Beranda aneka Masyarakat Gresik Keluhkan Minimnya Sosialisasi Pemilu 2019

Masyarakat Gresik Keluhkan Minimnya Sosialisasi Pemilu 2019

95
0
SIAGAINDONESIA.COM Dalam kegiatan focus grup discution (FGD) antara Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Partai Politik (Parpol) dan peserta pemilu (pemilih) yang berlangsung di Hall @home premier GKB Gresik, Kamis (28/3/2019).
Terungkap, minimnya sosialisasi ke masyarakat terkait Pemilu yang bakal berlangsung pada 17 April 2019. Hal tersebut, seperti yang diungkapkan Wakapolsek Benjeng Iptu Ali Syaiful oleh salah satu peserta FGD. Bahwa dirinya, sering didatangi masyarakat yang menanyakan tentang pelaksanaan Pemilu 2019.
“Terus terang saya sering ditanya masyarakat, yang menanyakan kapan pemilu dilaksanakan. Sehingga, saya sendiri kebingungan dalam menjawab pertanyaan itu. Sebab, selama ini diwilayah Benjeng tidak perna ada kegiatan sosialisasi Pemilu 2019,” ujarnya.
“Sosialisasi pemilu itu sangat penting, terutama bagi orang lanjut usia (lansia) dan para pemilih pemula. Sebab, kedua objek peserta pemilu (pemilih) ini perlu diberikan pemahaman agar mengerti,” katanya.
“Jika ingin pelaksanaan Pemilu 2019 berlangsung dengan sukses dan tidak terciderai. Maka penyelenggara pemilu, baik itu KPU maupun Banwaslu harus optimal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Jika tidak, ya jangan harapkan pemilu yang baik, jujur dan adil bisa tercipta,” tuturnya.
Di tambahkan Ali, selama ini Undang-Undang (UU) pemilu mandul, tidak bisa untuk menindak pelaku pelanggaran. Sebab, banyak kasus yang ditemukan tidak tuntas. Karena keterbatasan waktu penindakan, sehingga tidak ada tindakan kongkrit.
Selain tidak adanya sosialisasi lanjut Ali, juga masih marak praktek money politic (politik uang) dan juga belum adanya tindakan tegas terhadap pelanggaran tentang aturan pemilu.
“Sampai saat ini, saya masih menyaksikan praktek memberikan uang kepala para pemilih itu masih ada. Kalau pingin sukses dan tidak ada cederai pemilu. Hal-hal seperti itu ya harus ada tindakan tegas, dari penyeleggara pemilu,” tukasnya.
“Kalau persoalan-persoalan seperti itu, masih tetap ada dan terus menerus terjadi. Pemilu bersih jujur dan adil sesuai aturan sampai kapanpun tidak akan ada. Apa ini, harus tetap kita biarkan. Untuk itu, saya rasa perlu adanya pendidikan politik pada masyarakat agar kwalitas pemilu menjadi baik seperti yang diharapkan,” tandasnya.
Senada juga disampai Sri Maryani (34) salah seorang peserta pemilu asal Kebomas yang juga hadir dalam FGD. Menyatakan, bahwa dirinya tidak perna mendapatkan sosialisasi terkait Pemilu 2019. “Selama ini saya tidak perna memdapatkan sosialisasi tentang pemilu, dari pihak terkait. Bahkan, saya tidak mengerti seperti apa tahapan hingga model pelaksanaannya. Zer