Beranda Bisnis Relokasi Pedagang Pasar Kedinding, Akankah Semua Pedagang Pasar Lama Kebagian?

Relokasi Pedagang Pasar Kedinding, Akankah Semua Pedagang Pasar Lama Kebagian?

17
0
Pertemuan calon pedagang Pasar Kedinding

SIAGAINDONESIA.COM – Rencana penataan pedagang Pasar Lama di Jalan Nambangan Surabaya, menjadi Pasar Kedinding Surya menyisahkan keresahan. Penghuni stand di pasar lama yang telah berdiri sejak tahun 2000 itu akan dipindahkan ke bangunan baru, tak jauh dari lokasi pasar lama. Dengan ketentuan satu pedagang dapat menempati satu stand. Akankah semua pedagang pasar lama kebagian stand, di pasar baru itu?

 

Selanjutnya, setelah lebaran pasar lama yang berdiri di lahan milik Pemerintah Kota Surabaya itu akan dibersihkan atau dibongkar. Peruntukannya kemudian menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH), sesuai dengan yang disampaikan

oleh Kasatpol PP Pemkot Surabaya, Irvan Wijayanto, di pertemuan dan sosialisasi kepada pedagang atau calon penghuni pasar baru, Senin (13/5/2019).

 

Hadir di pertemuan itu, selain Kasatpol PP Irvan, para pedagang yang akan menempati stan, ada Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang yang diwakili Camat Kenjeran dan Kelurahan Bulak.

 

Acara dimulai pukul 13.30 WIB, diawali sambutan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Widodo Suryantoro; dilanjutkan sosialisasi dari Dinkop. Isinya memberikan himbauan kepada para calon pedagang untuk segera dapat pindah ke pasar baru yang telah dibangun. Itu bertujuan agar pedagang dapat segera merasakan perbandingan dan manfaat antara pasar lama dengan pasar baru yang lebih tertata.

 

“Di pasar baru di jalan Nambangan ini, tidak dipungut biaya sedikitpun, semua pedagang diberikan stan secara gratis tinggal menempati. Tentu disesuaikan dengan data yang telah dipegang oleh Dinas Koperasi, siapa saja yang nanti dapat menempati, dan dengan cara diundi, dan rencananya jadwal pengundian stan dilakukan hari Rabu mendatang,” ujar Widodo.

 

Widodo menyebut, pedagang yang akan menempati bedak-bedak di pasar baru itu, tidak dikenakan pungutan apapun. Termasuk penggunaan air PDAM dan juga listrik.  

 

“Tidak ada pungutan apapun, semua gratis, jadi pedagang hanya tinggal menempati saja,” tegas mantan Kadis Pariwisata Pemkot Surabaya itu.

 

Irvan menambahkan, mereka para calon pedagang yang sudah terdata sebelumnya, masuk dalam daftar dan dianggap sebagai pedagang resmi. “Jadi tidak usah melalui siapa siapa lagi, tidak perlu melalui perantara untuk mendapatkan stan. semua sesuai data dibagikan secara gratis oleh Pemkot Surabaya melalui Dinas Koperasi dan UMKM Pemkot Surabaya,” terangnya.

 

Ditambahkan, ketersediaan stan yang tidak mencukupi sesuai dengan jumlah pedagang di pasar lama, nantinya kalau ada sisa akan diatur pembagiannya, kepada mereka yang belum kebagian.

 

“Semua dilakukan secara transparan. Tidak dipungut biaya apapun, jika nanti ada pungutan, silahkan lapor ke Kadis Koperasi atau ke Pak Dwija. Karena pasar ini milik Pemerintah Kota Surabaya,” tambahnya.

 

Rabu besok, pedagang pasar lama yang sudah terdata akan diundi, selanjutnya bisa memulai menempati stan-stan yang sudah siap.

 

“Mau setelah lebaran monggo, mau soft opening dulu monggo. Pasar lama akan dialihkan sebagai RTH (Ruang Terbuka Hijau), yang jelas segera dilakukan pembongkaran, maaf ini bukan men dead line. Kalau ada yang tidak mau pindah nanti urusannya dengan saya (Pol PP),” tegasnya.

Bangunan baru Pasar Kedinding

Sementara, di kesempatan tanya jawab. Seorang pedagang bernama Ali, melontarkan pertanyaan apakah ada kelebihan stan. Karena, masih banyak pedagang lama yang tidak didaftar. Dia juga menyebut, data yang dilakukan Dinkop banyak pedagang wajah baru.

 

“Kok banyak pedagang wajah-wajah baru, apakah benar nanti ada

kelebihan stan, sedangkan jumlah stan dengan jumlah pedagang lama yang menempati di pasar Kedinding Surya jelas dapat tidak tertampung semuanya, bagaimana ini?,” tanya Ali.

 

Kemudian, Abah Anis yang namanya dikenal sebagai pendiri dan pengelola sejarah berdirinya pasar lama, yakni sejak tahun 2000 itu, sempat menyoal tidak adanya sosialisasi dan pendataan yang melibatkan paguyuban pasar Kedinding Surya.

 

“Maaf, terkesan pendataan dilakukan sendiri oleh pihak Pemkot Surabaya, dalam hal ini Dinas Koperasi dan UMKM. Sehingga banyak pemilik stan lama yang seharusnya mendapat jatah stan, justru tidak mendapat jatah dan diberikan kepada penyewa stan, bukan kepada pemilik stan, tolong ini diperhatikan,” kata Abah Anis.

 

Lelaki itu juga menyoroti jumlah stan (di pasar baru) yang menurutnya kurang sesuai kuota atau jumlah pedagang di pasar lama, itu akan menimbulkan kecemburuan.

 

“Karena, jumlah pedagang di pasar lama sekitar 300-an lebih, bagaimana ini,” katanya.

 

Sebagai pendiri dan pengelola keberadaan pasar lama dengan modal pribadi, dirinya menyebut tidak dilibatkan dalam pendataan pedagang yang akan ditempatkan di pasar baru. Selain itu soal jumlah juga dikhawatirkan akan memunculkan persoalan.

 

Menanggapi pertanyaan dan kalimat bernada protes itu, dinas terkait

berjanji akan memperhatikannya. Dengan mengatakan, nantinya akan ada pembicaraan lebih lanjut.

 

Saat berbincang dengan wartawan, Abah Anis mengaku dirinya yang melakukan “kerja keras” menjadikan lahan yang sebelumnya kosong itu menjadi pasar, hingga saat ini.

 

Namun, setelah bergulir program relokasi pedagang dari pasar lama ke lokasi baru, dia mengaku diabaikan dan tidak pernah diajak bicara.

“Sejarahnya, sejak tahun 2000 lahan ‘tidur’ milik Pemkot Surabaya itu saya kelola. Dengan biaya, keringan sendiri dan ‘berdarah-darah’ kemudian menjadi pasar. Dan, itu ada suratnya untuk hak kelola selama 20 tahun. Sekarang, kalau mau diambil alih dan dikelola oleh Pemkot Surabaya, selanjutnya lahan ini menjadi RTH, bagaimana dengan keberadaan saya?,” tegasnya.tji