Beranda News Sidang Kasus Prostitusi Online, Ahli IT Benarkan Keaslian Bukti Percakapan Vanessa

Sidang Kasus Prostitusi Online, Ahli IT Benarkan Keaslian Bukti Percakapan Vanessa

17
0
Vanessa Angel Mengenakan Kerudung Motif Warna Hijau Usai Menjalani Sidang, (foto: Ad)

SIAGAINDONESIA.COM Dua orang saksi ahli, Prof Muhammad Hariyadi ahli UU ITE dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) dan Hadi Setiono dari labfor Polda Jatim, dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jatim di persidangan kasus UU ITE atas penyebaran foto-foto berkonten pornografi dengan Vanessa Adzania alias Vanessa Angel sebagai terdakwa, Senin (20/5/2019).

Prof Muhammad Hariyadi membenarkan terkait keaslian terkait foto dan percakapan Vanessa Angel dengan ketiga mucikari di HP Vanessa maupun mucikari tersebut. Karena pada waktu Ia di Polda Jatim, sebelumnya telah meneliti data-data dari alat komunikasi yang berupa teks dan foto, seperti halnya percakapan Vanessa dengan tiga mucikari.

“Apakah untuk masalah ini terjadi transaksi atau tidak, saya tidak berwewang memberikan jawaban seperti itu, saya cuman bilang jika data ini valid, karena sudah diekstrak oleh pihak forensik kepolisian. Datanya hanya foto dan teks,” kata Muhammad Haryadi kepada wartawan usai persidangan.

Dalam persidangan itu secara subtasinsi Hariyadi menjelaskan adanya kekhwatiran rekayasa data dalam kasus Vanessa.

“Jadi begini. Kan dikhawatirkan data itu rekayasa. Makanya sebetulnya dalam teknologi informasi itu tidak ada teknik informatika, yang ada informasi. Karena informasi itu tidak boleh direkayasa. Karena semua data yang dikirim di handphone tersimpan dalam read only memori, jadi hanya bisa dibaca. Jadi data yang diekstrak oleh pihak kepolisan dengan hak-hak khusus itu pasti data Valid,” jelas Hariyadi.

Dalam data-data yang dijadikan alat bukti oleh kepolisian dalam kasus Vanessa dan Muncikari ini, Hariyadi kembali memastikan jika data itu valid dan ditemukan komunikasi Vanessa dengan muncikari.

“Insyaallah asli. Karena saya mendaptkan data-data itu dari kepolisian. Masak kepolisian membohongi saya,” ungkap Hariyadi.

Hariyadi juga menceritakan dalam proses BAP, pihaknya dimintai pendapat oleh pihak penyidik terkait keaslian data tersebut.

“Ketika saya disuruh membuat BAP, saya ditunjukkan data-datanya itu. Jadi objektif sekali. Saya hanya menilai data ini asli dan ditransmisikan secara elektronik. Dari time stan, semua kode forensiknya semua valid,” tandas Hariyadi. Ady