SIAGAINDONESIA.COM Pembuat film dokumenter Sexy Killer Dhandy Dwi Laksono menegaskan bahwa filmnya yang diputar bersamaan momentum menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) tidak ada kaitannya dengan Pemilu. Ia  mempersiapkan untuk membuat film ini sejak lima tahun yang lalu dan dapat diselesaikan menjelang pemilihan presiden.

“Film ini diputar menjelang Pilpres, sehingga saya ingin merampok perhatian publik yang sebelumnya terkonsentrasi pada Pemilu untuk menonton film Sexy Killer,” ungkapnya usai nonton bareng Sexy Killer di Miss June Cultural Center, di Jalan Mendut, Kota Blitar, Rabu (24/04).
Meski demikian, Dhandy menegaskan, bahwa untuk mempersiapkan filmnya ke-12 ini selama lima tahun terakhir. Bahkan ide pembuatan film ini bermula saat Ia ingin keliling Indonesia. Setelah berdiskusi dengan beberapa temanya, Ia mendapatkan saran untuk membawa peralatan yang memadai, dari sekedar gawai dan Go Pro. Usai menerima masukan dari teman-temanya Pria asli Kabupaten Lumajang ini mempersiapkan film dengan menambah beberapa piranti untuk kebutuhan pengambilan gambar seperti kamera dan drone.

Seiring berjalanya waktu, Dhandy terus mengembangkan riset tentang dampak pertambangan batu bara bagi ekosistem alam di Indonesia. Selain itu, Ia terus mengembangkan riset dengan mencari nama-nama orang dibalik pertambangan batu bara dan PLTU di Indonesia.
Dari risetnya, muncul nama-nama orang dibalik pertambangan batu bara dan PLTU yang ada di Paslon Presiden Indonesia baik nomer urut satu dan dua. ‎

“Tentunya tidak menarik jika riset saya lima tahun lalu saya tampilkan saat ini, sehingga saya update. Hasilnya saya tidak ingin Pemilu hanya berbicara soal isu Suku, ras, Agama, dan antar golongan (Sara) namun juga berbicara soal lingkungan,” pungkas Dhandy. rob