Beranda Politik PSI Ajak Generasi Milenial Pahami Sejarah untuk Tentukan Pilihan

PSI Ajak Generasi Milenial Pahami Sejarah untuk Tentukan Pilihan

99
0
Tokoh muda PSI berharap Milenial tak abaikan hak pilih

SIAGAINDONESIA.COM – “Tragedi Mei 98” disuguhkan di acara Diskusi Publik tentang Sejarah yang Tak Pernah Diajarkan di Bangku Sekolah, menjadi bahasan oleh tokoh lintas generasi yang digelar Partai Solidaritas Indonesia di Hall Tong Hoi Golden City di Surabaya, Rabu (27/3/2019), malam.

Hadir sebagai pembicara Andy Budiman Caleg DPR RI dari PSI Dapil Jatim I Surabaya-Sidoarjo; Nia Dinata Sutradara Film Tragedi Mei 98; Azmi Abubakar Aktivis 98 yang juga juru bicara PSI, dan sebagai moderator Seno Bagaskoro, tokoh milenial Surabaya.

Mengawali obrolan, Teteh Nia -panggilan Nia Dinata- menceritakan, peristiwa berdarah Mei 1998 silam di Jakarta itu, dengan lontaran pertanyaan kenapa dokumen bersejarah tersebut tidak banyak diminati, khususnya oleh generasi muda di negeri ini.

“Saya heran, kenapa tayangan yang banyak di youtube (kisah berdarah Mei 98) tidak banyak ditonton, lebih banyak tayangan lain yang digemari,” kata Teteh Nia.

Sebagai pekerja film di perusahaan milik luar negeri, Nia mengisahkan suasana chaos saat itu membuat semua pimpinannya yang asal luar negeri pergi meninggalkan Indonesia. Alasannya keamanan dan untuk menyelamatkan diri. Kemudian, naluri insan film tak bisa dibendung, dengan peralatan yang tersedia milik perusahaan dia mengabadikan berbagai gambar tragedi berdarah tersebut.

“Kami akhirnya memiliki sejumlah dokumen, film peristiwa Mei itu. Kini, kami mengajak dokumentasi itu bisa ditonton, serta mengambil kesimpulan apa yang terjadi,” ucapnya, sambil menyebut berkolaborasi dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Pemutaran film “Tragedi Kelam ’98” bertujuan mengingatkan generasi milenial khususnya di Surabaya dan Indonesia tentang penggalan sejarah yang hingga kini masih belum tuntas penanganannya.

Ada dua point desakan untuk pemerintah, agar tragedi gerakan pemuda di tahun ’98 bisa diajarkan dan menjadi kurikulum di sekolah menengah.

“Menjadi kurikulum dan diajarkan di sekolah, karena ini penting sebagai bagian dari perjalanan sejarah. Itu alasannya kami bersedia kolaborasi dengan PSI,” katanya.

Teh Nia mengaku kecewa lantaran ketidakpedulian generasi muda milenial pada sejarah perjuangan demokrasi. Padahal tragedi ’98 sudah banyak di upload di youtube.

Anehnya, milenial lebih menyukai menonton informasi gaya hidup dari pada kisah sejarah.

“Hanya puluhan orang yang melihat di youtube sejarah perjuangan reformasi yang berujung tewasnya 4 mahasiswa Trisakti, Jika dibandingkan dengan upload an Ava Halilintar yang mengusung gaya hidup. Ketertarikan milenial akan sejarah sungguh memprihatinkan,” tambahnya.

Tak beda dengan Nia, Suci Mayangsari, yang saat peristiwa dia juga masih aktif sebagai mahasiswa, juga mengajak khususnya pemuda untuk memahami sejarah. Selanjutnya sebagai pijakan menentukan langkah politik, termasuk untuk menyalurkan hak pilih.

Azmi Abu Bakar sebagai pelaku sejarah saat itu, mengaku terpanggil untuk berjuang melalui wadah partai politik. Itu sebabnya, pemuda Aceh itu memutuskan terjun ke politik. Dia menyebut, untuk mengawal sejarah Gerakan Reformasi ’98 masuk di kurikulum pendidikan sekolah menengah, pihaknya harus masuk parlemen.

“Itu akan mudah terlaksana jika kita duduk di parlemen, caranya masuk partai dan ikut pemilu,” tegas Azmi.

PSI gelar Dialog Film Tragedi Mei 98

Sementara, Seno Bagaskara milenial Surabaya menganalogikan remaja seusianya, dalam melihat sejarah Tragedi Mei ’98 bagaikan melihat sebuah botol berisi air, sedangkan di sisinya ada panganan. Bagaimana cara memasukan panganan ke sebuah botol. Jelas membutuhkan cara tersendiri.

“Bagi kami, peristiwa Mei ’98 bagaikan botol berisi air sedangkan saya bagai “onde-onde” diluarnya, seperti ini,” ucap Seno sambil menunjuk botol di depannya.

Untuk bisa merasakannya, dia harus bisa merasakan air dalam botol, dan melihatnya dari semua sisi.

Menurut dia, yang dilakukan PSI dengan menggelar nonton pemutaran film dokumenter garapan Nia Dinata, selain melek sejarah, para caleg PSI berharap kaum milenial tidak salah pilih menentukan wakilnya untuk duduk di parlemen.

Kemudian, Andy Budiman memberi penegasan, pihaknya di PSI siap mengawal dan menyalurkan aspirasi rakyat yang diwakili. Dia juga mengajak kaum milenial tidak menyia-nyiakan hak pilih. Itu harus digunakan untuk bisa menyalurkan aspirasi menuju perubahan, menjadikan Indonesia lebih baik.

“Agar tidak salah dalam memilih, pemuda harus memahami sejarah yang pernah terjadi. PSI adalah partai baru, yang didalamnya mayoritas tokoh muda. Dan, PSI tidak ada keterikatan atau sejarah dengan partai-partai lain,” terang Andy, Caleg PSI Jatim I, yang mewakili wilayah Surabaya dan Sidoarjo ini.tji