Beranda budaya Pondok Seni dan Budaya Boediardjo Borobudur, Pelestari Budaya Jawa

Pondok Seni dan Budaya Boediardjo Borobudur, Pelestari Budaya Jawa

92
0

SIAGAINDONESIA.COM – Peringatan Ulang Tahun ke-28 Hotel Pondok Tingal Borobudur, Sabtu, 27 April 2019, berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Pada peringatan ulang tahun kali ini dikukuhkan Pengurus Pondok Seni dan Budaya Boediardjo, Borobudur, untuk masa bakti 2019 – 2024 oleh Ketua Yayasan Boediardjo, Drs. Dandung Bardo Kahono. Pada acara ini Yayasan Study Bahasa Jawa ‘Kanthil’ Jawa Tengah memberikan Tanda Penghargaan kepada Pondok Seni dan Budaya Boediardjo, atas jasa dan pengabdiannya sebagai pelestari Kebudayaan Jawa khususnya dalam pagelaran wayang kulit dari tahun 1991 sampai dengan 2019, untuk membentuk Karakter Bangsa. Tanda penghargaan tersebut diserahkan ketuanya. Prof. Dr. Dr. Sutomo WE, M.Pd., kepada Ketua Yayasan Boediardjo, Drs. Dandung Bardo Kahono.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ir. Sri Puryono KS, MP selaku Pembina Yayasan Study Bahasa Jawa ‘Kanthi’ dalam sambutan tertulis yang disampaikan Joko Wicaksono, sangat mengapresiasi kegiatan rutin pagelaran wayang kulit di Pondok Seni dan Budaya Boediardjo ini. Dia mengharapkan, pagelaran wayang kulit ini dapat menggandeng Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, sehingga berdaya guna dalam mendukung berkembangnya perekonomian di Jawa Tengah.
Susunan pengurus baru Pondok Seni dan Budaya Boediardjo, sebagai Penanggung Jawab, H. Omar Faisal, penasehat: Ketua Yayasan, Drs. H. Sumardjoko dan Bu Niniek. Untuk Dewan Pakar adalah Drs. H. Teguh Biantoro, Drs. Hadi Supeno dan Dr. Junaidi S.Kar., M.Hum. Pengurus Pelaksana, sebagai Ketua: Muhammad Reza, Sekretaris: Asif Rifa’i dan Rachel Louise Harrison, dan Bendahara: Iwan Wiwoho Boediardjo. Penghubung Antar Lembaga: Drs. Wuryanto M, M.Pd dan Dr. Junaidi S.Kar., M.Hum. Koordinator Pertunjukan/Pagelaran: H. Lukito Sari. Seksi Pewayangan, Susilo Anggoro, SE dan Eko Sanyoto. Seksi Dongeng Anak: Drs. Budi Ismoyo. Seksi Pengajian: Hasan Basuki dan H. Muhlasin. Seksi Konsumsi: Tipluk. Seksi Kesenian Rakyat: Eko Sanyoto dan Tandang Satoto. Koordinator Pelestari dan Pengembangan: Ir. H. Wiyoto, Susilo Handoyo, S.Sn., ST Sukiman. Dokumentasi, Amat Sukandar dan Pondok Tingal. Perlengkapan: Cipto Reno dan Pondok Tingal. Pembantu Umum: Ir. Hadi Susilo dan Budi Susanto.
Hotel Pondok Pondok Tingal di Jl. Balaputera Dewa nomer 32 Borobudur, Magelang, dibangun oleh H. Boediardjo (almarhum), diresmikan oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (kala itu), Soesilo Soedarman, pada tanggal 27 April 1991. Pembangunan hotel ini karena kala itu belum ada tempat penginapan khususnya untuk para remaja yang sedang berwisata di Candi Borobudur. Bentuk bangunan-bangunan di hotel ini dengan pendapa joglo Jawa, rumah panggung model Bugis dan rumah limasan gaya Banyumasan. Di sini juga ada Museum Wayang ‘Gunarasa’ yang menyimpan berbagai jenis wayang, dari wayang suket, wayang kulit sampai wayang golek yang berasal dari berbagai daerah dan juga dari manca negara. Dan gamelan yang disimpan di museum ini bernama Kyai Manasuka. Semua itu merupakan koleksi dari Bapak Boediardjo almarhum.
Semasa hidupnya, Pak Boed pernah menjabat Menteri Penerangan, Duta Besar, Atase Militer dan Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan. Kedudukannya menjadi Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur & Prambanan, kala itu merupakan tugas dalam upaya membangun Taman Wisata Candi Borobudur (yang semula bernama ‘Taman Purbakala Nasional’ atau Tapurnas) sangat berat dan banyak hambatannya. Karena beliau menghadapi warganya sendiri dalam melaksanakan pembebasan tanah untuk membangun taman purbakala nasional tersebut. Sehingga kala itu dia dianggap sebagai “musuh” oleh sebagian warga Borobudur yang tanah pekarangan dan rumahnya digusur.
Terkait dengan peringatan ‘Hari Kartini’ pada bulan April ini, pergelaran rutin wayang kulit pakeliran padat yang ke-264 dan peringatan ulang tahun ini digelar lakon ‘Dewi Durgandini’ dengan dhalang putri Nyi Fitri Bima Asih dari ISI Yogyakarta. Wayang kulit tokoh Dewi Durgandini diserahkan kepada nyi dalang oleh H. Omar Faisal. Pagelaran wayang kulit di Pondok Seni dan Budaya Boediardjo ini diselenggarakan pada malam minggu terakhir setiap bulan, kecuali pada bulan Ramadhan.
Lakon ‘Dewi Durgandini’ dipetik dari Cerita Maha Bharata. Dan ringkasan ceritanya, bermula ketika Dewi Durgandini yang ingin putranya menjadi raja. Diawali dengan melakukan tapa brata di tepi Bengawan Gangga, menyamar sebagai juru tambang atau juru satang perahu yang siap memberikan pertolongan kepada siapa saja yang akan menyeberang bengawan tersebut.
Pada suatu hari, ada seorang raja bernama Raden Palasara yang diseberangkan dengan menaiki perahu yang disatangi Dewi Durgandini. Laju perahu yang terguncang karena dilanda ombak dan angin besar menyebabkan kain yang dipakai Dewi Durgandini tersingkap. Keadaan ini menyebabkan timbul dan menggeloranya rasa cinta Raden Palasara kepada sang dewi, dan akhirnya mereka ‘palakrama’ (menikah) dan mendirikan negara Gajah Oya di tepian Bengawan Gangga. Putra Dewi Durgandini dan Raden Palasara lahir laki-laki dengan nama Raden Kresna Dwipayana atau Raden Abiyasa.
Dalam cerita ini juga membeberkan nasehat yang bermakna pelajaran budi pekerti luhur. Keluhuran diawali dari ketekunan dan rendah hati. Kebahagiaan diawali dengan perilaku hati-hati dan teliti. Kesaktian diawali dengan bertapa brata. Kesejahteraan awalnya dengan awas terhadap keadaan dan ingat ajaran budi luhur. Kebijaksanaan bermula dari telaten dan rajin belajar. Bahagia di hari tua diawali dengan sikap sabar, menerima, rela dan bertapa. Kedudukan diawali dengan rasa asah, asih dan asuh. Akhir cerita, mematuhi semua yang mempunyai permohonan, bila benar-benar tekun, dewa akan memberikan pertolongan.
General Manager Hotel Pondok Tingal, Muhammad Reza menjelaskan, tema peringatan HUT ke 28 Hotel Pondok Tingal kali ini, “Culture Journey Pondok Tingal 28th”. Rangkaian acara peringatannya diawali dengan ziarah ke makam almarhum Pak Boediardjo dan peletakan batu pertama renovasi sebagian bangunan hotel. Beberapa kegiatan yang digelar antara lain dongeng anak oleh Ki Roni Sadewa, Pencak Silat, jathilan dari Kerug Munggang Majaksingi, pagelaran tari dari Sanggar Tari Joglo Pete, Majaksingi, dan kesenian-kesenian lainnya. “Semoga Hotel Pondok Tingal sebagai salah satu akomodasi pariwisata di Borobudur dapat tetap menjaga profesionalitas dan meningkatkan kualitas dalam melayani tamunya,” jelas Muhammad Reza.- ASk