Beranda budaya Sunan Geseng, Murid Setia Sunan Kalijaga

Sunan Geseng, Murid Setia Sunan Kalijaga

190
0
Peziarah makam Sunan Geseng
Para peziarah berdoa di makam Sunan Geseng.

SIAGAINDONESIA.COM  Masyarakat di wilayah Kabupaten Magelang meyakini makam Sunan Geseng dengan dua nisan kembar berada di desa Tirto Kecamatan Grabag, kira-kira 25 kilometer dari kota Magelang. Kini, cungkup makamnya \sudah dipugar.

Di makam Sunan Geseng ada sepasang yang dikelilingi dinding berkaca. Makam mana yang berisi jenazah Sunan Geseng, tak seorangpun tahu.

Makam Kyai Wonotirto, sesepuh desa itu, berada sebelah barat makam Sunan Geseng. Makam ini berada di puncak sebuah bukit di kaki barat Gunung Andong.

Sunan Geseng adalah seorang mubaligh asal desa Bedhug, Bagelen, Purworejo. Dia adalah murid atau santri yang taat dan setia kepada gurunya, Sunan Kalijaga. Nama aslinya Cakrajaya, penyadap nira.

Karena sangat miskinnya, di desanya dia dijuluki Ki Petungmlarat. Tetapi dia rajin ngelakoni tirakat dan tapabrata untuk mendalami ilmu Kejawen, sehingga mampu memiliki kesaktian.

Setiap kali Ki Cakrajaya menyadap nira (nderes). Dia memanjat pohon kelapa sambil melantunkan tembang yang sekaligus juga sebagai mantra.

Clonthang clanthung wong nderes buntute bumbung, apa gelem apa ora,” demikian tembangnya.  

Ketika dia memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira sambil melantunkan tembang itu, di bawah ada seseorang yang menegurnya,”Hai ki sanak, tidak begitu doanya bila mau menyadap nira. Doanya dengan menyebut Asma Allah.”

Kemudian dia berkata kepadanya, “Bila ki sanak akan melakukan sesuatu pekerjaan awalilah dengan membaca dua kalimat syahadat dan menyebut asma Allah,” kata orang tersebut.

Orang yang belum dikenalnya itu kemudian diajak singgah ke rumah Ki Cakrajaya. Di rumahnya, tamu itu meminta ijin untuk ikut mencetak setangkep gula jawa dengan cetakan tempurung kelapa.

Sebelum pamit, tamu itu berpesan, “Jangan sekali-kali cetakan gula itu dibuka sebelum saya pergi meninggalkan rumahmu ini.”

Ketika sang tamu telah jauh dari rumahnya, bergegaslah Ki Cakrajaya membuka cetakan gula jawa itu. Ketika tempurung cetakan gula jawa itu dibuka, dia sangat kaget dan terheran-heran. Karena di dalam cetakan itu bukanlah berisi setangkep gula jawa, tetapi sebongkah emas yang menyilaukan matanya.

“Tamu itu mesti bukan orang sembarangan,” pikir Ki Cakrajaya.

Di balik kegembiraan ini Ki Cakrajaya hatinya tetap penasaran.

“Siapa sebenarnya orang itu, aku akan mencari dan berguru kepadanya,” begitu niatnya dalam hati.

Menjaga tongkat selama 17 tahun

Di sebuah hutan, Ki Cakrajaya akhirnya bertemu dengan orang “sakti” itu yang tidak lain adalah Sunan Kalijaga, yang tengah berkelana menyebarkan agama Islam di kawasan Jawa Tengah bagian selatan.

Kemudian dia menyampaikan niat dan keinginannya untuk bisa berguru dan menimba ilmu agama kepada Sunan Kalijaga.

Mendengar niat yang tulus dari Ki Cakrajaya, Sunan Kalijaga bersedia menerimanya sebagai muridnya.

Di tengah pengembaraannya untuk menyebarkan agama Islam itu, pada suatu hari Sunan Kalijaga bermaksud akan menunaikan ibadah ke Mekah. Dia meminta Ki Cakrajaya untuk menunggu di suatu tempat yang ditandai dengan tancapan tongkat bambunya.

Cakrajaya patuh (sendika dhawuh) terhadap perintah Sunan Kalijaga, dan dengan taat dan setia dia menunggu di tempat itu dengan patuhnya.

Konon, Ki Cakrajaya ditinggal Sunan Kalijaga selama tujuh belas tahun. Begitu lamanya menunggu, tongkat bambu itu tumbuh dan berkembang menjadi hutan bambu yang cukup lebat, menutup tempat Ki Cakrajaya duduk menunggu kembalinya sang guru.

Ketika Sunan Kalijaga kembali dan melihat tempat itu sudah berubah menjadi hutan bambu, dan Ki Cakrajaya sulit ditemukan. Agar mudah mencari murid setianya itu, kemudian Sunan Kalijaga membakar hutan bambu dan tampaklah Ki Cakrajaya di tengah abu rumpun bambu.

Dia tidak mati tetapi badannya geseng (hangus). Dan sejak saat itu, Sunan Kalijaga memanggil Ki Cakrajaya dengan julukan Geseng.

Menurut ceritera legenda versi Purworejo, tempat penantian itu di Desa Megulung, di daerah Bagelen. Tetapi menurut legenda versi Yogyakarta, tempat itu ada di desa Muladan yang terletak di Dlingo, Bantul.

Nama itu berasal dari kata “mulad-mulad”, artinya api yang berkobar.

Dari desa itu, Geseng diajak melanjutkan perjalanan ke arah timur. Di suatu tempat, Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya dan menyembullah mata air. Luapan air dari mata air itu berubah menjadi sebuah sendhang, dimana Geseng mandi membersihkan badannya setelah hangus terbakar.

Tempat itu kini bernama Sendang Banyuurip, dan sungai tempat mandi Geseng adalah Kedung Pucung. Desa dimana Geseng mulai nyantri dan mengaji kini disebut Ngajen. Desa-desa ini juga berada di wilayah Dlingo, Bantul.

Rebutan jenazah

Ceritera versi juru kunci makam Sunan Geseng di Tirto, Mochammad Abdurrohim, Ki Cakrajaya mengikuti Sunan Kalijaga sampai ke Demak. Ketika para wali mendirikan masjid Demak, Sunan Kalijaga menyumbangkan sebuah tiang utama yang dibuat dari tatal (sisa-sisa kayu).

Tiang tatal itu terlalu panjang, dan dipotong. Potongannya diberikan kepada Sunan Geseng, untuk dibawa ke kampung halamannya, Bagelen. Ketika Sunan Geseng merasa ilmu agama yang ditimbanya sudah cukup, dia berpamitan kepada Sunan Kalijaga. Dia ingin menyebarkan agama Islam di daerah asalnya.

Sambil memberikan potongan tiang tatal Sunan Kalijaga berpesan kepada Sunan Geseng, “Janganlah kau berhenti berjalan bila membawa potongan tiang tatal ini. Tetapi bila kamu lelah dan terpaksa berhenti, maka di situlah kamu harus mendirikan masjid dan pesantren.”

Dengan memegang teguh pesan sang guru, Geseng berpamitan untuk pulang ke desa asalnya, Bagelen, Purworejo. Namun, ketika sampai di Desa Kleteran, Grabag, karena sangat kelelahan Sunan Geseng berhenti dan meletakkan potongan tiang tatal itu. Dan di desa inilah Sunan Geseng mendirikan sebuah masjid dan pondok pesantren. Sampai kini masjid dan pesantren itu masih ada dengan nama “Pondok Pesantren Sunan Geseng”.

Semasa hidupnya, Sunan Geseng lebih sering berada di desa Tirto, tetangga desa Kleteran yang berada di kaki Gunung Andong. Sehingga, ulama ini oleh sesepuh desa itu, Kyai Wonotirto, dianggap sebagai anaknya.

Masyarakat Desa Tirto juga sangat menghormati Sunan Geseng, sebagai mubaligh yang sangat disegani. Ketika Sunan Geseng wafat di Desa Kleteran, masyarakat Desa Tirto ingin untuk memakamnya di desanya. Tetapi warga Kleteran juga bermaksud sama. Maka terjadilah ‘perebutan’ jenazah Sunan Geseng, karena warga dari dua desa itu sama gigihnya dalam mempertahankan maksudnya.

Dikisahkan, ketika jenazah Sunan Geseng disemayamkan di Kleteran dan dijaga sangat ketat agar tidak diambil orang Tirto, Kyai Wonotirto dengan kesaktiannya merubah dirinya menjadi seekor kucing dan masuk menyelinap ke ruang persemayaman jenazah Sunan Geseng.

Jenazah itu oleh Kyai Wonotirto dicipta menjadi seekor tikus, dan digondolnya. Ketika warga Kleteran mengetahui jenazah itu musnah, kemudian mereka mengejarnya ke Desa Tirto. Ketika warga Kleteran sampai di Desa Tirto jenazah Sunan Geseng sudah selesai dimakamkan.

Pemakamannya disiasati dengan membuat dua makam kembar. Kyai Wonotirto memperbolehkan orang-orang dari Kleteran untuk menggali makam itu, dengan janji hanya memilih salah satu makam yang boleh digali. Bila dalam penggalian itu mereka tidak menemukan jenazah Sunan Geseng, mereka harus rela Sunan Geseng dimakamkan di Desa Tirto.

Dalam penggalian salah satu makam yang dipilihnya mereka tidak menemukan jenazah Sunan Geseng. Warga Kleteran mengakui kekalahannya dan rela jenazah Sunan Geseng dimakamkan di Desa Tirto.

Makam ini ramai diziarahi pada setiap ‘Malam Selikuran’ bulan Ramadhan, seperti pada Malam Selikuran tanggal 20 malam 21 Ramadhan 1440 H atau tanggal 24 malam 25 Mei 2019 M yang lalu.

Tradisi ‘Malam Selikuran’ tahun ini, disamping ziarah kubur, juga diperingati dengan pengajian akbar dalam rangka Haul Simbah Wali Sunan Geseng dengan pembicara KH Miftah Maulana Habiburrohman (Gus Miftah), pengasuh Pondok Pesantren ‘Ora Aji’ Yogyakarta.

Kemeriahan acara ini tampak dengan bazaar puluhan lapak pedagang aneka barang dan makanan di sepanjang jalan desa dan sekitar makam. Makam ini juga banyak peziarah pada hari-hari malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon.ask