Beranda oase Tangan Ibu

Tangan Ibu

17
0
Foto ilustrasi.

Cerpen R. Giryadi

SETIAP kali menginjakkan kaki di rumah ibu, hati saya bergetar. Melihat halaman yang tertata rapi dengan berbagai macam bunga dan juga empon-empon yang di tanam di ujung halaman, teras rumah yang bersih dari debu, terasa tintrim; memanjakan mata dan menenangkan batin.

Teras rumah yang masih berubin semen, dengan warna keabu-abuan, menawarkan kesejukan. Di satu sisi teras ada dua sangkar burung perkutut, kesayangan bapak. Meski bapak telah tiada, ibu masih merawat burung itu dengan baik.

“Burung bapakmu kudu dirawat, agar teras rumah tidak sepi,” kata ibu sekian hari dari kepergian bapak. Dan aku merasakan ucapan itu, sebagai ungkapkan cintanya yang tak pernah pudar.

Memasuki rumah, rasanya seperti masuk surga. Semua serba tertata rapi. Meski semua perabotan sudah begitu tua, tetapi tak satupun debu menempelnya. Ubin dari semen, mengkilat, dan terasa dingin.
Belum lagi, masakan ibu, yang bikin cleguken, ingin segera mengecapnya. Baunya selalu menggoda nafsu makan. Ibu memang lihai sekali memasak. Keenakan masakannya melebihi, jargon-jargon iklan di tv. Tak tertandingi. Bila memasak, sayur lodeh, rasa santanya terasa sekali. Santanya bisa meresap ke buah nangka muda, hingga terasa gurihnya. Cita rasanya menjadi sempurna, ketika rasa gurihnya bertemu dengan rasa pedas cabai. Hmm…

Semua itu berkat ibu yang ringan tangan. Rasanya, seisi rumah ini tak ada yang tak pernah tersentuh tangan ibu. Hampir semuanya. Mulai dari tegalan belakang, sampai pagar depan rumah, semua berkat tangan ibu. Ibu memang tak pernah diam. Apalagi setelah pensiun dari pegawai, tangannya seperti menjalar-jalar menggapai seluruh isi rumah yang dianggapnya tidak rapi.

Konsekwensi dari itu, tak ada barang yang berani kami sentuh. Tak ada barang perabotan rumah yang berani kami pindahkan. Semua kami biarkan persis seperti para pertapa, diam dalam ketenangan abadi.
Lebih sempurna lagi, tangan ibu, mampu membersarkan kami berlima. Seperti Kunti, setelah sepeninggalan Pandu, ia nggula wenthah, kelima anaknya itu. Melalui tangannya yang sempurna, kelima anaknya bisa tumbuh besar, meski harus lara lapa di hutan belantara. Kami berlima memang dibesarkan dalam suasana yang serba pas-pasan, meski kedua orang tua kami adalah pegawai negeri.

Namun berkat tangan kesabaran ibulah, semua yang dianggap pas-pasan, terasa berlebih. Hanya tangan ibulah yang selalu menjulur dengan iklas, mengentaskan kami dari kesulitan demi kesulitan.

Ibu selalu menceritakan tentang kisah-kisah pewayangan. Pada suatu malam ketika kami dililit kelaparan, kami berlima diceritakan tentang ketangguhan para Pandawa, ketika mbabat alas, untuk mendirikan kerajaan.

“Ia hanya memakan daun-daunan, demi sebuah cita-cita,” kata ibu, sesaat sebelum kami berlima terlelap, melupakan rasa lapar.

Dan pagi harinya, di meja makan sudah tersedia, kulup daun ketela, dan sambal trasi, nasi putih bercampur nasi jagung. Di sebelahnya ada ikan pindang yang biasa didapat dari pasar mingguan. Tak jarang, kami hanya makan nasi dikepal-kepal dicampur dengan parutan kelapa dan garam.
Tak heran, kalau aku selalu merasa rikuh ketika hendak memegang tangan ibu. Rasanya, tangannya berkilau, membuat mata ini tak bisa menatapnya untuk beberapa lama. Rasanya hati ini gugur, ketika menatap keriput tangan ibu.

Sikapku itu pernah diprotes oleh istriku. “Mengapa sampeyan tak pernah mencium tangan ibu?”
Aku tak menjawab. Toh pada akhirnya istriku tak pernah memaksa meminta jawaban. Lambat laun, ia akan tahu mengapa saya tak pernah mencium tangan ibu.

“Ah…surga kan ada di bawah telapak kaki ibu..?” jawabku bergurau, ketika suatu hari, istriku kembali bertanya, tentang kebiasaanku yang tidak pernah mencium tangan ibu.

Padahal, setiap hari raya, atau saat pertemuan keluarga, ia tahu, semua kakak dan adik-adikku, mencium tangan ibu penuh takjim. Sementara aku, dengan gaya klewas-klewes, menyalami tangan ibu sekedarnya.

Memang pernah aku diperingatkan oleh saudara-saudaraku. Tetapi ibuku, tak pernah menghiraukannya. Bahkan ia malah membelaku; “Wis..biar saja…” katanya, dengan nada ketuaanya yang tulus.

Hatiku lega, ternyata ibu menerima sikapku. Padahal aku berharap ibu memberiku wejangan. Tetapi entah mengapa ia menerima sikapku itu dengan tulus. Hal itu malah membuatku semakin tak berani menyentuh tangan ibu.

Ya, aku tak berani menyentuh tangan ibu. Apalagi menciumnya. Bagiku, tangannya terlalu suci. Di sana kemelimpahan keindahan, cinta, dan kasih sayang tergambar. Bagiku, tangan ibu adalah lorong masa lalu yang begitu gampang mendaras air mata.

Aku tak berani menyentuhnya, tangan ibu laksana pintu yang selalu terbuka lalu menyilahkanku beristirah, melepas kepenatan. Meski rapuh, pintu itu iklas membuka. Iklas menunggu berlama lama, ketukan demi ketukan. Tetapi aku tak berani mengetuknya.

Setiap bertemu ibu, aku tak berani menatap tangannya. Tangannya bercahaya, laksana lorong yang menghantarku berjalan dari gelap ke gelap. Entah mengapa, setiap kali menyentuh tangan ibu, terasa sekali desiran darah ini dan bahkan denyut jantung ini terasa melaju.

Pernah suatu kali aku menyentuhnya dan hendak menciumnya, betapa aku seperti tersedot masuk dalam lorong yang begitu sejuk, tubuhku terasa sekali segar-bugar dan tiba-tiba kepenatan hidup hilang seketika. Lalu dari bilik itu terdengar kidung-kidung yang dirawikan oleh para pejalan yang mampir di surau-surau kecil, sepanjang lorong itu. Perawi juga mendongengkan kisah Rama Parasu, Sangkuriang, Malin Kundang, Sarip Tambak Oso.

Sekali lagi tangan ibu begitu sempurna, untuk sebuah kasih sayang. Dan kasih sayang itu belum bisa saya balas dengan sempurna. Jangankan sempurna, sedikit sempurna saja, rasanya begitu sulit. Tetapi bukankah ibu tak pernah meminta imbalan?

***

Hari ini, kami memang hendak memberi kejutan pada ibu, datang saat ulang tahun ibu. Ini kejutan sekaligus untuk membayar, pulang lebaran yang tertunda. Dan saya berjanji hendak mencium tangan ibu, sebagai hadiah dan baktiku padanya. Itulah janjiku pada istriku.

Aku pandangi teras rumah ibu. Seperti sebuah candi tempat para raja-raja menuju hening. Istriku menggendong, Adam, putraku yang pertama, yang tertidur pulas selama perjalanan. Aku masih terpaku, melihat rumah yang begitu hening.

Istriku meng-glethakan Adam di amben, teras depan, kemudian mengemasi barang yang ada dalam mobil. Kami tak ingin suasana jadi ribut karena kedatangan kami yang mendadak. Kami ingin menjaga ketenangan ini dan bunyi tekukur perkututlah yang membuat suasana hening ini terasa kekal.
Istriku mengurus Adam, yang semakin pulas ketika digletakan di amben, bekas tempat istirahat Kakeknya.

Aku mendorong pintu rumah pelan sekali. Angin dari pintu butulan, menghempas wajahku. Cahaya matahari menelusup dari genting kaca, memantul pada lantai yang mengkilat, menjadikan ruang tamu, bercahaya remang-remang. Dalam rumah terasa hening sekali. Tak biasanya seperti ini. Biasanya, ibu mendengarkan uyon-uyon dari radio transistor yang dibiarkan menyala seharian.

“Ibu..?” ucapku, memecah keheningan.

Aku berjalan menuju dapur yang pintu butulan-nya tidak tertutup. Aku clingukan ke kebun, siapa tahu ibu sedang bersih-bersih kebun. Tetapi, hanya lanjaran-lanjaran kacang dan pohon-pohon singkong yang kudapati.

Di dekat kranji –lemari tempat menaruh makanan- teronggok karung, yang di dalamnya ada kelapa, nangka muda, kacang panjang, terong, gambas, labusiam. Di meja makan dapur, juga sudah siap, sambal kacang, dan jadah yang sedang dijerang di tampah, kecap dan minyak goreng. Sungguh, sebenarnya ibu telah merindukan kepulangan kami.

“Ibu..?” teriakku dengan nada terukur untuk tidak mengejutkan ibu.

Saya membuka pintu kamar ibu. Tak ada. Tetapi, tempat tidur yang biasa tertata rapi terkesan acak-acakan. Istriku masuk dengan menggendong Adam yang terbangun. Di luar suara burung perkutut, bertekukur tak berhenti. Seperti sebuah firasat.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar. Saya dan istri bersegera menghambur ke luar. Dua mobil datang beriringan. Di belakang mobil beberapa sepeda motor mengiringi. Tetangga yang tak jauh dari rumah ibu, juga pada ke luar rumah, dan berjalan menuju ke rumah ibu.

“Oh…nak Ardi ya?” sapa seseorang yang kukenal sebagai RT.

“Ibumu…ibumu..!”

Aku masih tertegun. Beberapa orang mengangkat tubuh ibu, masuk dalam rumah. Beberapa yang lain segera menyiapkan meja besar dan tikar pandan. Ibu terbujur kaku di atasnya.

“Sepertinya ibumu kepayahan. Beberapa hari ini, dia menyiapkan barang bawaan untuk Mas Ardi, kalau sewaktu-waktu datang,” kata tetangga sebelah.

“Untung saja saya pas mau nempil bumbon, pada ibumu. Loh..kok saya tahu ibumu tiduran sambil mengerang kesakitan..”

“Kami segera membawa pergi ke UGD. Tetapi, inilah yang terjadi…Kami tak sempat menghubungi sanak saudara,” kata pak RT yang kemudian memerintahkan para tetangga untuk menata kursi.

Aku menghambur ke tubuh ibu. Aku menahan tangis sekuat tenaga, agar ibu pergi dengan tenang. Aku peluk erat-erat tubuhnya yang dingin. Aku cium tangannya yang bersedekap. Aku mencium sepuasnya. Mencium pintu surga-Nya. Mencium untuk yang pertama dan terakhir.

Dimuat Jawa Pos Minggu, 21 Oktober 2018