Beranda aneka Beratnya Pemilu 2019, Di Ngawi Dua Petugas Menjadi Korban

Beratnya Pemilu 2019, Di Ngawi Dua Petugas Menjadi Korban

183
0

SIAGAINDONESIA.COM – Sepekan pasca pemungutan suara Pemilu 2019 pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ngawi membenarkan ada 2 (dua) orang petugas menjadi korban. Satu orang meninggal dan satunya lagi dilarikan ke medis akibat keguguran.

“Kalau di Ngawi memang ada dua orang petugas yang menjadi korban. Kedua orang itu semuanya berada di Kecamatan Kwadungan,” terang Samsul Wathoni Ketua KPU Kabupaten Ngawi, Rabu, (24/04/2019).

Ia membeberkan, kedua korban tersebut antara lain Somodikin selaku petugas Linmas di Desa Purwosari yang meninggal dua hari berikutnya setelah pemungutan suara. Dan satunya lagi Dita anggota PPS Desa Budug yang mengalami keguguran atas kehamilanya.

Terpisah, Yeni Gustin anggota PPK Kecamatan Kwadungan menerangkan, Dita yang merupakan seorang perempuan anggota PPS mengalami keguguran pada hari pelaksanaan pemungutan suara pada Rabu, 17 April 2019 lalu. Sedangkan Somodikin anggota Linmas Desa Purwosari meninggal dalam perawatan di RS Widodo Ngawi.

“Kalau Pak Somodikin kemungkinan penyakit kanker darahnya dan ginjalnya kambuh setelah bertugas menjaga rekapitulasi surat suara sampai waktu malam. Kalau Mbak Dita memang keguguran pada pelaksanaan pemungutan suara,” ungkap Yeni Gustin.

Kemudian data yang diambil dari KPU Kabupaten Ngawi pada Pemilu 2019 tercatat 19.376 orang petugas KPPS dari 2.768 TPS, 1.302 petugas PPS dari 2017 desa/kelurahan, 5.536 petugas Linmas untuk 2.768 TPS dan 95 petugas PPK dari 19 wilayah kecamatan di Ngawi,

Sementara Wakil Bupati (Wabup) Ngawi Ony Anwar beberapa kesempatan sebelumnya mengakui Pemilu 2019 merupakan pesta demokrasi lima tahunan paling berat pasca reformasi. Tidak menutup kemungkinan harus di evaluasi terhadap pelaksanaanya jangan sampai dilakukan serentak untuk pemilu selanjutnya.

“Pemilu kali ini sangat melelahkan cukup memporsir tenaga. Secara nasional banyak korban khususnya para petugas yang terlibat langsung pada pemilu sehingga perlu dievaluasi kedepanya jangan sampai dilakukan secara serentak lagi,” ulas Ony Anwar. (pr)