Beranda budaya Tetenger Dari Karaton Surakarta untuk Makam Kyai Ageng Karotangan

Tetenger Dari Karaton Surakarta untuk Makam Kyai Ageng Karotangan

639
0

SIAGAINDONESIA.COM – Pengageng Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, Dra. Gusti Kanjeng Ratu Koes Moertiyah Wandansari M.Pd, telah menandatangani ‘tetenger’ untuk memuliakan dan menetapkan ‘Astanaluhur Paremono’ sebagai makam leluhur Kasultanan Mataram. Dalam penetapan ‘tetenger’ itu didukung oleh para Sentana darahdalem, Abdidalem dan Kawuladalem. Makam tersebut berada di kompleks Astanalaya Pasarean Agung Paremono dusun Trojayan desa Paremono Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang. Acara ini bersamaan dengan tradisi Nyadran di makam tersebut pada hari Rabu Legi tanggal 25 Ruwah 1952 Be atau 1 Mei 2019 Masehi. Siraman rohani pada acara Nyadran oleh Gus Hasfi Firdausi dari Watucongol, desa Gunungpring, Muntilan.
Dra. GKR Koes Moertiyah Wandansari M.Pd dalam sambutannya mengatakan, alur dan sejarahnya leluhur Mataram yang dimakamkan di sini telah ditelusuri bahwa Kyai Ageng Karotangan adalah adik dari Kyai Ageng Pemanahan. Tetenger ini untuk memuliakan leluhur Kasultanan Mataram yang dimakamkan di Astanaluhur Paremono, yang selama ini telah dirawat dan dimuliakan oleh warga masyarakat Paremono.
Para leluhur Kasultanan Mataram yang dimakamkan di sini adalah Kyai Ageng Karotangan, Kyai Patih Aryo Sindurejo I, Bendara Raden Ayu Kleting Kuning I dan Adipati Sindurejo II. Disamping itu di kompleks makam ini juga ada puluhan makam para pengikut Kyai Ageng Karotangan.
Kyai Ageng Karotangan yang merupakan leluhur Kasultanan Mataram makamnya berada di bagian paling utara kompleks pemakaman Astanalaya Pasarean Agung Paremono. Makam tersebut berada di luar cungkup. Makam trah Mataram ini berbeda dengan makam-makam yang lain. Ragam hias nisan di pusara-pusara kuna bercorak era awal berdirinya Kasultanan Mataram. Ada makam yang nisannya terpahat ukiran seperti lambang ‘Cakra Kerajaan Majapahit’ dan gambar bulan sabit. Bentuk nisan makam sama dengan yang ada dikompleks pemakaman Ki Ageng Anis di Laweyan Surakarta dan di kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Kota Gede, Yogyakarta.
Kyai Ageng Karotangan kala kecil bernama Bagus Bancer. Dia adalah adik Kyai Ageng Pemanahan yang nama kecilnya Bagus Kacung. Tahun kelahirannya diperkirakan antara tahun 1431 – 1481 M. Mereka putra Ki Ageng Anis, cucu Ki Ageng Sela. Masa kecil Bagus Bancer berada di Sela, di daerah Purwodadi Grobogan. Watak dan kepribadiannya oleh sang kakek dididik dengan sangat disiplin, terutama ilmu agama dan tata susila. Salah satu ajaran sang kakek adalah ‘Pepali Kyai Ageng Sela’, yaitu ajaran kata-kata hikmah berupa wejangan berbudi luhur.
Ketika terjadi pemberontakan Arya Penangsang, Sultan Hadiwijaya menggelar sayembara, “Barangsiapa yang dapat mengalahkan Arya Penangsang akan diberi hadiah tanah perdikan yaitu Pati dan Alas Mentaok”. Ki Ageng Pemanahan (Bagus Kacung), Ki Penjawi, Ki Juru Mertani mengikuti sayembara. Mereka bertiga dibantu perajurit Pajang dapat mengalahkan Arya Penangsang. Kyai Ageng Pemanahan oleh Sultan Hadiwijaya pada tahun 1556 diberi sebuah wilayah di bagian barat daya Kasultanan Pajang yang bernama “Bumi Mentaok”. Tanah itu merupakan bekas Kerajaan Mataram Hindu. Kala itu kawasan ini berupa hutan yang terbentang antara daerah Yogyakarta sampai dataran Kedu.
Kyai Ageng Pemanahan berhasil membuka Alas Mentaok pada tahun 1558, yang dulunya terkenal angker dan banyak dihuni binatang buas. Alas Mentaok kemudian menjadi desa Mataram yang semakin berkembang. Kyai Ageng Pemanahan menginginkan babat alas Bumi Mentaok ini diperluas dan meminta bantuan adik kandungnya, Bagus Bancer atau Kyai Ageng Karotangan. Bagus Bancer diserahi tugas untuk membuka hutan di daerah barat Gunung Merapi. Daerah ini mencakup wilayah dataran Kedu dan sekitarnya yang tak kalah angker dibandingkan dengan Alas Mentaok di daerah Yogyakarta.
Bagus Bancer juga mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi. Dia membuka hutan atau ‘babat alas’ di kawasan Kedu, hanya menggunakan tangan kosong meski mempunyai senjata pusaka Kudi. Dia membabat hutan di daerah Kedu sampai wilayah yang sekarang disebut Wates di Magelang. Julukan Kyai Ageng Karotangan karena dalam babat alas hanya dengan (karo, bahasa Jawa) tangan.
Setelah Kyai Ageng Karotangan usai babat alas di dataran Kedu/Magelang, bermaksud kembali pulang ke Mataram. Namun ketika dia tiba di suatu wilayah di kaki barat Gunung Merapi, menjumpai beberapa mata air. (Sampai kini mata air itu masih ada yaitu Mataair Combrang dan mataair Cebol di desa Paremono). Di sini dia melihat hamparan tanaman padi yang tumbuh subur. (Persawahan ini sekarang disebut sawah Jomblang, di sebelah selatan dusun Paremono). Di sini dia bertemu dengan seorang petani, Kyai Jomblang. Kyai Ageng Karotangan heran, karena di daerah ini terdapat hamparan luas tanaman padi yang tumbuh subur. Kemudian dia berkata, “Wis ana pari.” (Sudah ada padi).
Menjumpai sebuah desa dengan pemandangan yang indah dan tanahnya subur, Kyai Ageng Karotangan dan para pengikutnya memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram di Mentaok. Akhirnya mereka bertempat tinggal di daerah ini. Kini desa ini dikenal dengan nama desa Paremono, dari asal kata “Pari ana”, dan pengucapannya berubah menjadi “paremana” (yang ditulis “Paremono”).
Di desa ini Kyai Ageng Karotangan menyebarkan agama Islam. Dia berdakwah selaras dengan petunjuk Dewan Walisanga. Kyai Ageng Karotangan juga mengajarkan cara bercocok tanam yang baik kepada warga desa. Dalam mengajarkan agama Islam, dia lebih banyak memberikan contoh. Misalnya, saat tiba waktu sholat dhuhur di sawah, beliau tak segan-segan untuk meminta air wudhu kepada warga dan melaksanakan sholat di tempat terbuka. Dalam waktu tidak lama dia mendapat banyak pengikut. Nama Kyai Ageng Karotangan semakin dihormati sebagai pemimpin agama yang juga mengajarkan ilmu pertanian. Kepiawaian Kyai Ageng Karotangan dalam bidang pertanian sampai sekarang menjadi warisan yang masih dilestarikan oleh warga desa Paremono. Pada tahun antara 1575 M – 1595 M, Kyai Ageng Karotangan wafat dan dimakamkan di Pagergunung (sekarang orang menyebutnya Gergunung), yang letaknya di antara dusun Sumping Wetan (Simping Wetan) dan Sumping Kulon (Simping Kulon). Karena dimakamkan di Pagergunung maka dia juga dijuluki Kyai Ageng Pagergunung.- ASk