Beranda Arena Kenia Khairunnisa Berjuang Tanpa Kekerasan Dan Anarkisme Antar Suporter

Kenia Khairunnisa Berjuang Tanpa Kekerasan Dan Anarkisme Antar Suporter

430
0
Kenia Khairunnisa
Kenia Khairunnisa

SIAGAINDONESIA.COM Mengenal budaya sepak bola Indonesia yang masih identik dengan fanatisme “kebablasan” tidak membuat Kenia Khairunnisa alergi. Payung hukum dan efek jera tidak hanya isapan jempol belaka. Kekerasan merupakan hal terpenting dalam suatu pertandinggan sepakbola, tanpa kekerasan dan anarkisme seolah itu bukan sepakbola di negri ini

Sejak 1994 sampai 2018, setidaknya lebih dari 40 kekerasan antar suporter mencoreng wajah persepak bolaan Indonesia. Animo dibalut fanatisme yang berujung taruhan nyawa.

Terakhir, masih membekas dalam ingatan bagaimana Haringga Sirila, suporter Persija Jakarta dipaksa meregang nyawa saat sedang mendukung tim kesayangannya berlaga di markas Persib Bandung. Berulangkali kampanye stop kekerasan tak henti digelorakan namun faktanya di lapangan masih jauh panggang daripada api.

Almarhum Banu Rusman, pendukung Persita Tangerang yang tewas di Stadion Cibinong, Bogor saat laga melawan PS TNI medio Oktober 2017 lalu. Kasus pengeroyokan yang diduga keras melibatkan suporter tim lawan namun hingga detik ini pelakunya masih juga belum ditemukan. Tagar menolak lupa sempat ramai di dunia maya.

Itu pula yang diyakini Kenia Khairunnisa. Tipisnya payung hukum untuk suporter sepak bola Indonesia tidak jarang membuat dirinya menghela nafas.

“Pendampingan hukum untuk pihak-pihak yang dirugikan atau didzolimi itu memang harus ada. Setiap warga berhak mendapatkan hal tersebut, bagi masyarakat yang kehilangan hak tanahnya, suporter sepak bola atau apapun itu,” tegas Kenia.

“Jadi, ketika misalnya ada suporter sepak bola melakukan kekerasan dan merugikan beberapa pihak, maka pendampingan hukum harus kita lakukan,” sambungnya lagi.

Mendalami akar permasalahan diyakini Kenia jadi “pisau bedah” paling awal. Fanatisme supoter memang tidak bisa dibendung namun harus ada tapal batas khususnya dari segi regulasi hukum.

“Selain itu, di sisi lain perlu adanya tindakan preventif agar kekerasan antar kubu sepak bola tidak terjadi. Hal ini perlu difikirkan bersama-sama, baik pemerintah, pengelola-pengelola klub, persatuan sepak bola, dan semua pihak yang terkait,” ujar Kenia pada Wartawan di Komplek Gelora Bungkarno Senayan Jakarta, Rabu (27/03).

“Karena saya juga bergerak dalam bidang hukum, maka saya rasa saya harus siap untuk pendampingan hukum jika hal tersebut terjadi. Di sisi lain, saya juga siap untuk turun dalam tindakan-tindakan preventif atau pencegahan agar peristiwa tersebut tidak terjadi di dunia sepak bola,” tambahnya lagi.

Butuh waktu cukup panjang memang, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi suporter bukan “sapi perah”, sudah saatnya suara “akar rumput” didengar jangan hanya setengah-setengah butuh pembinaan baik Klub dan suporter agar bersinergi, federasi PSSI harus lebih giat lagi dalam mengelorakan perdamaian antar suporter itu terpenting

Kenia sendiri bukan orang yang baru di ranah hukum. Seperti diketahui, ia adalah anak dari pengacara kenamaan sekaligus ahli hukum tata negara, Profesor Yusril Ihza Mahendra.

Didikan dari Yusril pula yang membuat Kenia ingin lebih mendekatkan diri dengan rakyat kecil. Ya, buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya.

“Jika ayah dulu sudah pernah banyak membantu masyarakat, izinkan saya meneruskan perjuangannya untuk membantu lebih banyak lagi,” ujar lulusan Universitas Indonesia [email protected]