Beranda aneka Komposisi Dewan Ngawi, Caleg Petahana Bertahan Plus 5 Eks Birokrat Masuk

Komposisi Dewan Ngawi, Caleg Petahana Bertahan Plus 5 Eks Birokrat Masuk

2626
0

SIAGAINDONESIA.COM – Hasil Pemilu 2019 untuk pemilihan legislatif (pileg) setingkat DPRD Kabupaten Ngawi komposisinya tidak terlalu banyak perubahan. Dari 45 kursi yang diperebutkan masih didominasi ‘wajah lama’ hasil Pemilu 2014.

Meskipun hasil real count belum dirilis resmi oleh KPU Kabupaten Ngawi namun bisa dipastikan 28 kursi diantara masih diduduki caleg petahana sedangkan sisanya 17 kursi direbut caleg baru.

“Faktornya kinerja anggota dewan periode 2014-3019 ini semakin tahun semakin bagus. Dan tentunya dari kinerjanya itu bisa dinilai sekaligus dirasakan langsung oleh masyarakat,” terang Ketua DPRD Kabupaten Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, Sabtu, (20/04/2019).

Ia juga membenarkan, persentase caleg petahana yang bertahan pada pemilu kali ini naik dibanding hasil pesta demokrasi sebelumnya. Antok yang juga Ketua DPC PDIP Kabupaten Ngawi menyebut, kalau sebelumnya hanya 30 persen caleg petahana yang berhasil mendapatkan kursinya kembali.

Sementara Siswanto caleg petahana dari PKS malah mengatakan kalau perebutan kursi pemilu saat ini luar biasa beratnya dibanding lima tahun lalu. Hanya saja dari sudut pandangnya, caleg petahana mendapat kartu plus setelah mampu meyakinkan pemilih.

“Selama lima tahun sesuai masa kerja rekan-rekan (caleg petahana-red) bisa mengadvokasi aspirasi yang digali dari konstituen dan itu cukup tepat sasaran. Inilah menjadi faktor tersendiri kenapa banyak yang meraih kursi kembali,” ulas Siswanto.

Siswanto juga mengutip, caleg yang notabene eks birokrat banyak yang lolos menumbangkan pesainya dimasing-masing daerah pemilihan. Jelas Sis, tercatat ada 5 caleg eks orang pemerintahan bakal disumpah jabatan menjadi wakil rakyat.

“Kalau hasilnya nanti benar sesuai pleno KPU maka seperti Sudirman, Soeradji, Siswanto, Amin Sunarto dan Gunadi Ash Cidiq dipastikan lolos. Nama-nama diatas dikenal sebagai orang birokrat di Ngawi,” terang Siswanto.

Seperti diketahui juga, pembagian kursi pada pemilu saat ini memakai metode Sainte Lague. Aturan mengenai metode tersebut tertuang dalam UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017. Dalam pasal 414, disebutkan bahwa setiap partai politik peserta pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sebesar 4 persen.

Partai yang tidak memenuhi ambang batas tak akan diikutsertakan dalam penentuan kursi di DPR. Sementara itu, untuk penentuan kursi DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh partai politik akan dilibatkan.

Setelah memenuhi ambang batas, perolehan suara partai itu akan dikonversi menjadi kursi di DPR pada setiap daerah pemilihan. Sesuai pasal 415 ayat 2, suara partai itu akan dibagi dengan pembagi suara bilangan ganjil. (pr)