Beranda News Dipakai Keperluan Pribadi, Budi Prasetyo Gelapkan Uang Toko Rp 70 Juta

Dipakai Keperluan Pribadi, Budi Prasetyo Gelapkan Uang Toko Rp 70 Juta

65
0
Terdakwa Didampingi Tim Kuasa Hukum Di Persidangan, (foto: Ad)

SIAGAINDONESIA.COM Kasus penggelapan uang sebuah Toko Hengky Elektrik, sebuah toko yang menjual barang-barang elektronik rumah tangga dengan terdakwa Budi Prasetyo bin Halim Pinanto (30) kini telah bergulir di meja hijau Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (25/4/2019).

Persidangan berlangsung di Ruang Kartika PN Surabaya, terdakwa akan mendengarkan keterangan dua orang saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pompy dari Kejari Surabaya. Dua orang saksi itu adalah Hengky Supardi Himdojo, owner sekaligus korban dan Dian Sartika, Administrasi Toko Hengky Elektrik.

Dihadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Pesta PH Sitorus, SH., M.Hum, saksi menceritakan perbuatan terdakwa gelapkan uang toko melalui Pesan Order (PO) sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 70.414.000,- (tujuh puluh juta empat ratus empat belas ribu rupiah).

Saksi Hengky mengatakan, terdakwa Budi Prasetyo ini bekerja sebagai sales di Toko Hengky Elektrik di Jalan Lebak Timur Indah T-11 Surabaya, sejak tahun 2012 sampai 2017. Ia bertugas untuk menjualkan barang-barang milik toko sekaligus melakukan penagihan kepada pembeli.

“Dia (terdakwa, red) kerja di toko saya, digaji beserta intensif setiap bulan sebesar Rp 4.000.000,- (empat juta rupiah). Dalam menjalankan tugas sebagai sales toko menerima order dari pembeli dengan prosedur membuat order melalui PO (Pesanan Order), kemudian PO tersebut diserahkan kepada saya, lalu saya perintahkan bagian Admin untuk membuat nota rangkap 3 (tiga) lembar,” kata Hengky.

Pada bulan Januari sampai November tahun 2017, masih kata Hengky ada sekitar 15 orderan yang dibuat oleh terdakwa tersebut dari total keseluruhan Rp 70.414.000 tidak disetorkan ke toko.

“Saya awalnya curiga kepada Budi. Setelah itu saya mengecek sendiri ke toko-toko yang di orderkan Budi, ternyata benar kalau dia sebenarnya sudah menerima, sisa pembayarannya itu. Katanya (terdakwa) uang itu digunakan untuk keperluan pribadi,” papar Hengky dihadapan Hakim Pesta, (25/4).

Sedangkan saksi kedua, Dian Sartika menyampaikan yang ia ketahui adalah terdakwa sebenarnya sudah melakukan tagihan ke beberapa toko yang melakukan nota purchasing order fiktif tersebut.

“Uang tagihan beberapa toko yang dimaksud oleh terdakwa tidak di setorkan ke Hendrik maupun dirinya sebagai administrasi”, paparnya.

Ketika ditanya Majelis Hakim, soal keterangan dua orang saksi tersebut, terdakwa membenarkannya. Ia mengakui bahwa dirinya telah menggunakan uang hasil order tersebut untuk keperluan pribadi.

“Iya benar pak hakim, uangnya saya pakai untuk keperluan pribadi,” akui Budi sesekali menundukkan kepala.

Dalam persidangan, terdakwa terlihat didampingi tim kuasa hukumnya. Adi Nugraha, selaku kuasa hukum terdakwa membantah keterangan kedua saksi tersebut.

“Klien saya tidak bermaksud menggelapkan uang toko, hanya saja Budi ini kepepet untuk kebutuhan rumah tangganya. Apalagi tedakwa sudah menyampaikan secara lisan ke toko dan bersedia membayar uang yang dipakai dengan cara mencicil. Namun pihak toko tanpa memberi kesempatan kepada terdakwa guna mencicil, malah dilaporkan ke Polisi,” kata Adi.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan keterangan saksi dari sejumlah toko yang telah disiapkan JPU.

Pada kasus ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwah terdakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 374 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP tentang penggelapan dengan pemberatan. Ady