Beranda aneka Kapolres Ngawi : Jangan ‘Under Estimate’ Hadapi Pilkades Serentak

Kapolres Ngawi : Jangan ‘Under Estimate’ Hadapi Pilkades Serentak

254
0

SIAGAINDONESIA.COM – Kurang dari dua pekan lagi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak terhadap 187 desa di Ngawi, Jawa Timur bakal digelar tepatnya 29 Juni 2019. Dalam menghadapi kontestasi politik tingkat desa tersebut polisi pasang kuda-kuda dalam sistem pengamanan nantinya.

 

Kapolres Ngawi AKBP MB. Pranatal Hutajulu saat menggelar kegiatan bertajuk ‘Deklarasi Damai Pilkades Serentak 2019 Kabupaten Ngawi’ menegaskan, pihaknya terus memantau situasi keamanan diwilayah hukumnya. Sesuai instruksi Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Luki Hermawan paparnya, jangan sampai terjadi under estimate dalam menghadapi pilkades serentak.

 

“Kita semua jangan sampai meremehkan situasi yang bakal terjadi terhadap pelaksanaan pilkades serentak istilahnya under estimate atau meremehkan dari situasi itu sendiri. Makanya menjelang pelaksanaan terus kita pantau,” jelas Kapolres Ngawi AKBP MB. Pranatal Hutajulu, Jum’at, (14/06/2019).

 

Ditambahkan, dalam deklarasi yang melibatkan semua unsur baik tokoh masyarakat maupun calon kepala desa untuk menyatukan persepsi dan visi yang intinya siap menggelar pilkades serentak yang aman, damai dan kondusif dan menjunjung demokrasi.  

 

“Semua calon kepala desa dan tokoh masyarakat sepakat untuk menciptakan situasi yang aman dengan tanda tangan diatas matrei. Sehingga nantinya pilkades yang digelar bisa melahirkan pemimpin yang amanah,” ulasnya.

 

Diakui, pada pilkades serentak bakal menerjunkan ribuan petugas baik dari Polri, TNI dan Linmas. Untuk internal kepolisian sendiri terdiri 1.200 petugas ditambah 100 personel Brimob demikian juga 350 anggota TNI dan ditambah sekitar 2.000 petugas Linmas.

 

Hasil dari pemetaan situasi dijelaskan, ada 149 desa masuk klasifikasi kurang rawan plus 31 desa yang dianggap rawan. Pertimbangan desa masuk klasifikasi rawan terdiri banyak faktor seperti sisi geografis, lokasinya jauh dari mako/aparat, pernah terjadi perseteruan internal desa maupun pada pelaksanaan pilkades sebelumnya. (pr)