Beranda Headline Divonis 1 Tahun Penjara, Ahmad Dhani Ajukan Banding

Divonis 1 Tahun Penjara, Ahmad Dhani Ajukan Banding

9
0
Ahmad Dhani Prasetyo saat menjalani sidang agenda vonis di Pengadilan Negeri Surabaya, (foto: Ad)

SIAGAINDONESIA.COM Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya mejatuhkan hukuman terhadap Ahmad Dhani Prasetyo (ADP) menjadi terdakwa dalam kasus pencemaran nama baik 1 tahun penjara, Selasa (11/6/2019). Pentolan Dewa19 lantas melakukan upaya hukum banding.

Suami Mulan Jameela ini dianggap terbukti secara sah dan mengakibatkan melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan dapat diaksesnya informasi elektronik yang bermuatan pencemaran nama baik, sebagaimana diatur dalam 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 5 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Vonis majelis hakim ini lebih rendah dari tuntutan Kejati Jatim yang sebelumnya menuntut Ahmad Dhani dengan hukuman 1,5 tahun penjara. Ahmad Dhani meminta agar vonis hakim tidak dikaitkan dengan politik.

“Yang mau saya sampaikan ini masalah hukum formal terkait pertimbangan majelis hakim bukan diluar hukum apalagi dihubungkan dengan politik,” kata Ahmad Dhani pada awak media usai pembacaan vonis di ruang sidang Cakra, Selasa (11/6).

Dijelaskan Dhani, ada tiga hal yang menjadi alasannya mengajukan banding. Pertama, majelis hakim yang diketuai R Anton Widyopriyono dianggap telah mengabaikan dan menyembunyikan fakta persidangan terkait keterangan saksi Ahli ITE dari Menkominfo yang dihadirkannya sebagai saksi ahli meringankan.

“Sudah jelas, keterangan Ahli ini disembunyikan oleh hakim. Padahal ahli ini merupakan salah satu pembuat undang undang ITE. Dan berpendapat kasus ini harus ada subjek hukum, yang menjadi korban, orang perorangan, bukan lembaga hukum ataupun apapun. Mengapa harus ada subjek hukum ?, Agar tidak mereka reka, siapa yang dihina,” ungkapnya.

Sementara alasan kedua, masih kata Dhani, adanya pertimbangan yang diajukan majelis hakim terkait pencabutan keterangan dari saksi ahli pidana yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Ahli pidana JPU sendiri berpendapat kalau kasus ini adalah kasus penghinaan ringan, Pasal 315 KUHP. Bahwa menghina itu berbeda dengan menuduhkan sesuatu,” tandasnya.

Sedangkan pada alasan ketiga, Dhani menyebut, jika saksi pelapor dalam kasusnya ini adalah pelaku persekusi padanya saat berada di Hotel Mojopahit Surabaya.

“Ada satu fakta yang disembunyikan, bahwa yang melaporkan saya adalah pelaku persekusi, dan di persidangan sudah dijelaskan mereka adalah pelaku persekusi,” pungkas Dhani.

Sementara Aldwin Rahardian, ketua tim penasehat hukum Ahmad Dhani angkat bicara terkait vonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Menurutnya, banyak fakta persidangan yang diabaikan majelis hakim yang diketuai R Anton Widyopriyono.

“Banyak hal yang diabaikan, banyak pertimbangan atau pun keterangan ahli yang saya kira tanda petik di amputasi yang tidak dijadikan pertimbangan dalam putusan hakim,” ujar Aldwin Rahardian saat memberikan keterangan usai pembacaan vonis diruang sidang Cakra, Selasa (11/6).

Kendati divonis lebih ringan dari tuntutan jaksa, Aldwin mengaku tidak menerima putusan majelis hakim.

“Kami tetap tidak bisa terima, karena fakta fakta hukum yang sudah disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia, bagaimana semua saksi mencabut beberapa keterangan dalam BAP. Itu tidak dijadikan pertimbangan oleh hakim. Bahkan bukan hanya saksi yang mencabut, Ahli dari jaksa pun juga mencabut keteranganya dalam persidangan, tapi tidak satupun menjadi dan dijadikan pertimbangan oleh hakim,” ungkap Aldwin.

Menurut Aldwin, perbuatan Ahmad Dhani bukanlah perbuatan pencemaran nama baik melainkan hanyalah penghinaan ringan, sebagaimana dalam pendapat ahli pidana yang dihadirkan oleh Jaksa dalam persidangan.

“Ini hanya penghinaan ringan, Pasal 315 KUHP. silahkan masyarakat menilai sendiri, bagaimana proses hukum kita berjalan, bagaimana fakta fakta persidangan,bagaimana keterangan keterangan di amputasi,” pungkasnya. Ady