Beranda budaya Waisak 2563 BE, Pahami Hati Tampakkan Kesejatian Diri

Waisak 2563 BE, Pahami Hati Tampakkan Kesejatian Diri

18
0

SIAGAINDONESIA.COM – “Keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia pada hakekatnya adalah merupakan kekuatan, bukan hal yang melemahkan. Artinya, kita menghargai kebangsaan kita dengan kebhinekaan. Perbedaan bukanlah kelemahan, melainkan perbedaan adalah kekuatan,” tegas Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya pada acara Peringatan Tri Suci Waisak 2563 BE/2019 M di pelataran Candi Borobudur, Sabtu, 18 Mei 2019.
Menurut Menteri Agama, demokrasi mampu mengelola keberagaman yang ada di Indonesia. Keberagaman juga merupakan interpretasi kehidupan umat beragama yang dalam konteks demokrasi sebagai upaya untuk membangun semangat kebersamaan. “Kita semua meyakini bahwa inti ajaran agama adalah kasih sayang bukan kebencian. Semangat inilah yang akan kita rawat sebaik – baiknya. Kita harus mencegah berbagai upaya yang membuat kehidupan kita bersama menjadi terpecah dan menimbulkan konflik, “ harap Menteri Agama. Melalui momentum peringatan Hari Tri Suci Waisak ini menteri mengajak kepada seluruh umat beragama untuk melakukan evaluasi diri. Karena evaluasi diri ada pada setiap agama. Momentum ini merupakan kesempatan untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi diri sekaligus mensucikan diri untuk melakukan perubahan, dengan tujuan yang sama yaitu bagaimana kebahagiaan dan keharmonisan dapat terwujud.
Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Dra. S. Hartati Murdaya, selaku Ketua Panitia Waisak Nasional 2563 BE/2019 M menjelaskan, peringatan Hari Tri Suci Waisak untuk mengenang kemuliaan dan keguruan Sang Buddha Gautama, sehingga bisa mengembangkan kebajikan dan kebahagiaan diri dalam dunia ini. Perayaan tahun ini bertema ‘Pahami hati tampakkan kesejatian diri’. Maknanya, bagaimana melatih diri untuk memerangi musuh yaitu ego yang ada dalam diri sendiri yang membuat manusia selalu terkungkung dalam hawa nafsu. Dia juga mengajak umat Buddha untuk membuka lembaran kehidupan masa depan yang lebih baik. Kehidupan yang tidak selalu diliputi oleh kecongkakan, hawa nafsu, kebodohan dan keserakahan.
Dalam renungan Waisak 2563 BE, Bhiksu Tadisa Paramita Mahasthavira mengatakan, banyak umat manusia hanya tertarik dan tertuju pada dimensi di luar dirinya dan juga memuja keluar. Namun tidak memahami hati, tidak bisa introspeksi dan tidak bisa koreksi diri. “Bagaimana dia bisa melatih diri, kalau tidak menampakkan kesejatian diri. Dan bagaimana dia bisa terbebas dari siklus tumimbal lahir,” katanya. Karena, pada umumnya umat tidak memahami hati dan tidak menampakkan kesejatian diri, sehingga banyak manusia hatinya terlantar, gelap, kotor, sakit, dan merajalela. Akibatnya, hati menjadi bingung, berperilaku buruk, kebiasaan buruk, karakter buruk dan nasib pun menjadi buruk. Imbasnya, hubungan dengan keluarga dan masyarakat juga menjadi buruk. Karena hati tidak dikendalikan, hati mudah tergoda, terjerat serta terbius oleh kondisi di luar,” ungkap Tadisa.
Tuntunan meditasi menjelang detik-detik Waisak oleh Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera. Detik-detik peringatan Waisak 2563 BE pada pukul 04.11 WIB hari Minggu, tanggal 19 Mei 2019, yang ditandai dengan pemukulan gong tiga kali, pemercikan air berkah, dan pembacaan ‘Paritta Jayanto’. Dalam acara ini umat bersikap tangan anjali. Rangkaian acaranya ditutup dengan Namaskara Gatha dan pradaksina mengelilingi Candi Agung Borobudur sebanyak tiga kali dengan diiringi nyanyian ‘Buddham Saranam Gacchami.’
Rangkaian kegiatan perayaan Waisak Nasional 2563 BE/2019 M di Candi Borobudur diawali Selasa dan Rabu tanggal 14 – 15 Mei 2019 dengan Bakti Sosial pengobatan gratis di pelataran Taman Lumbini kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Rabu, 15 Mei 2019 pradaksina dan Kebaktian San Pu Yi Pai dipimpin oleh Bhiksu Tadisa Paramita Mahasthavira di Candi Mendut.
Kamis, 16 Mei 2019 pengambilan Air Berkah di Umbul Jumprit, Parakan Kabupaten Temanggung dan puja bhakti pensakralan Air Berkah oleh pada bhikkhu sanggha dan rohaniawan, majelis-majelis Agama Buddha dan LKBI secara bergantian. Selanjutnya Air Berkah dibawa ke Candi Mendut untuk disakralkan. Jum’at, 17 Mei 2019 pengambilan api alam dari Mrapen Grobogan dan dibawa ke Candi Mendut untuk disakralkan.
Sabtu pagi, 18 Mei 2019 Pindapatta di Candi Mendut. Di sini dari pagi sampai siang diselenggarakan kebaktian, pembacaan paritta suci di halaman candi. Siang harinya, dilaksanakan prosesi dari Candi Mendut menuju ke halaman Candi Borobudur. Prosesi Waisak dilepas oleh Ketua Umum Walubi, Dra. S. Hartati Murdaya dengan mengibaskan bendera. Dalam prosesi ini diusung Relik Sang Buddha, Api Alam dan Air Berkah serta gunungan hasil bumi. Prosesi diikuti para bhikku dan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia. ASk