Beranda Headline Perusahaan E-Toll Panen Triliunan Duit Rakyat

Perusahaan E-Toll Panen Triliunan Duit Rakyat

14
0
Tol Pandaan-Malang. Foto: Kementerian PUPR

SIAGAINDONESIA.COM Lebaran tahun 2019 menjadi kerugian bagi rakyat Indonesia, terutama bagi pemudik yang melintasi jalan tol. Pasalnya, pemakai jasa kartu tol akan ‘dipaksa’ menaruh uangnya dalam jumlah besar. Ya, perusahaan e-toll card bakal panen uang triliunan.

“Operator tol akan mengantongi triliunan rupiah uang rakyat di kartu tol. Terlepas dipakai atau tidak oleh rakyat, cara ini sebetulnya merugikan rakyat dan memberi keuntungan tersendiri bagi operator. Bunga uang triliunan itu besar sekali,” kata politisi Demokrat, Ferdinand Hutahaean di akun Twitternya, belum lama ini.

Menurut Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, hampir seluruh pintu tol yang digunakan menggunakan uang elektronik atau e-tol l card. Dilihat dari ini, ia pun mengestimasi akan banyak uang rakyat yang mengendap di rekening operator tol.

“Berapa juta pemilik mobil yang akan mengisi e- toll card mereka dengan nilai 500 ribu-1 juta rupiah? Kalikan dengan jutaan masyarakat,” tanya Ferdinand.

“Ini angka yang fantastis dikumpulkan dalam sesaat oleh operator. Uang rakyat mengendap di rekening operator. Ini perampokan yang dilegalkan dengan aturan,” tandasnya.

Senada, Muslich Zainal Asikin, Ketua Majelis Profesi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengungkapkan, “Pemakai kartu tol dipaksa menaruh uangnya di kartu e-toll. Padahal uang tersebut jumlahnya besar. Mereka khawatir saldo gak cukup. Sehingga duit rakyat yang mengendap di kartu jumlahnya sangat besar. Ini memberikan keuntungan pada perusahaan tol dan juga perbankan,” jelasnya.

Dikatakan Muslich, saat ini perusahaan tol seperti bank. Bedanya, tidak ada bunga. Karena tidak ada jasa yang dibayarkan.

“Uang yang mengendap di kartu tidak ada jasanya alias pihak perusahaan tol dan bank mendapat simpanan uang gratisan tanpa jasa apapun. Akumulasinya sangat besar secara keseluruhan, itu belum termasuk resiko kartu e-toll hilang,” terang Muslich yang juga Peneliti Senior Pustral Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Dari uang yang mengendap, lanjut Muslich, masyarakat yang paling dirugikan. Sementara perusahaan tol dan bank seperti mendapat rejeki nomplok.

“Uang yang mengendap tetap milik pemegang kartu. Tidak hilang. Tapi kan merugikan masyarakat. Itu seperti naruh uang di bank tapi gak diberi bunga. Demikian pula bank yang mengeluarkan kartu, mereka dapat rejeki nomplok. Karena tidak ada jasa yang dibayarkan ke penyimpan uang di kartu,” tandasnya.

Muslich juga mengkritisi, semestinya perusahaan tol dan bank membuat kartu dengan “atas nama”. Sehingga uang yang mengendap harus mendapat jasa.

“Dan bila kartu rusak atau hilang maka pemilik kartu tidak akan kehilangan uangnya. Pemerintah dan BPJT (Badan Pengelola Jalan Toll) juga harus memberikan hukuman punishment pada perilaku oknum maupun perusahaan tol yang melakukan pelanggaran malpraktik dalam sistem pembayaran tol, seperti mesin pembayaran yang macet dan akurasi pengurangan saldo yang sering tidak akurat,” demikian Muslich.nya