Beranda aneka Edi, Si Caleg Petahana Tidak ‘Neko-Neko’ Serap Suara Masyarakat

Edi, Si Caleg Petahana Tidak ‘Neko-Neko’ Serap Suara Masyarakat

176
0

SIAGAINDONESIA.COM – Coblosan atau pemungutan suara Pemilu 2019 tinggal menghitung hari, tentu tensi memanas saling berebut suara. Namun beda yang dilakukan Edi Supriyadi anggota DPRD Ngawi sekaligus caleg nomor urut 02 dari PDIP Dapil 3 Ngawi (Geneng, Gerih, Kendal) mengaku ‘rilek’ di masa kampanye sekarang ini.

Sebagai caleg petahana ia pun mengaku tidak ‘neko-neko’ umbar janji kepada masyarakat selaku pemilih. Melainkan konsisten sebagai wakil rakyat yakni memperjuangkan aspirasi rakyat paling bawah dan memasukan dalam pokok pikiran disetiap pembahasan peraturan daerah (Perda-red).

“Sebagai caleg tidak perlu janji berlebihan. Sesuai pengalaman kita di kursi dewan yang terpenting sering turun ke bawah mendengar suara rakyat. Dengan langkah itu kita riil dan fakta melihat kendala yang dihadapi masyarakat,” ucap Edi Supriyadi, Jum’at, (05/04/2019).

Menurutnya persoalan didaerah apapun alasanya harus diserap semaksimal mungkin. Bicara Ngawi beber Edi, terutama di wilayah selatan lereng Gunung Lawu ada beberapa masalah yang segera dituntaskan. Seperti keberadaan para penambang material yang jumlahnya ribuan di wilayah Kecamatan Kendal dan sekitarnya.

Tandasnya, lepas dari legal dan ilegal keberadaan penambang material batu yang sudah mentradisi tersebut harus mendapatkan proteksi. Baik sistim pengamanan dalam kerja maupun asuransi jiwa. Mengingat tingkat resiko sebagai penambang batu material dengan cara tradisional cukup tinggi.

“Pemerintah harus bijak dan saudara kita penambang material ini harus kita perjuangkan. Jangan sampai mereka mendapat perlakuan yang diskriminatif terhadap pekerjaanya sebaliknya sudah waktunya mendapat perlindungan,” tutur Edi.

Dengan latar belakang/background sebagai kontraktor suami dari Puput Nur Wulandari ini menjelaskan, pemerintah harus membuat pemetaan untuk mencover semua akar permasalahan di wilayah. Sebagai anak desa (Domisili di Desa Karangrejo-red) urai Edi, mengetahui persis problem masyarakat secara langsung.

Edi menyorot wilayah perbatasan khususnya Ngawi-Magetan harus ada koneksi yang jelas.
Mengingat selama ini masih tertinggal jauh dari wilayah tetangganya Magetan dilihat dari pembangunan insfrastruktur seperti di wilayah Kecamatan Kendal. Sebab, Kendal mempunyai wilayah strategis dari sisi geografisnya.

Ia menilai Kendal mempunyai potensi wisata pedesaan kalau toh digarap secara maksimal satu contoh terkait langsung dengan penghasil buah durian. Untuk menyedot animo konsumen dibutuhkan market atau pasar yang kongkret karena keterkaitan langsung dengan sistim penjualan.

Dengan demikian, sarana insfrastruktur seperti akses jalan harus memadai dan layak sebagai jalur pertanian atau produksi. Sehingga hubungan antara skema peningkatan ekonomi dengan sarana dan prasarana berhubungan langsung secara pararel. (pr)