Beranda budaya Tahun Baru 6421 Jawa Nusantara

Tahun Baru 6421 Jawa Nusantara

161
0

SIAGAINDONESIA.COM Warga penghayat kepercayaan Kejawen ‘Pahoman Sejati’ meyakini Tahun Baru tanggal 1 bulan Badrawarna tahun 6421 menurut perhitungan penanggalan Jawa Nusantara jatuh pada hari Buda Kasih (Rabu Kliwon) tanggal 18 Juni 2019 Masehi.

Tahun Masehi 2019/2020 ini, menurut perhitungan Penanggalan Jawa Respati (Jawa Nusantara) adalah tahun 6421 yang merupakan Tahun Lodra, Windu Sancaya. Tahun Jawa Nisantara ini perhitungannya berdasarkan peredaran matahari.

Tahun 6421 Jawa Nusantara, dalam perhitungan Tahun Petani dengan Pranata Mangsa adalah tahun 19021, tahun 2019 – 2020 Masehi dan Tahun 1952 – 1953 menurut perhitungan Tahun Jawa Sultan Agungan (Tahun Jawa yang berdasarkan peredaran bulan).

Tahun 6421 Jawa Nusantara ini memiliki neptu 4, sifat Angin yang mempunyai watak ‘pangresikan’, ‘kaheningan’, wisesa dayaning alam. Candra tahun ini ‘Eka Tunggal, Kudha ngerap ing pandengan’. (‘Eka Bumi, Lemah ingkang kaideran Segara’). Yang juga memiliki watak ‘Eka Bumi Gumingsir’, yang maknanya ‘Yen ana Ratu jumeneng ing taun iki, supaya tulus panjenengane lan kerta negarane ngaliha Kedhaton’.

Warga Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ‘Pahoman Sejati”, di dusun Wonogiri Kidul Desa Kapuhan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, menyambut dan merayakan Tahun Baru Jawa Nusantara Asli ini dengan melakukan ritual Bhakti Alam ‘Pisungsung Gunung’ di kaki Gunung Merapi dan ‘Larungan Sesaji’ di sungai Pabelan.

Meski dilaksanakan sederhana namun ritual-ritual ini sarat makna spiritual yang terkait dengan hidup dan kehidupan manusia. Ritual Bhakti Alam Pisungsung Gunung dilaksanakan di dusun Windusabrang desa Wonolelo dan Larungan Sesaji di sungai Pabelan, dusun Wonogiri Kidul desa Kapuhan.

Ritual ini selalu dilakukan warga penghayat kepercayaan Kejawen ‘Pahoman Sejati’ dalam menyambut Tahun Baru Jawa Nusantara Asli. Untuk ritual Larungan Sesaji dilaksanakan di tepi sungai Pabelan di pinggir dusun Wonogiri Kidul.

Ritual ini diawali dengan prosesi dari padepokan menuju ke tepian sungai. Ubarampe larungan berupa ‘Tumpeng Wiwit’ dengan nasi bakar dan pakaian-pakaian serta barang-barang usang yang sudah tidak dipakai lagi. Benda-benda tersebut dilarung atau dihanyutkan di sungai Pabelan.

Ritual Larungan ini dimaksudkan untuk membuang ‘sesuker’ (‘kotoran’) atau hal-hal yang jelek dalam diri dan kehidupan manusia. Disamping itu, ritual ini juga bermakna untuk melestarikan agar tetap ingat terhadap ‘sangkan paraning dumadi’, asal usul manusia.

“Karena manusia ada di dunia fana ini lewat ‘jalan air’,” kata Ki Reksajiwa.

Sejak tahun 2006 Ki Reksajiwa terus menggali, melacak dan menelusuri perhitungan penanggalan ‘Jawa Asli Nusantara’ supaya bisa dikenali kembali oleh generasi muda masa kini. Penelusuran dengan dasar Pakem Jawa yang memiliki daya kekuatan lebih. Ini sebagai bukti bila leluhur ‘Orang Jawa’ memiliki perhitungan penanggalan sendiri yang perlu ditelusuri kebenaran dan ketepatan perhitungannya tersebut.

Dalam tulisannya bertajuk “Wahyu Pepadhang Jagad Petung Kalender Jawa Nusantara” diungkapkan, perhitungan Penanggalan Jawa Nusantara ini merupakan karya agung Prabu Ajar Padhang III, raja Medhang Kamulan pada jaman Aji Saka. Tahun Jawa Nusantara ini berdasarkan peredaran matahari (tahun surya).

Ki Reksajiwa menjelaskan, dalam penanggalan Jawa Asli Nusantara penetapan tanggal 1 bulan Badrawarna, tahun Sri, windu Kuntara (tanggal 1, bulan 1, tahun 1, windu 1) pada hari Radhite Kasih atau Ahad Kliwon, yang dalam kalender Masehi jatuh pada tanggal 19 bulan Juni tahun 78 Masehi.

Dalam perhitungan “Petung Pakem Lampahing Jangka” ada empat siklus/perputaran “Tumbuk Ageng”, dimana satu siklus “Tumbuk Ageng” lamanya 1.120 tahun, untuk 4 kali “Tumbuk Ageng” adalah selama 4.480 tahun. Dan awal tahun Jawa Nusantara tersebut (19 Juni 78M) memasuki siklus/perputaran “Tumbuk Ageng” ke empat.

Perhitungan atau “petung” tersebut berdasarkan “Laku jantraning Urip, niteni Laku jantraning Jagad Raya” (Perputaran Hidup, memperhatikan perputaran Alam Semesta). Ilmu Perhitungan Jawa diawali dari ‘hari’ atau “dina” yang berarti “dumadine ana”. Dalam perputaran waktu sehari semalam dibagi menjadi empat bagian yaitu ‘wengi’ atau malam mulai dari terbenamnya matahari sampai tengah malam.

“Lingsir wengi’ lewat tengah malam sampai menjelang pagi. “Awan” mulai terbit matahari sampai tengah hari, dan “sore” dari lewat tengah hari sampai terbenamnya matahari. Dia menjelaskan, dalam ilmu perhitungan penanggalan Jawa awal tahun dimulai pada pertengahan tahun atau bulan ke 6 (enam), yaitu bulan Juni pada kalender internasional atau kalender Masehi.

Dalam perhitungan penanggalan Jawa angka 6 merupakan awal. Hari dimulai pukul 06.00 pagi sampai pukul 06.00 hari berikutnya. Sehingga angka 6 ini menjadi dasar atau pathokan perhitungan penanggalan Jawa. Sedangkan perhitungan hari dengan berpedoman “dinten pitu, pasaran gangsal” (hari tujuh, pasaran lima). Karena Penanggalan Jawa Nusantara ini penanggalan kaum petani, untuk pedoman bagi para petani ada perhitungan ‘Pranata Mangsa’. Dalam perhitungan Penanggalan Jawa Asli Nusantara dalam satu tahun ada 365/366 hari. Sama dengan perhitungan penanggalan tahun Masehi. Bedanya, tahun Jawa memiliki hari pasaran: lima, tahun: delapan, windu: empat, alam dan jaman.

Perhitungan penanggalan Jawa Nusantara Asli ini karena ‘Orang Jawa’ telah mengenal penanggalan sejak 4.403 tahun sebelum Masehi. Sejak jaman Medhang Purwacarita atau jaman Giling Wesi yang merupakan “Jaman Kadewan”. Sedangkan untuk Tahun Pranata Mangsa dalam tahun 2019/2020 ini adalah tahun 19021, karena orang Jawa sudah mengenal ilmu perbintangan sebagai dasar menyusun ‘pranata mangsa’ sejak 17.000 tahun sebelum Masehi.

Perhitungan penanggalan ini berdasarkan peredaran matahari (‘Surya’). Nama-nama bulan dalam Penanggalan Jawa Nusantara adalah: Badrawarna, Asuji, Kartika, Pusa, Manggasri, Sitra, Manggakala, Naya, Palguna, Wisaka, Jita dan Srawana. Nama hari tujuh yaitu: Sukra (Jum’at), Tumpak (Sabtu), Radhite (Minggu/Ahad), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu) dan Respati (Kamis). Hari Pasaran ada lima: Kresna/Kasih (Kliwon), Pethakan, Seta, Arjuna, Manis (Legi), Thinthen, Thansen, Abritan, Markata (Pahing), Bima, Jenean, Gadhing (Pon) dan Kangka, Cemengan, Langking (Wage).

Nama tahun ada delapan, Sri (Alip), Hendra (Ehe), Guru (Jimawal), Yama (Je), Lodra (Dal), Brahma (Be), Kala (Wawu) dan Uma (Jemakir). Nama windu ada empat yaitu: Kuntara, Sancaya, Adi dan Sengara.

Upaya Ki Reksajiwa dalam mencari dan menelusuri Penanggalan Jawa Nusantara ini mendapat tanggapan para ahli penanggalan.

Profesor John A. Titaley, Th. D., Ketua Pusat Studi Agama-Agama Asli Indonesia, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, dalam makalah ‘Menggumuli Hari Pertama Penanggalan Jawa’ yang disampaikan dalam Seminar Penanggalan Jawa di Salatiga, beberapa tahun lalu menjelaskan, mencari tanggal 1 penanggalan Jawa merupakan upaya menelusuri keagungan kebudayaan dan peradaban Jawa.

Dengan demikian diharapkan tata kehidupan sosial dan budaya (suku) bangsa Jawa bisa ditemukan kembali. Penanggalan Jawa yang ditelusuri ini adalah penanggalan sebelum dirubah oleh Raja Mataram, Sultan Agung, pada tahun 1555 Saka, atau tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Kala itu Sultan Agung menetapkan perhitungan penanggalan Jawa yang baru dengan perhitungan berdasarkan peredaran bulan. Sedangkan tahun Jawa Asli (Tahun Saka) perhitungannya berdasarkan peredaran matahari.ASk