Beranda aneka Sunar, Si Kades Pembawa ‘Gayam’ Kompetitif Dan Inovatif

Sunar, Si Kades Pembawa ‘Gayam’ Kompetitif Dan Inovatif

206
0

SIAGAINDONESIA.COM – Untuk mewujudkan desa yang mandiri dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam merealisasikiannya. Sehingga desa dapat memanfaatkan potensi fisik dan non fisik yang dimilikinya serta kekayaan alamnya.

Menjadikan desa modern, dan masyarakatnya memiliki mata pencaharian yang beragam, serta sarana-prasarana yang bisa menunjang warga masyarakatnya.

Seperti yang disampaikan Sunar (47) Kepala Desa (Kades) Gayam, Kecamatan Kendal, Ngawi mampu mengadopsi kepentingan masyarakatnya sebanyak 2.500 jiwa atas 5 wilayah dusun.

Kades dua periode ini terus mengeksplorasi keberadaan desa untuk bisa keluar dan bersaing dengan desa lainya. Baru-baru ini yang ia gagas adalah menciptakan taman buah diatas lahan desa.

“Kami berupaya bersaing terus dengan menciptakan terobosan yang ada. Tentunya sesuai dengan kemampuan desa melalui BUMDes akan kita realisasikan taman buah,” terang Sunar, Rabu, (08/05/2019).

Mengapa hal itu dilakukan bebernya, motivasinya adalah untuk merangsang generasi muda agar berpikir kreatif untuk membuat karya-karya yang menarik.

Berbagai potensi yang ada di desa sangat mungkin dapat dikembangkan dan dapat mewujudkan kegiatan berbasis usaha ekonomi masyarakat jika dikemas dengan cara yang kreatif dan inovatif.

Sunar yang menjabat sebagai Kades Gayam sejak 2007 orientasinya tidak lain menciptakan desa yang benar-benar mandiri. Mengingat selama ini pembangunan insfrastruktur terutama jalan maupun jembatan dianggap telah rampung.

Sumber dana yang mengucur dari pusat terutama ADD bakal dijadikan bekal pilot project atas program-programnya.

“Sebisa mungkin Gayam ini sebagai desa percontohan nantinya. Caranya dengan mengoptimalkan anggaran yang ada dan dikelola bersama melalui BUMDes,” ulasnya.

Sunar berpendapat, membangun desa dalam konteks sesuai amanah UU No 6 Tahun 2014 setidaknya mencakup upaya-upaya untuk mengembangkan keberdayaan dan pembangunan masyarakat desa di bidang ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

Dalam implementasi program tidak cukup hanya menyediakan basis dukungan finansial terhadap rakyat miskin, tapi juga mendorong usaha ekonomi desa dalam arti luas.

Secara otomatis terciptanya kegiatan-kegiatan yang membuka akses produksi, distribusi, dan pasar bagi rakyat desa dalam pengelolaan kolektif dan individu mesti berkembang dan berlanjut.

Kemudian menyorot soal pemerintahan desa yang bersih pungkas Sunar, dilakukan secara bertahap dalam rangka membangun good governance di era reformasi. Mewujudkan pemerintahan yang baik menjadi sesuatu hal yang tidak dapat ditawar lagi, dan mutlak terpenuhi.

Good governance secara umum dimaknai sebagai konsensus yang dicapai pemerintah, warga negara, dan sektor swasta dalam penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bertanggung jawab. (pr)