Beranda Headline Ade Armando bersama MPI Laporkan Prabowo ke Bareskrim Polri

Ade Armando bersama MPI Laporkan Prabowo ke Bareskrim Polri

65
0
Ade Armando bersama MPI Laporkan Prabowo ke Bareskrim Polri

SIAGAINDONESIA.COM – Pakar Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ade Armando bersama Masyarakat Peduli Indonesia (MPI) melaporkan Capres Nomor urut 02, Prabowo Subianto ke Bareskrim Polri atas dugaan menyebarkan kabar bohong terkait kemenangannya di Pilpres 17 April 2019.

“Saya bersama kawan-kawan MPI mengadukan Prabowo dengan gugatan menyebarkan kabar bohong yang dikhawatirkan menimbulkan keonaran di masyarakat,” ujar Ade di Bareskrim Mabes Polri, Senin (22/4/2019).

Capres nomor 02 itu dituding telah membuat keonaran dan menyebar berita bohong alias hoaks. Dengan cara dilakukan dalam konferensi pers, dan mengklaim bahwa Capres Cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno menang berdasarkan hasil real count pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN).

“Gugatan kami adalah menyebarkan kabar bohong yang dikhawatirkan menimbulkan keonaran di masyarakat,” lanjut Ade.

Ade menjelaskan, kebohongan atas klaim Prabowo yang menyebut telah mengantongi suara hingga 62 persen, akan memicu munculnya disharmonisasi di masyarakat.

Pada 17 April Prabowo menyatakan bahwa, berdasarkan real count mereka memperoleh 62 persen suara berdasarkan 320.000 TPS, yang merupakan 40 persen dari keseluruhan TPS yang ada di Indonesia. Selanjutnya, pada tanggal 18 April diulang lagi yang juga klaim kemenangan, meski dengan angka yang berubah, itu disebutkan berdasarkan real count.

Masih kata Ade, selanjutnya pada 19 April, Prabowo kembali mengklaim sudah menang berdasarkan real count dan sudah menyebut diri sebagai presiden Indonesia dan Sandiaga sebagai wakil presidennya.

“Kami menganggap itu bohong, dan kebohongan itu berpotensi sekali menimbulkan kegaduhan, kemarahan dan keonaran di masyarakat jika hasilnya berbeda (dengan penghitungan oleh KPU),” jelas dosen komunikasi dari Universitas Indonesia itu.

Hal lain yang mengkhawatirkan, bahwa klaim dan narasi tersebut jika dilakukan secara terus menerus maka akan dianggap sebagai suatu kebenaran meski tidak sesuai kenyataan.

“Diulang-ulang terus, masyarakat percaya bahwa itu benar, tapi ternyata hasil akhirnya berbeda. Itu bisa membuat kegaduhan, kemarahan, keonaran,” tegas Ade.

Ke Mabes Polri, Ade juga dengan membawa sejumlah barang bukti.
Antara lain, berupa dua rekaman video klaim capres nomor urut 02, yang menyebut pasangan itu telah memenangkan Pilpres 2019.

Video itu didapat dari berbagai sumber seperti youtube, dan termasuk dalam penayangan di televisi.

“Kami menyangkakan Prabowo dengan Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Sama dengan pasal yang dikenakan kepada mantan tim suksesnya, yakni Ratna Sarumpaet. Ancaman tiga tahun penjara,” terang Ade.

Ade juga melaporkan pentolan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab atas dugaan penghasutan yang melarang kubu Prabowo jangan menemui Jokowi-Ma’ruf usai pencoblosan.

“Itu adalah sebuah sikap yang justru mendorong masyarakat untuk tidak percaya hasil dari pemilu dan itu termasuk menghasut masyarakat untuk tidak percaya pada hasil pemilu,” katanya.

Terhadap Rizieq, ia menyangkakan tentang penghasutan. Barang bukti yang dibawa yakni video ulama itu yang tersebar di WhatsApp.tji