Beranda aneka Sexy Killers Besutan Watchdoc Bongkar Lingkar Politisi di Ladang Tambang

Sexy Killers Besutan Watchdoc Bongkar Lingkar Politisi di Ladang Tambang

3130
0

SIAGAINDONESIA.COM Irisan oligarki kekuasaan, politik dan media tentang pertambangan di Indonesia, dibongkar Walhi Jatim, Watchdoc dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya dalam nobar dan diskusi film Ekspedisi Indonesia Biru, Sexy Killers, Jumat (5/4/2019).

Rere Christanto (Walhi Jatim), Yogi Ishabib (Sinema Intensif), dan Miftah Faridl (AJI Surabaya) mengupas tuntas sisi sinematografi, ekologi dan politis.

Sexy Killers besutan Watchdoc mengangkat harga yang harus dibayar akibat berdirinya proyek pertambangan batu bara di beberapa wilayah Tanah Air.

Dandy Laksono, sang director Sexy Killers benar-benar menghadirkan trigger untuk membangunkan narasi klise kepada penonton.

Diawali thriller ‘mendebarkan’, Sexy Killers secara runtut membeberkan kisah pengorbanan di balik konsumsi listrik masyarakat urban.

Kebutuhan sumber energi di kota besar seperti Jakarta, bukanlah harga yang murah. Salah satu pemicu tingginya kebutuhan produksi batu bara adalah hadirnya beberapa proyek besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Ironisnya, pertambangan batu bara sebagai salah satu bahan bakar pembangkit listrik justru menuntut pengorbanan dari warga sekitar lokasi tambang.

Tercatat Sejak 2011 sudah 30 anak-anak meregang nyawa di kubangan maut batu bara. Tak ada penegakan hukum apalagi upaya merehabilitasi lubang-lubang beracun tersebut.

Pertambangan batu bara yang masif di Kalimantan Timur juga mengakibatkan kekurangan pangan, karena lahan pertanian dan perkebunan telah dirampas perusahaan tambang. Pengangkutan batu bara lewat jalur laut juga merugikan nelayan.

Di darat, beroperasinya PLTU tak pelak memberi imbas bagi petani dan warga. Batu bara mengeluarkan zat sisa pembakaran di udara. Polutan ini mengandung senyawa merkuri dan PM 2,5 sebuah partikel berbahaya yang membunuh makhluk hidup dalam senyap.

PM 2,5 yang menumpuk di paru-paru dan organ lain bisa menyebabkan munculnya penyakit pernapasan, asma, hingga penyakit jantung. PM 2,5 juga ampuh untuk membuat penyakit-penyakit tersebut makin parah hingga bisa memicu kematian dini. Menurut catatan Green Peace Ada 17 kematian per hari karena terpapar polusi batu bara.

Mereka yang meninggalkan tanah leluhurnya di Jawa dan Bali untuk mengabdikan hidupnya di Kalimantan kini justru menghadapi kehidupan yang tak pasti.

“Setidaknya ada 3500 lubang bekas tambang di Kalimantan, bahkan ada yang memakan korban jiwa akibat prosedur pasca tambang tidak dihiraukan,” terang Rere.

Berdasarkan draf Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017-20126, pembangkit listrik yang menggunakan batu bara masih diproyeksikan sebagai kontributor terbesar bagi sektor energi untuk 10 tahun ke depan. Pada tahun 2017, bauran energi untuk energi listrik PLN dari sektor batu bara masih diestimasi sebesar 55,6%. Jumlah tersebut masih di atas Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Gas, masing-masing sebesar 25,8% dan 11,9%. PLN juga mengatakan bahwa batu bara adalah bahan baku pembangkit listrik termurah dengan biaya Rp 600/kWh.

“Harga murah karena dampak sosial, lingkungan, dan kesehatan ditanggung masyarakat,” tegas Rere.

Namun pertambangan seakan tak bisa dihentikan. Sexy Killers secara detail membuka pemain kunci di industri batu bara yang memainkan peranan penting dalam bursa pemilihan presiden 2019, baik di tim kampanye Joko Widodo – Ma’ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Para calon dan tim inti kampanye berbisnis dan terkait dengan sektor batu bara.

Oligarki tambang yang begitu kental di balik pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung pada pilpres 2019, dinilai sebagai ancaman demokrasi.

Menurut data Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), dengan pertumbuhan yang cepat dalam 20 tahun terakhir, sektor batu bara telah menjadi salah satu sumber utama pendanaan politik di Indonesia, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan misalnya, yang membawahi sektor pertambangan dan energi merupakan pemegang saham PT Toba Sejahtra, perusahaan ini memiliki sejumlah anak perusahaan yang terlibat dalam pertambangan batubara dan PLTU.

Beberapa politically-exposed persons (PEPs) lainnya terhubungkan dengan kelompok bisnis ini, termasuk anggota keluarga Luhut, mantan menteri serta pejabat tinggi lainnya, dan pensiunan jenderal.

Jatam mencatat empat perusahaan Luhut Binsar Pandjaitan memiliki 50 lubang tambang. Total lahan konsesi yang berafiliasi dengan Menko Maritim ini adalah 14.019 hektar yang terkonsentrasi di Kutai Kartanegara.

Selain Luhut, ada nama lain yaitu Fachrul Razi dan Suadi Marasambessy yang tergabung dalam Bravo lima, tim andalan Jokowi. Belum lagi sederet nama pengusaha media besar seperti Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Sakti Wahyu Trenggono, Jusuf Kalla, Andi Syamsuddin Arsyad, Oesman Sapta Oedang dan Aburizal Bakrie.

Di kubu Prabowo-Uno, lebih gamblang lagi. Prabowo dan Sandiaga Uno sendiri merupakan pemain lama sektor tambang dan energi. Ada Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Maher Al Gadrie, Hashim Djojohadikusumo, Sudirman Said dan Zulkifli Hasan.

Sandiaga Uno, menguasai 22,62 saham PT Saratoga Investama Sedaya, Tbk, perusahaan investasi yang menguasai bagian terbesar (20,75 persen) dari kepemilikan PT Merdeka Copper Gold, Tbk, gergasi tambang emas, perak, dan tembaga. Tak hanya itu, Sandi baru-baru ini menjual (sebagian) saham di perusahaannya, dan dibeli oleh PT Toba Bara Sejahtera, Tbk, milik Luhut Binsar Pandjaitan. Masih banyak nama lain yang masuk dalam gurita oligarki tambang yang terkuak lewat film berdurasi terlama yang dibuat oleh Watchdoc ini.

“Pendekatan melalui film Sexy Killers sebagai film dokumenter Watchdoc, menjadi sebuah pesan ketika media mainstream tidak akan pernah menayangkan hak kaum marjinal yang terenggut,” papar Miftah Faridl, Ketua AJI Surabaya.

Film ini cukup efektif untuk menyampaikan pesan dan masalah yang belum terpecahkan. Efektif untuk menyebarkan wacana dampak industri ekstraktif, meskipun belum menjadi patron sebuah perubahan bagi para pelaku penambangan.

“Hal tersebut menjadi gagasan besar Dandy dan kawan-kawan menjadikan Watchdoc sebagai film kampanye dokumentasi daerah konflik.
Membangkitkan ordinary people movement, gerakan rakyat kecil yang tidak terikat pada kepentingan,” ulas Faridl

Kebutuhan utama dari satu perlawanan adalah membuka harapan, Sexy Killers secara gamblang memberi celah kepada publik agar lebih mudah mengakses isu-isu yang sangat kompleks.

“Masih ada ketidak adilan energi di tempat kita, ruas jalan di Kawasan Soedirman Thamrin Jakarta menggunakan energi yang setara dengan seluruh Kalimantan Timur,” tegas Rere.

Meskipun beberapa isu mungkin sangat kompleks untuk dipecah, jika dikaitkan dengan unsur politis.

“Dua paslon Pilpres tidak ada satupun yang tidak terkait dengan oligarki tambang,” sambungnya.

Rere menambahkan, seberapa banyak atau sedikit kita menggunakan listrik, tidak akan memberi dampak signifikan penutupan industri ekstraktif. Produsen energi tidak dibayar berdasar penggunaan energi kita, tapi dibayar berdasar produksi. Mimpi akan kesejahteraan, hanya akan jadi angan.

“Kesejahteraan adalah rasa aman di desa-desa yang ruang hidupnya terampas. Seluruh industri ekstraktif tidak berjarak lebih lama dari 50-60 tahun setelah itu selesai dan wilayah tersebut tidak ada yang bisa diproduksi lagi, coba jika dibandingkan dikelola oleh masyarakat kita,” pungkas Rere.JL