rizzal, Muhammad Balsum dan mantan Ketua HIPMI Giri Bayu Kusumah.

Mimi seketika menjadi berang. Saat persidangan berakhir, dia berteriak-teriak di luar persidangan. Tak hanya itu, Ibu korban kemudian memburu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo.

“Kami masih pikir-pikir dalam waktu 7 hari,” jelas JPU Damang Anubowo kepada Sicom usai sidang, (27/3).

Kericuhan semakin menjadi saat Mimi, tiba-tiba memprotes Jaksa Damang. Mimi kesal karena jaksa hanya menuntut terdakwa dengan pasal 351 KUHP saja. Menurutnya, seharusnya jaksa menuntut terdakwa dengan pasal 170 KUHP.

“Kenapa kok 351, padahal anak saya sudah berdarah-darah lho, kalau sampai dia mati bagaimana,? ” protes Mimi.

Sementara itu usai persidangan, Benhard Manurung, kuasa hukum keluarga Mimi langsung menyatakan akan mengajukkan gugatan perdata atas putusan ini.

Dikatakan Berhard, protes keluarga korban terhadap kasus ini tidak berhenti disini saja, dia juga bakal menggugat secara perdata soal pencemaran nama baik Mimi yang dikatakan Giri Bayu Kusumah sudah melakukan pemerasan.

“Jadi nantinya ada dua gugatan, satu gugatan atas putusan ini, satunya lagi gugatan atas dugaan pemerasan yang dikatakan Giri di media masa. Dua-duanya kita gugat minta ganti rugi,” pungkas Benhard.

Diketahui, kasus penganiayaan terhadap Jimmy dan Handy terjadi di Club & Lounge Jimmys area Hotel JW Marriott Surabaya, Minggu (21/1/2018) sekitar pukul 02.30 dini hari.

Saat itu Jimmy dan Handy dikeroyok oleh lima terdakwa secara berutal hingga berdarah-darah. Bahkan salah satu diantara mereka melontarkan hinaan bernada rasis. Namun, oleh JPU Damang Anubowo, kelima terdakwa hanya dijatuhi tuntutan tiga bulan saja. Ady/Pri